Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 Agustus 2017 | 02.53 WIB

Waspadai Kucing yang Tampak Manis

TANGKIS: Siswa-siswi kelas 1 dan 2 SD Miuhammadiyah 4 Surabaya bersemangat menyanyi dan memeragakan gerakan Tangkis. - Image

TANGKIS: Siswa-siswi kelas 1 dan 2 SD Miuhammadiyah 4 Surabaya bersemangat menyanyi dan memeragakan gerakan Tangkis.

JawaPos.com- ’’Suatu hari, hiduplah ibu burung dan anak burung kutilang yang masih kecil. Keduanya tinggal di sebuah pohon. Karena anaknya lapar, si ibu burung terbang mencari makan. Sebelum berangkat, ia berpesan supaya si anak burung tidak meninggalkan rumah. Terbang ke dahan boleh, tapi nggak boleh jauh-jauh, ya.’’


Narasi Inge Ariani Safitri mengawali road show Tangkis yang diadakan Jawa Pos For Her di SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya. Inge dan Komunitas Kumpul Dongeng yang mengisi acara pagi itu benar-benar bikin seru. Mereka menyampaikan dongeng yang diselipi pesan agar anak menjaga diri dari predator seksual dalam cara yang mudah dipahami anak-anak.


Faradila Mahri memerankan ibu burung, Agil Torresia menjadi si kucing jahat. Nindia Maya memerankan si anak burung. Inge menjadi narator di kisah tersebut. Sebelumnya, Inge mengajak mereka menyanyi dan memperagakan gerakan lucu. Seluruh murid mengikuti gerakan mereka. Lantas, mengalir lah dongeng antara anak burung dan kucing.


Dalam kisah itu, si anak burung tidak menuruti anjuran ibunya. ’’Aku kan bosan. Aku terbang saja, deh,’’ kata si anak burung. Awalnya, pemandangan indah di sekitar pohon membuatnya gembira. Tetapi, karena sayapnya belum kuat, ia kelelahan dan terjatuh. Dia disambut oleh seekor kucing manis. Kucing itu meminta si anak burung yang kelelahan tidur di tubuhnya yang lembut.


Nah, saat si anak burung tidur, barulah kucing itu menampakkan aslinya. Dia mengeluarkan cakar tajam dan menyeringai kepada si anak burung. Para siswi yang menyimak cerita itu ikut panik. Mereka berteriak membangunkan burung kecil. Karena merasa terancam, si anak burung pun berteriak kencang. ’’Tolong! Kucing ini jahat! Tolong!’’ teriak si anak burung.


Teriakan itu didengar ibu burung yang langsung datang. Dia mematuk si kucing. Ibu burung memuji anaknya yang berani berteriak kencang. ’’Nak, tidak semua yang kelihatan baik punya niat baik,’’ jelasnya kepada si burung kecil.


Setelah mendongeng, Inge mengajak para siswi menyebutkan bagian tubuh yang tidak boleh disentuh. Mereka bersahutan menyebutkan. Ada empat bagian tubuh yang dilarang disentuh orang lain. ’’Pertama, mulutku. Kedua, dadaku. Ketika, kemaluan. Keempat, pantatku,’’ ucap mereka sambil menyentuh bagian tubuh yang disebutkan.


Inge juga mengajak empat orang siswi ke depan dan melakukan simulasi. Inge berperan sebagai orang asing yang mencoba mendekati anak. ’’Kita harus menolak. Kalau dipaksa, teriak,’’ jawab Salsabila, siswi kelas IV. Jika masih dipaksa, lari ke tempat ramai. ’’Atau, ke pos satpam!’’ celetuk salah serang siswi yang berada di barisan depan.


Sesi Kumpul Dongeng ditutup dengan nyanyian Anak Berani yang liriknya mengajarkan tentang cara melindungi diri. Katakan tidak bila kau tidak mau. Katakan tidak bila kau tidak suka. Katakan tidak bila berbahaya. Anak pemberani, melindungi diri. ’’Aku suka lagu-lagu sama dongengnya, soalnya seru,’’ kata Amanda Zahra Dea, seorang peserta.


Wakil Kepala Bidang Humas SD Muhammadiyah 4 Surabaya Edi Purnomo menyambut baik diselenggarakannya road show Tangkis. Kegiatan dan nilai-nilai yang disampaikan selaras dengan program sekolah. ’’Sejak awal, kami berkomitmen mewujudkan sekolah ramah anak. Kami menanamkan budaya anti perundungan serta cara bercanda yang sehat dan tidak melanggar area pribadi temannya,’’ paparnya.


Sesi orang tua tidak kalah seru. Para bunda dan ayah (kebanyakan bunda) mendapat sesi sharing dengan Dra Soerjantini Rahaju, MA, psikolog dan dosen psikologi Universitas Surabaya (Ubaya). Ninuk –sapaan Soerjantini Rahaju– mengajak orang tua untuk memperhatikan hal-hal sepele yang ternyata berpengaruh besar bagi anak. Terutama dalam hal pencegahan kekerasan seksual.


’’Kekerasan seksual bukan hanya kasus berat seperti pemerkosaan. Tetapi, juga sentuhan kecil yang dilakukan kepada anak tanpa kehendaknya,’’ kata Ninuk. Kekerasan seksual umumnya terjadi secara bertahap. Mulai sentuhan ringan di bagian-bagian tubuh yang ’’netral’’ hingga lama-lama menjurus.


Dia pun mengimbau bunda dan ayah untuk memperhatikan hal-hal kecil yang dilakukan sehari-hari. Misalnya, saat memandikan si kecil, ke toilet, hingga mengekspresikan rasa sayang. Misalnya, mencium pipi dan memeluk anak. ’’Tegaskan kepada anak, yang boleh peluk-peluk hanya ayah, atau bunda. Nenek dan kakek boleh. Orang lain... sebaiknya tidak karena anak akan terbiasa,’’ kata Ninuk.


Karena seru, para bunda tidak menyia-nyiakan sesi tanya jawab. Ada yang menanyakan kapan sebaiknya orang tua berhenti menemani anak tidur, atau yang dalam bahasa Jawa ngeloni. Ninuk menjelaskan, orang tua wajib mengantar anak tidur. Lebih baik lagi diiringi dongeng. Namun, tidak perlu memberikan sentuhan yang bisa menyebabkan anak ketagihan. Misalnya, mengelus-elus atau menepuk-nepuk badan.


Ada lagi seorang bunda yang resah karena anak temannya suka melecehkan buah hatinya. Ketika si ibu diberi tahu, reaksinya malah tertawa. ’’Ya memang harus tegas. Katakan bahwa anakmu mengganggu anak lain,’’ kata Ninuk. ’’Tapi, di balik sikapnya yang seolah tidak peduli, kok tampaknya ada masalah lain. Coba dipancing, diajak ngobrol. Siapa tahu bisa dicarikan solusi secara bersama,’’ tuturnya. (fam/adn/na)

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore