Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 10 Mei 2025 | 16.54 WIB

Genetik vs Gizi: Kunci Tinggi Badan Maksimal Anak Ada di Kombinasinya!

Genetik dan gizi jadi penentu tinggi badan anak. (Pexels) - Image

Genetik dan gizi jadi penentu tinggi badan anak. (Pexels)

JawaPos.com – Tinggi badan anak kerap menjadi perhatian banyak orang tua. Tak sedikit yang merasa cemas jika anak tidak setinggi teman-teman sebayanya.

Faktor genetik menjadi penentu utama tinggi badan anak, terutama setelah usia dua tahun. Pentingnya memahami bahwa tinggi badan di Indonesia berbeda dengan negara lain seperti Belanda.

Padahal, para ahli menyebut bahwa faktor genetik merupakan penentu utama dalam pertumbuhan tinggi badan anak.

Melansir dari berbagai sumber medis terbaru, genetik menyumbang sekitar 70–80 persen dalam menentukan tinggi badan seseorang.

Sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor nutrisi, pola tidur, kesehatan, serta aktivitas fisik anak.

Penelitian skala besar yang dipublikasikan oleh konsorsium GIANT atau Genetic Investigation of Anthropometric Traits menunjukkan bahwa lebih dari 700 varian genetik berperan dalam pengaturan tinggi badan.

Temuan ini didasarkan pada studi terhadap ratusan ribu individu dari berbagai belahan dunia.

Tak hanya itu, sebuah studi dari Medical News Today juga menyebutkan bahwa gen tertentu memiliki peran spesifik dalam memengaruhi pertumbuhan tulang, hormon pertumbuhan, dan metabolisme tubuh yang berkaitan langsung dengan tinggi badan.

Meski genetik dominan, faktor lingkungan dan perawatan sejak dini tetap penting. Asupan gizi yang cukup selama masa pertumbuhan, terutama di 1000 hari pertama kehidupan, sangat berpengaruh. Kalsium, vitamin D, protein, dan zinc menjadi nutrisi penting yang harus dipenuhi.

Melansir dari Youtube FKKMK UGM Official @FKKMKUGMOfficial pada Kamis, 08 Mei 2025 tentang kesehatan fisik, mental, dan sosial anak.

"Tidur yang berkualitas sangat penting untuk pertumbuhan anak. Hormon pertumbuhan akan aktif saat anak tidur nyenyak, mempengaruhi tinggi badan di masa depan," jelas Prof. dr. Mei Neni Sitaresmi, Sp.A(K), Ph.D.

Pola tidur juga tak kalah penting, hormon pertumbuhan dilepaskan paling aktif saat anak tidur nyenyak di malam hari.

Kurangnya tidur bisa mempengaruhi produksi hormon ini, yang kemudian berdampak pada pertumbuhan tinggi badan.

Dalam praktiknya, dokter anak biasanya memperkirakan potensi tinggi badan anak dengan rumus dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).

Rumus ini memperhitungkan tinggi kedua orang tua, yang disebut dengan tinggi potensi genetik (TPG).

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore