
Seseorang yang mengalami nyeri pada kaki (dok. freepik)
JawaPos.com - Pernah merasakan nyeri di sisi luar kaki yang membuat berjalan menjadi menyiksa, tetapi sulit menemukan penyebabnya? Bisa jadi itu adalah cuboid syndrome, cedera tersembunyi yang kerap luput dari diagnosis meski menimbulkan rasa sakit hebat dan membatasi aktivitas.
Dilansir dari Medical News Today, cuboid syndrome adalah kondisi ketika tulang cuboid di tengah kaki bergeser sebagian dari posisi normalnya atau mengalami subluksasi pada sendi midtarsal. Tulang cuboid sendiri merupakan salah satu dari tujuh tulang tarsal yang berperan penting menjaga keseimbangan dan pergerakan kaki.
Perpindahan tulang ini biasanya terjadi karena cedera mendadak atau penggunaan sendi kaki secara berlebihan. Hasilnya, penderitanya merasakan nyeri di sisi luar kaki, tepat di sekitar pangkal jari keempat dan kelima.
Kondisi ini sering disalahartikan sebagai patah tulang stres (stress fracture), padahal fraktur pada tulang cuboid tergolong jarang. Kompleksitas anatomi kaki juga membuat cuboid syndrome sulit didiagnosis secara tepat.
Cuboid syndrome bukan masalah langka, tetapi paling sering menyerang pelari jarak jauh, pesenam, penari, dan atlet yang melakukan gerakan menahan beban berat pada kaki. Dengan penanganan medis yang tepat, kebanyakan penderita dapat pulih sepenuhnya.
Gejala dan Penyebab Cuboid Syndrome
Gejala utama cuboid syndrome adalah nyeri di sisi luar kaki yang dapat muncul tiba-tiba atau berkembang perlahan. Nyeri dapat terasa tumpul, nyeri tajam, bahkan disertai pembengkakan. Penderitanya sering mengalami kesulitan berjalan, melompat, mengangkat tumit, atau menapakkan ujung jari. Rentang gerak kaki dan pergelangan pun bisa menurun, kadang disertai sensitivitas pada telapak kaki dan nyeri yang menjalar ke pergelangan luar.
Penyebab cuboid syndrome sangat beragam. Penggunaan kaki secara berlebihan adalah pemicu paling umum, terutama pada pelari dan penari yang kerap beraktivitas intens tanpa istirahat cukup. Cedera pergelangan kaki yang terkilir ke arah dalam (inversion sprain) juga dapat memicu tulang cuboid bergeser.
Orang dengan kaki pronasi, yaitu telapak kaki yang cenderung miring ke dalam saat berjalan, lebih rentan mengalami kondisi ini. Otot betis yang kencang juga dapat menarik tulang cuboid keluar dari posisinya. Faktor lain yang memicu antara lain olahraga dengan gerakan cepat menyamping seperti tenis, menaiki tangga, memakai sepatu tidak sesuai, berlatih di permukaan tidak rata, dan kurangnya waktu pemulihan setelah aktivitas berat.
Mereka yang memiliki berat badan berlebih pun berisiko lebih tinggi karena tekanan ekstra pada tulang kaki meningkatkan kemungkinan terjadinya cuboid syndrome.
Diagnosis dan Perawatan Cuboid Syndrome
Struktur kaki yang kompleks (terdiri dari sekitar 28 tulang, 30 sendi, dan 100 otot, ligamen, serta tendon) membuat diagnosis cuboid syndrome menantang. Pemeriksaan seperti X-ray atau MRI sering kali tidak menunjukkan kelainan meski kondisi ini ada. Gejalanya pun bisa menyerupai masalah kaki lain seperti heel spur atau fraktur stres.
Untuk diagnosis yang tepat, dokter akan meninjau riwayat medis dan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh. Tujuannya untuk memastikan penyebab nyeri dan menentukan metode pengobatan terbaik.
Penanganan awal cuboid syndrome meliputi istirahat dan mengurangi aktivitas yang memberi beban pada kaki. Terapi RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) biasanya dianjurkan sebagai langkah pertama.
Jika nyeri tidak mereda, fisioterapis dapat melakukan manipulasi khusus seperti “cuboid whip” atau “cuboid squeeze” untuk mengembalikan posisi tulang. Prosedur ini dilakukan dengan gerakan cepat dan tekanan tepat pada tulang cuboid, kadang menimbulkan bunyi “pop” ketika tulang kembali ke tempatnya. Namun manipulasi tidak disarankan bagi penderita kondisi lain seperti arthritis, patah tulang, gangguan sirkulasi, atau penyakit tulang.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
