
Telle report
JawaPos.com - Belakangan ini sejumlah ahli di tanah air menyebut salah satu bentuk mutasi virus Korona jenis baru yakni D614G. Diduga mutasi jenis ini salah satunya terdapat di Jakarta dan Surabaya. Sejumlah ahli sedang menelaah kemungkinan tingkat keparahan pasien yang terjadi di Jakarta dan Surabaya dengan mutasi virus tersebut.
Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Airlangga Prof. Dr. C. A. Nidom, drh., MS dari Nidom Foundation menjelaskan, mutasi D614G (aspartat/D diganti glisin/G, pada nomer 614), yang diduga menyebabkan Covid-19 ini menular lebih cepat. Mutasi ini telah ditemukan sebanyak 57,5 persen (23/40 kasus) pada Covid-19 Indonesia.
"Apakah berarti virus COVID-19 di Indonesia lebih cepat penularannya? Terlepas masih butuh kajian yang mendalam, perlu antisipasi secara saksama dengan kebijakan yang tepat," kata Prof Nidom kepada JawaPos.com dalam keterangan tertulis baru-baru ini.
Dia mengupasnya dalam Publikasi Internasional dengan judul 'Investigation of the D614G Mutation and Antibody-Dependent Enhancement Sequences in Indonesia SARS-CoV-2 Isolates and Comparasion to South Asian Isolates' (Sys Rev Pharm 2020:11(8):203-213). Prof Nidom menyebutkan berapa negara ASEAN juga memiliki isolat dengan struktur D614G tersebut.
Urutan/motif ADE (antibody-dependent Enhancement), juga ditemukan pada Covid-19, sama seperti pada virus MERS, SARS, HIV, Dengue, Ebola dan Zika. Adanya motif ADE ini menyebabkan antibodi tidak efektif menetralisir virus yang dituju.
Adanya motif ADE, diduga akan mengubah afinitas ikatan virus-antibodi menuju FcRγ, suatu reseptor lain pada sel monosit-makrofag, yang akhirnya Covid-19 tetap bisa masuk ke dalam sel-sel dan tetap berkembang di dalam tubuh inang. ADE menjadi titik kritis dalam disain dan pengembangan vaksin.
Studi terdahulu terhadap kandidiat vaksin Dengue (DENV) memberikan gambaran bahwa ADE dapat memicu tingkat keparahan penyakit pasca vaksinasi. ADE diketahui berkontribusi
terhadap kemunculan sindroma badai sitokin pada kasus MERS dan SARS.
"Terlebih munculnya mutasi D614G pada motif ADE ini, perlu mendapat perhatian dan kajian secara seksama. Akhirnya, kajian/studi karakter Covid-19 dalam mendampingi kebijakan
pengendalian pandemi ini, perlu dipertimbangkan mengingat karakter dan cara meliuk virus Korona jenis baru yang 'cerdik' ini," tegasnya.
Sebelumnya fakta baru ini sempat diungkap oleh ahli biomolekuler Universitas Airlangga dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih yang menemukan karakter mutasi yang mirip D164G. Karakter ini ditemukan di Jawa Timur, Jawa Barat, Surabaya hingga Jakarta. Sebelumnya dr. Ni Nyoman saat webinar internasional bertajuk 'Ending Pandemics Covid-19: Effort and Challenge', mengutip peta mutasi virus dari analisis jurnal Bette Kober per 20 Agustus.
Beberapa waktu lalu Malaysia mengumumkan telah menemukan mutasi virus corona D164G. Nyoman mengatakan, mutasi virus Korona banyak ditemukan di Eropa. Studi dr. Korber memberikan hasil bahwa D164G, strain dominan SARS-CoV-2 tampaknya 10 kali lipat lebih menular daripada virus di Wuhan.
Menanggapi temuan mutasi ini, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Soebandrio menjelaskan mengenai mutasi D614G, apakah mengambat vaksin, memperberat penyakit. Singkat cerita, kata dia, mutasi pertama kali ditemukan di Jerman pada Januari lalu. Februari bertambah jadi 2 mutasi. Tapi Maret menjadi 1300 dan saat ini 70 persen dari isolat (bibit mikroorganisme) yang dilaporkan mengandung mutasi tersebut.
"Itu memang dicurigai jadi penyebaran yang cepat. Kareba dari lab diinformasikan dia (mutasi virus) menginfeksi lebih cepat," kata Prof Amin.
Meski begitu dia menegaskan hal itu belum terbukti secara ilmiah. "Tapi itu belum terbukti secara ilmiah dari satu orang menyebarkan ke banyak orang. Jadi belum terbukti sahih," tuturnya.
Prof Amin menambahkan belum ada bukti keberadaan virus itu menyebabkan infeksi menjadi berat atau sulit diobati. Karena ada data pasien terinfeksi dengan mutasi tadi, memang jumlah virus yang ditemukan di tenggorokannya lebih tinggi.
"Tapi vaksin tak terganggu mutasi tersebut. Jadi kalo ada isu di luar mutasi di Indonesia sudah banyak meski ada 8 dari 22, kami antisipasi akan ada banyak ke depannya," tuturnya.
Prof Amin menegaskan mutasi virus tak memengaruhi pengembangan vaksin atau obat. "Tapi lebih banyak ke epidemiologi molekuler. Ini tak mempengaruhi pengobatan, vaksin, dan protokol kesehatan," jelasnya.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=5eAQEJeFAEg

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
