Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 April 2025 | 15.10 WIB

Mengenal Gangguan Motorik: Penyebab dan Cara Mengatasinya

Orang dengan gangguan motorik umumnya mengalami kesulitan dalam aktivitas gerak, seperti menulis. (freepik) - Image

Orang dengan gangguan motorik umumnya mengalami kesulitan dalam aktivitas gerak, seperti menulis. (freepik)

JawaPos.com - Bayangkan seorang anak yang kesulitan mengancingkan baju, mengayuh sepeda, atau menulis di buku catatan sekolah. Hal-hal yang bagi banyak anak terasa wajar, bisa jadi tantangan besar bagi mereka yang mengalami gangguan motorik.

Gangguan ini bukan sekadar soal kecerobohan atau malas bergerak, tapi berkaitan langsung dengan cara otak berkomunikasi dengan tubuh.

Anak-anak dengan gangguan motorik mengalami hambatan dalam mengontrol dan mengoordinasikan gerakan, baik yang halus seperti menulis, maupun yang besar seperti berlari. Akibatnya, mereka sering dianggap berbeda oleh lingkungan sekitarnya.

Kesulitan mereka dalam beraktivitas fisik seringkali disalahpahami sebagai kurangnya niat atau motivasi. Padahal, di balik gerakan yang terlihat canggung, ada perjuangan besar yang mungkin tak terlihat mata.

Itulah mengapa penting bagi orang tua, guru, dan masyarakat untuk memahami gangguan motorik ini secara lebih dalam—agar anak-anak yang mengalaminya bisa mendapatkan dukungan, bukan justru tekanan.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diketahui soal gangguan motorik, dikutip dari Lumen Learning, Kamis (17/4).

Jenis-jenis Gangguan Motorik yang Sering Terjadi

Gangguan motorik pada anak dan remaja dapat terbagi dalam beberapa jenis. Salah satu yang cukup umum adalah Developmental Coordination Disorder (DCD) atau gangguan koordinasi perkembangan.

Anak dengan DCD biasanya tampak lebih canggung dibanding teman-teman sebayanya. Mereka sering menjatuhkan barang, kesulitan menjaga keseimbangan saat berjalan atau berlari, dan butuh waktu lebih lama dalam belajar keterampilan motorik seperti menggunting atau menulis.

Ini bukan karena mereka malas belajar, tapi karena koordinasi antara otak dan otot-otot mereka tidak berjalan optimal.

Meski begitu, anak dengan DCD umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang normal, bahkan bisa sangat pintar dalam hal-hal lain seperti berpikir logis atau menyelesaikan soal matematika.

Sayangnya, karena kesulitan fisik mereka terlihat lebih nyata, potensi akademis ini kadang tertutupi oleh stigma bahwa mereka "tidak bisa apa-apa".

Hal ini bisa berdampak pada kepercayaan diri anak, apalagi jika mereka terus-menerus dibandingkan dengan anak lain yang tidak mengalami kondisi serupa.

Jenis gangguan lain yang cukup sering ditemui adalah Tic Disorder, yaitu munculnya gerakan atau suara yang terjadi secara tiba-tiba dan berulang, tanpa bisa dikendalikan. Misalnya, anak sering berkedip dengan cepat, menggelengkan kepala, atau mengeluarkan suara-suara tertentu tanpa alasan.

Jika tic ini berlangsung lebih dari satu tahun dan mencakup kombinasi antara gerakan dan suara, maka bisa jadi anak tersebut mengalami Tourette Syndrome.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore