alexametrics

Sakiti Diri untuk Lampiaskan Emosi, Trauma Masa Kecil Picu Self-harm

10 September 2019, 19:48:16 WIB

JawaPos.com – Perilaku self-harm atau menyakiti diri sendiri pada remaja merupakan masalah kesehatan mental yang serius. Dokter spesialis kesehatan jiwa di RSUD dr Soetomo Dr dr Yunias Setiawati SpKJ (K) mengungkapkan, dalam seminggu rata-rata dia menerima sekitar 10 pasien remaja. Mereka datang dalam keadaan sudah menggores tangan sendiri (self-cutting). Selain itu, ada yang datang setelah mencakar dan membenturkan diri ke tembok.

Dokter Yunias menguraikan, remaja yang melakukan self-harm tersebut berusia 13–15 tahun. Ada pula kelompok usia dewasa awal, yaitu sekitar 19 tahun. ”Ada yang dibawa ke saya oleh orang tuanya atau temannya,” papar Yunias dalam workshop Surabaya Suicide Update 2019 di FK Universitas Airlangga.

Di antara pasien yang berkonsultasi kepadanya, proporsi perempuan lebih banyak jika dibandingkan dengan laki-laki. Dokter Yunias menerangkan, hal tersebut, antara lain, dipengaruhi faktor psikologis perempuan yang lebih sering emosional. ”Mereka melakukan itu bukan untuk bunuh diri, tetapi untuk melampiaskan emosi,” kata Yunias.

Dia menjelaskan, perilaku self-harm muncul dengan depresi dan kecemasan. Kondisi itu diawali berbagai hal. Yang paling sering adalah trauma masa anak-anak. ”Misalnya, terjadi karena dari kecil dimarah-marahi oleh orang tua,” jelas dia.

Hal tersebut akan menimbulkan kecemasan pada anak. Kemudian, anak mulai sering menarik diri dan menyendiri. ”Jika sudah begitu, remaja bisa melakukan self-harm agar orang lain tahu bahwa dirinya sakit. Sebab, mereka tidak bisa menceritakan dengan kata-kata,” papar Yunias.

Pemicu lain remaja melakukan self-harm adalah orang tua yang sering melakukan labeling. ”Misalnya, mengecap anak bodoh atau malas,” tuturnya. Apalagi bila si anak dibanding-bandingkan dengan anak yang lain. ”Kebanyakan orang tua sering berkata pada anak, itu lho si A pintar, itu lho si B rajin, atau yang lainnya. Hal itu akan membuat anak merasa orang tuanya lebih care pada orang lain,” paparnya.

Selain itu, kecemasan remaja bisa muncul karena orang tua mengabaikan anaknya dalam urusan tertentu. ”Misalnya, ketika para remaja tidak dilibatkan dalam urusan orang tua dan malah berkata ’Kamu anak kecil tahu apa?’,” kata Yunias. Atau bisa juga terjadi karena faktor keluarga yang kurang harmonis.

Nah, yang akhir-akhir ini muncul adalah self-harm yang dipicu depresi lantaran penggunaan media sosial. ”Biasanya juga sering terjadi pada remaja perempuan. Mereka depresi karena membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain di dunia maya,” ucap Yunias.

Jika sudah mengetahui anak melakukan self-harm, orang tua harus segera memberikan bantuan untuk meredakan depresi. Yunias memberikan saran agar tidak ragu mengajak remaja berbicara untuk mengungkapkan perasaannya. ”Saling berbicara adalah kunci untuk meredakan emosi. Ini yang sering tidak disadari para orang tua. Mereka kadang lupa mengajak bicara anaknya,” tuturnya.

Jika hal tersebut tidak membantu mengurangi depresi pada remaja, jalan selanjutnya adalah membawa ke psikiater atau psikolog. Pastikan mereka menghadiri semua sesi terapi atau mengonsumsi obat yang diberikan. ”Terapi adalah cara yang sangat efektif, tetapi hasilnya tidak instan. Penting bagi orang tua selalu memberikan dukungan kepada anaknya,” kata dia.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : ika/c6/nor

Close Ads