Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Desember 2020 | 04.17 WIB

Ini Bahaya Covid-19 dengan Penyakit Penyerta

GRAFIS: ilustrasi korona dan jantung BAGUS/JAWA POS - Image

GRAFIS: ilustrasi korona dan jantung BAGUS/JAWA POS

JawaPos.com–Virus Covid-19 adalah penyakit dengan tingkat penularan yang sangat tinggi. Covid-19 yang disertai penyakit penyerta (komorbid) bisa berakibat fatal bagi kesehatan pasien. Itulah alasan kenapa dokter dan para ahli menganjurkan untuk terus disiplin menjalankan protokol kesehatan Covid-19 meskipun vaksin telah hadir.

Spesialis jantung dan pembuluh darah selaku tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam penanganan pasien Covid-19 Erika mengaku, rasa takut terpapar Covid-19 masih ada sampai sekarang. Namun, pengalaman merawat pasien sampai sembuh mengalahkan rasa takut.

”Sebagai dokter spesialis jantung, saya menemukan cukup banyak pasien Covid-19 dengan komorbid jantung dirawat dan kondisi kesehatannya rentan sekali memburuk,” ujar Erika dalam keterangannya, Sabtu (19/12).

Sementara itu, anggota Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Soedjatmiko memaparkan, penyakit itu tidak pandang bulu. Pasien Covid-19 dengan komorbid jantung secara otomatis menciptakan problem tersistematis (systemic problem) yang perawatannya jauh lebih sulit daripada yang tanpa komorbid.

”Yang meninggal 60,4 persen rentang umur 19–59 tahun. Ini umur yang rentan karena mereka aktif di luar rumah dengan berjualan, bermain, dan segala aktivitas lain,” tutur Soedjatmiko.

Tercatat, hingga November, sekitar 160 dokter meninggal dan sekitar 130 perawat atau paramedis juga meninggal. Mereka berjuang untuk mengobati yang terlanjur sakit tadi.

Dia menambahkan, selain protokol Covid-19 tapi harus ditambah dengan vaksinasi yang memiliki cakupan 70 persen. Dengan begitu diharapkan penularan akan terhambat. Jika pandemi melambat, perekonomian pun akan meningkat. Kondisi pandemi akhir-akhir ini cukup sulit untuk dikendalikan sejumlah negara di dunia. Inisiatif  melakukan intervensi kesehatan melalui vaksin pun dilakukan.

”Sejak Mei, Tiongkok sudah mulai menyiapkan vaksin, WHO juga memulai langkah sama pada Juni dan di Amerika serta Eropa juga memulai persiapan kandidat vaksin pada Juni-Juli,” jelas Soedjatmiko.

Vaksinasi merupakan langkah yang aman dan umum dilakukan di dunia, termasuk di Indonesia. Indonesia telah melakukan vaksinasi kepada jutaan jiwa sejak 1974 dan terbukti aman. Percepatan penemuan vaksin dengan tetap memperhatikan asas keamanan dan efektivitas sangat diperlukan saat ini.

”Survei ITAGI bersama Kementerian Kesehatan menyebutkan, 64 persen orang Indonesia sudah mau divaksinasi dan 24 persen masih ragu. Yang ragu mudah-mudahan menjadi yakin pada saat vaksin ini diumumkan, agar mau divaksinasi supaya terlindung dari penularan Covid-19, sakit, dan kematian. Sehingga pandemi segera mereda, ekonomi mulai bergerak, dan kehidupan kita membaik,” kata Soedjatmiko.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=8viKE07qMDE

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore