Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 September 2025 | 12.40 WIB

Jangan Anggap Sepele! Mikroplastik dalam Makanan Bisa Memicu Banyak Penyakit, Begini Cara Menguranginya

Ilustrasi perempuan sedang membawa botol plastik bekas (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi perempuan sedang membawa botol plastik bekas (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Mikroplastik kini menjadi ancaman tersembunyi yang sulit dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar plastik di dunia digunakan untuk kemasan makanan dan minuman. Namun, seiring pemakaian, plastik dapat terurai menjadi potongan kecil yang disebut mikroplastik. Partikel ini bisa masuk ke dalam makanan dan menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang.

Sumber dan Jenis Mikroplastik dalam Makanan

Melansir dari PubMed Central, produksi plastik global mencapai ratusan juta ton per tahun, dengan sekitar 60% di antaranya dipakai untuk kemasan pangan. Panas, penyimpanan lama, dan jenis plastik yang digunakan dapat mempercepat pecahnya plastik menjadi mikroplastik yang kemudian berpindah ke makanan. Botol air sekali pakai, wadah makanan siap saji, kaleng, dan pembungkus plastik adalah contoh umum sumber mikroplastik.

Melansir dari Medical News Today, mikroplastik dapat berasal dari bahan kimia yang sengaja ditambahkan, seperti stabilizer dan pelunak, maupun dari residu atau kotoran yang muncul sebagai produk sampingan. Beberapa jenis mikroplastik yang sering ditemukan antara lain:

  • Bisphenol A (BPA): Digunakan untuk membuat plastik polyvinyl chloride.
  • Dioxin: Hasil sampingan dari pestisida dan pemutihan kertas yang mencemari lingkungan.
  • Phthalates: Membuat plastik lebih lentur dan transparan, banyak ditemukan dalam kemasan makanan.
  • Polyethylene dan Polypropylene: Plastik ringan dan tahan lama yang umum dijumpai pada kemasan.

Paparan panas dan penyimpanan dalam waktu lama membuat bahan kimia ini lebih mudah berpindah ke makanan, terutama dari kemasan plastik sekali pakai atau botol minum plastik.

Dampak Mikroplastik bagi Kesehatan

Mikroplastik membawa berbagai bahan kimia berbahaya yang dapat mengganggu fungsi hormon tubuh. Sedikitnya 15 bahan kimia dalam kemasan plastik diketahui sebagai pengganggu endokrin, yang meniru hormon alami seperti estrogen, testosteron, dan insulin. Paparan BPA, misalnya, dikaitkan dengan masalah kesuburan dan sindrom ovarium polikistik.

Penelitian juga menunjukkan paparan jangka panjang terhadap mikroplastik dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung. Zat seperti dioxin dan phthalates menimbulkan peradangan, resistensi insulin, hingga obesitas. Bahkan, beberapa penelitian menilai dampaknya sebanding dengan pola makan tidak sehat.

Tak hanya itu, mikroplastik dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Paparan berulang memicu peradangan usus, menimbulkan ketidakseimbangan mikrobiota, dan memungkinkan pertumbuhan bakteri jahat. Kondisi ini dikaitkan dengan risiko penyakit seperti Parkinson. Permukaan mikroplastik juga bisa menjadi tempat menempelnya bakteri berbahaya yang mengancam kesehatan.

Tingkat Paparan Sehari-hari

Tingkat paparan mikroplastik lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Studi menunjukkan orang dewasa di Amerika Serikat rata-rata menelan lebih dari 50.000 partikel mikroplastik per tahun hanya dari makanan. Bagi mereka yang rutin minum air kemasan plastik, jumlah ini bisa mencapai 90.000 partikel, dan sekitar 120.000 bila termasuk mikroplastik yang terhirup dari udara.

Penelitian pada 2019 menemukan sekitar 20 partikel mikroplastik dalam setiap 10 gram sampel tinja manusia. Fakta ini menunjukkan bahwa mikroplastik sudah menjadi bagian tak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui makanan, minuman, maupun udara.

Cara Mengurangi Paparan Mikroplastik

Meskipun sulit dihilangkan sepenuhnya, Anda dapat menurunkan risiko dengan beberapa langkah sederhana:

  • Batasi makanan ultra-proses. Burger, makanan kaleng, minuman bersoda, es krim, dan makanan cepat saji sering dikaitkan dengan kadar phthalates yang lebih tinggi dalam tubuh. Pilih makanan segar dan minim proses agar lebih aman.
  • Gunakan kemasan ramah lingkungan. Beralih ke wadah kaca, botol stainless steel, kotak makan bambu, atau toples sekam padi membantu mengurangi perpindahan mikroplastik ke makanan.
  • Ganti botol plastik. Paparan mikroplastik 2-3 kali lebih tinggi pada orang yang mengandalkan botol plastik sekali pakai. Gunakan botol minum kaca atau stainless steel agar lebih sehat.

Mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai tidak hanya baik untuk kesehatan, tetapi juga membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Dengan kesadaran akan bahaya mikroplastik, kita bisa mengambil langkah sederhana untuk melindungi kesehatan jangka panjang. Mengutamakan makanan utuh, memilih kemasan ramah lingkungan, dan menghindari botol plastik adalah cara efektif untuk meminimalkan risiko dari partikel berbahaya ini.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore