
Foto udara kawasan Jatinegara Barat yang tergenang banjir, Jakarta, Rabu (1/1/2020). Banjir tersebut disebabkan karena tingginya intensitas hujan yang mengguyur . (SALMAN TOYIBI / JAWA POS)
JawaPos.com - Saat banjir, semua kotoran di saluran dan lingkungan bercampur menjadi satu dalam genangan. Warga pun harus tetap menembus banjir tersebut dan tanpa alas pelindung kaki ataupun pengaman lainnya. Padahal, bakteri dan kuman penyakit bisa mengintai setelah bencana terjadi. Salah satu ancaman penyakit yang sering menjadi langganan saat banjir adalah leptospirosis. Apa itu?
Leptospirosis merupakan salah satu jenis rodent borne disease yang dapat timbul pada bencana banjir. "Penyakit ini dibawa melalui kencing dan kotoran tikus dalam genangan banjir," ujar Ahli Endoskopi Gastrointenstinal yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr.dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB .
Apa saja gejalanya?
Apabila kita mengalami luka terbuka pada tangan atau kaki atau mukosa mulut, maka air yang sudah tercemar dengan kotoran tikus yang sudah mengandung leptospirosis akan menularkan kita. Pasien dengan leptospirosis datang dengan keluhan demam tinggi mendadak, sakit kepala, mual muntah, lemas, nyeri otot terutuma otot betis, mata merah dan timbul kuning pada mata dan kulit. Buang air kecil berubah seperti air teh.
"Sekilas pasien ini seperti pasien dengan infeksi hepatitis virus,"
Penyakit leptospirosis sangat berbahaya jika penyakit berlanjut dengan berbagai komplikasi antara lain terjadi kerusakan ginjal, peradangan pankreas, liver, paru dan otak.
"Pelindung diri meliputi masker, sarung tangan dan memakai sepatu boot. Hindari luka yang dapat berpotensi masuknya kuman," katanya.
Dalam laman South Australia Health disebutkan diagnosis penyakit ini umumnya sulit tetapi biasanya dilakukan dengan tes darah dan urin. Pada awal penyakit, bakteri Leptospira dapat tumbuh dari darah atau urin, meskipun mereka membutuhkan waktu lama untuk tumbuh.
Masa inkubasi (waktu antara terinfeksi dan mengembangkan gejala) yakni biasanya 10 hari, dengan kisaran 2 hingga 26 hari. Infeksi adalah hasil dari kontak dengan urin hewan yang terinfeksi. Penularan dari orang ke orang tidak terjadi.
Pengobatannya biasanya dilakukan dengan terapi antibiotik yang efektif dan tersedia. Orang dengan penyakit ini secara serius memerlukan rawat inap untuk mendapatkan perawatan akibat komplikasi seperti gagal ginjal.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
