
Kurangnya edukasi jadi tantangan besar ortopedi dalam cegah penyakit tulang
JawaPos.com – Masalah kesehatan tulang semakin menjadi perhatian serius di kalangan medis, khususnya bagi para dokter ortopedi.
Tantangan terbesar yang dihadapi bukan hanya dalam penanganan cedera atau penyakit tulang, tetapi justru pada upaya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan tulang sejak dini.
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia WHO, lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia menderita osteoporosis, dengan mayoritas tidak menyadari kondisi mereka hingga mengalami patah tulang.
Edukasi tentang kesehatan tulang masih sangat minim di tingkat masyarakat umum, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
“Sebagian besar pasien datang dengan kondisi tulang yang sudah rapuh atau cedera yang terlambat ditangani, karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang gejala dan pencegahan penyakit tulang,” ujar dr. Andhika Prasetya, Sp.OT, dalam podcast FKKMK UGM Official.
Penelitian terbaru dari Journal of Bone and Mineral Research juga mengungkapkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kalsium, vitamin D, serta olahraga yang menunjang kesehatan tulang masih rendah.
“Faktor risiko seperti postur tubuh buruk akibat penggunaan gadget berlebihan, duduk terlalu lama, serta tidak aktif bergerak menjadi penyebab awal gangguan muskuloskeletal di usia muda,” ujar dr. Andhika, Spesialis Bedah Orthopaedi dan Traumatologi.
Banyak orang menganggap gangguan tulang hanya terjadi pada usia lanjut, padahal kualitas tulang dibentuk sejak masa anak-anak hingga usia 30-an.
Di sisi lain, gaya hidup modern yang serba instan turut memperburuk situasi. Konsumsi makanan cepat saji yang rendah nutrisi, kurang paparan sinar matahari, serta aktivitas fisik yang minim turut menjadi faktor risiko penurunan kualitas tulang.
“Duduk lama dan beban berat dapat menyebabkan kerusakan pada tulang belakang, seperti HNP atau saraf terjepit. Aktivitas fisik yang kurang dan posisi duduk yang buruk memperburuk kondisi ini,” tambah dr. Andhika.
Pemerintah dan institusi kesehatan disarankan untuk memperkuat edukasi kesehatan tulang melalui kurikulum sekolah, media sosial, serta layanan primer kesehatan.
Edukasi tidak hanya penting bagi lansia, tetapi juga remaja dan orang tua muda agar generasi berikutnya tumbuh dengan struktur tulang yang optimal.
Upaya edukatif seperti pemeriksaan tulang gratis, kampanye konsumsi susu dan makanan kaya kalsium, serta promosi senam tulang perlu terus digencarkan.
Tak kalah penting, edukasi tentang ergonomi kerja dan posisi duduk yang benar juga harus menjadi bagian dari kebiasaan hidup masyarakat.
Mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kesehatan tulang menjadi tantangan utama dalam dunia ortopedi.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
