
GRAFIS: ilustrasi korona dan jantung BAGUS/JAWA POS
JawaPos.com–Virus Covid-19 adalah penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi. Covid-19 yang disertai penyakit penyerta (komorbid) bisa berakibat fatal bagi kesehatan pasien. Itulah alasan kenapa dokter dan para ahli menganjurkan untuk terus disiplin menjalankan protokol kesehatan Covid-19 meskipun vaksin telah hadir.
Spesialis jantung dan pembuluh darah selaku tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam penanganan pasien Covid-19 Erika mengaku, rasa takut terpapar Covid-19 masih ada sampai sekarang. Namun, pengalaman merawat pasien sampai sembuh mengalahkan rasa takut.
”Sebagai dokter spesialis jantung, saya menemukan cukup banyak pasien Covid-19 dengan komorbid jantung dirawat dan kondisi kesehatannya rentan sekali memburuk,” ujar Erika dalam keterangannya, Sabtu (19/12).
Sementara itu, anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Soedjatmiko memaparkan, penyakit itu tidak pandang bulu. Pasien Covid-19 dengan komorbid jantung secara otomatis menciptakan problem tersistematis (systemic problem) yang perawatannya jauh lebih sulit daripada yang tanpa komorbid.
”Yang meninggal 60,4 persen rentang umur 19–59 tahun. Ini umur yang rentan karena mereka aktif di luar rumah dengan berjualan, bermain, dan segala aktivitas lain,” tutur Soedjatmiko.
Tercatat, hingga November, sekitar 160 dokter meninggal dan sekitar 130 perawat atau paramedis juga meninggal. Mereka berjuang untuk mengobati yang terlanjur sakit tadi.
Dia menambahkan, selain protokol Covid-19 tapi harus ditambah dengan vaksinasi yang memiliki cakupan 70 persen. Dengan begitu diharapkan penularan akan terhambat. Jika pandemi melambat, perekonomian pun akan meningkat. Kondisi pandemi akhir-akhir ini cukup sulit untuk dikendalikan sejumlah negara di dunia. Inisiatif melakukan intervensi kesehatan melalui vaksin pun dilakukan.
”Sejak Mei, Tiongkok sudah mulai menyiapkan vaksin, WHO juga memulai langkah sama pada Juni dan di Amerika serta Eropa juga memulai persiapan kandidat vaksin pada Juni-Juli,” jelas Soedjatmiko.
Vaksinasi merupakan langkah yang aman dan umum dilakukan di dunia, termasuk di Indonesia. Indonesia telah melakukan vaksinasi kepada jutaan jiwa sejak 1974 dan terbukti aman. Percepatan penemuan vaksin dengan tetap memperhatikan asas keamanan dan efektivitas sangat diperlukan saat ini.
”Survei ITAGI bersama Kementerian Kesehatan menyebutkan, 64 persen orang Indonesia sudah mau divaksinasi dan 24 persen masih ragu. Yang ragu mudah-mudahan menjadi yakin pada saat vaksin ini diumumkan, agar mau divaksinasi supaya terlindung dari penularan Covid-19, sakit, dan kematian. Sehingga pandemi segera mereda, ekonomi mulai bergerak, dan kehidupan kita membaik,” kata Soedjatmiko.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=8viKE07qMDE

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
