
Ilustrasi: Kemenkes gagal pengadaan lelang antiretroviral (ARV)
JawaPos.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada Desember lalu gagal melaksanakan tender pengadaan antiretroviral (ARV). Kegagalan itu dikhawatirkan memengaruhi stok obat untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Meski demikian, Kemenkes menjamin persediaan ARV masih ada hingga 10 bulan ke depan.
Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Alkes) Kemenkes Engko Sosialine Magdalene mengatakan, pemerintah masih memiliki stok ARV untuk 10 bulan ke depan. Jumlah tersebut bukan hanya untuk ODHA yang sudah menjalani pengobatan. "Setelah kami hitung, ketersediaan ini bisa sampai sepuluh bulan ke depan. Tidak masalah," kata Engko.
Jumlah yang dimaksud merupakan ARV dengan fixed dose combination (FDC) dan ARV lepasan.
Sepanjang 2018, sebanyak 2.135.365 orang mengikuti tes HIV. Dari jumlah tersebut, terdapat 314.413 pasien baru.
Dia menjelaskan, Kemenkes telah mengimpor ARV FDC. FDC terdiri atas tenofovir, lamivudine, dan evafirenz (TLE). Menurut Engko, obat ARV kombinasi jenis TLE masih bisa digunakan hingga empat bulan ke depan. ARV jenis tersebut memang digunakan oleh mayoritas penderita HIV/AIDS di Indonesia.
Kemenkes sebenarnya telah mengupayakan pengadaan ARV TLE. Saat ini 564 ribu botol TLE sedang dikirim. Jika obat itu tiba, stok aman hingga akhir tahun.
Menurut dia, jika hingga Mei ARV FDC TLE tidak tersedia, Kemenkes menyarankan agar ODHA menggunakan ARV lepasan. Tidak ada efek samping terkait penggantian obat tersebut. Asalkan ODHA tetap patuh dalam minum obat. Sesuai data Kemenkes, pengguna FDC LTE saat ini mencapai 43.615 pasien.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indonesia AIDS Coalition (IAC) Aditya Wardhana mengatakan, ARV FDC LTE saat ini langka. Dia khawatir keterbatasan stok obat tersebut bakal mengganggu pengobatan pengidap HIV/AIDS. "Obat ini tidak menyembuhkan, namun dapat menekan jumlah virus HIV dalam tubuh. Sehingga ODHA bisa tetap sehat dan berpeluang hidup lebih lama," ujarnya.
Pengobatan dengan ARV, lanjut dia, merupakan upaya pengendalian infeksi HIV/AIDS di banyak negara. Dengan demikian, epidemik HIV/AIDS mudah dikontrol. Penggunaan ARV secara teratur juga menurunkan stigma bagi ODHA. Sebab, mereka bisa beraktivitas normal seperti pada umumnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
