Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Mei 2025 | 21.22 WIB

Psikiater Ungkap Semakin Banyak Kasus Bipolar dan Skizofrenia Diidap Anak-anak, Kepatuhan dan Kepedulian Pengobatan Penting

Iustrasi seseorang dengan Skizofrenia. (Health) - Image

Iustrasi seseorang dengan Skizofrenia. (Health)

JawaPos.com - Gangguan Bipolar (GB) dan Skizofrenia kini tidak lagi hanya dialami orang dewasa. Psikiater menyebutkan bahwa semakin banyak anak dan remaja di Indonesia yang menunjukkan gejala dua gangguan mental berat ini. Sayangnya, kesadaran masyarakat masih rendah dan kepatuhan terhadap pengobatan juga menjadi tantangan besar.

“Kasus gangguan mental seperti Bipolar dan Skizofrenia yang dulunya dianggap khas orang dewasa, kini justru semakin banyak ditemukan pada anak-anak dan remaja,” ungkap Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ, SubSp A.R. (K), MIMH, Guru Besar Psikiatri Anak dan Remaja FKUI-RSCM.

Ia menekankan bahwa banyak kasus muncul di usia muda dan kerap tidak terdiagnosis karena minimnya kesadaran atau kesalahan tafsir gejala sebagai perilaku remaja biasa.

Padahal jika dibiarkan tanpa penanganan, gangguan ini dapat mengganggu perkembangan, pendidikan, hingga hubungan sosial anak dan remaja.

Prof. Tjhin menjelaskan bahwa gangguan Bipolar ditandai oleh perubahan emosi ekstrem antara mania dan depresi, sementara Skizofrenia ditandai oleh gangguan proses pikir seperti halusinasi, delusi, atau ucapan kacau.

“Diagnosis dini sangat penting, tapi sering kali tertunda karena gejalanya tumpang tindih dengan gangguan lain seperti ADHD atau autisme," ucapnya. 

"Selain itu, anak-anak belum tentu mampu menjelaskan perasaannya, dan orang tua sering kali menyangkal karena masih menganggap gangguan mental sebagai hal yang tabu,” sambung Prof. Tjhin.

Terkait proses penyembuhan, Prof. Tjhin menekankan pentingnya kepatuhan (compliance) dalam pengobatan. Menurutnya, anak dan remaja yang patuh berobat cenderung memiliki kualitas hidup lebih baik, jarang kambuh, serta bisa menjalani pendidikan dan pergaulan dengan lebih stabil.

“Namun, banyak yang takut terhadap stigma, tidak paham soal gangguan jiwa, atau khawatir terhadap efek obat jangka panjang,” ungkapnya.

Selain kepatuhan, kepedulian dari lingkungan juga tak kalah penting. Keluarga sebagai support system harus mau belajar, terlibat dalam perawatan, dan jadi pengingat untuk minum obat serta menjalani terapi psikososial.

“Dukungan lingkungan sangat berpengaruh dalam menstabilkan emosi dan mengurangi isolasi sosial anak,” imbuhnya.

Sementara itu, Hanadi Setiarto, Country Group Head Wellesta CPI, menekankan bahwa gangguan seperti GB dan Skizofrenia bisa berdampak besar jika tidak ditangani serius.

“Kondisi ini bisa menurunkan kualitas hidup, meningkatkan risiko kematian dini, dan bahkan memicu gangguan fisik seperti penyakit jantung, metabolik, atau infeksi,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya menggandeng Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendorong masyarakat agar memahami gejala awal serta tahu ke mana harus mencari bantuan.

Kolaborasi ini diharapkan bisa membentuk pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya diagnosis dan pengobatan sejak dini, serta peran aktif keluarga dan masyarakat dalam mendampingi pasien anak dan remaja yang hidup dengan gangguan mental berat seperti GB dan Skizofrenia.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore