Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 Mei 2023 | 22.15 WIB

Manfaat Kecipir sebagai Sumber Nutrisi: Menjaga Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah

Kecipir sejak lama menjadi salah satu bahan salad khas Indonesia, termasuk pecel dan urap. Sampai sekarang kecipir banyak dijual di pasar, tapi belakangan orang mulai melupakannya. Apalagi generasi muda. Padahal, sejak 20–30 tahun lalu banyak ulasan ilmiah yang menyoroti peran kecipir sebagai sumber nutrisi.

---

BERPROTEIN TINGGI: Angel Tan menunjukkan biji kecipir yang dinamai botor. Botor digunakan sebagai salah satu bahan ramuan jamu jawa.

SAAT ini dunia mengakui peran kecipir itu istimewa dan unik. Istimewa karena kandungan proteinnya tinggi. Unik karena semua bagian tanaman kecipir, yaitu akar, daun bunga, dan buah, dapat dikonsumsi. Karena itulah, kecipir mendapat julukan one stop supermarket. Juga, ada julukan poor man’s food karena semua bagian tanaman itu bisa dimakan dalam keadaan mentah tanpa dimasak. Kemudahan tersebut membuat setiap orang dapat memenuhi kebutuhan protein.

Tanaman kecipir bernama ilmiah Psophocarpus tetragonolobus suku Fabaceae, yaitu termasuk tanaman kacang-kacangan yang merambat. Disebut winged bean dalam bahasa Inggris karena buahnya memang mempunyai empat sudut yang pada irisan melintang terlihat seperti sayap. Yang banyak dikonsumsi sebagai sayur sebenarnya adalah buah kecipir, yaitu yang termasuk golongan buah polong dengan biji di dalamnya.

Data riset menunjukkan buah kecipir yang masih muda sudah mengandung 1–3 persen protein. Bijinya bernilai gizi tinggi karena kandungan protein mencapai 32–37 persen, menyamai kandungan kacang kedelai. Kecipir juga mengandung karbohidrat, vitamin B1, B2, B3, B6, B9, serta vitamin C, A, dan E. Biji yang masak mengandung 14–25 persen lemak. Kandungan mineral buah kecipir, antara lain, kalsium, zat besi, fosfor, kalium, sulfur, natrium, magnesium, zinc, manganum, boron, barium, tembaga, kromium, dan strontium. Kandungan asam lemak jenuh kecipir lebih tinggi daripada kacang kedelai.

Ada juga yang mengonsumsi akar yang termasuk tuber atau tuberous root. Artinya, bagian akar yang tumbuh menjadi tebal berdagang, tapi tidak ada daun dan ruas. Kandungan tuber 17–20 persen protein, daun dan bunga 5–15 persen protein. Biji dimakan mentah atau diolah dengan disangrai atau dibuat acar, tuber dipanggang atau direbus, dan buah dimakan mentah atau direbus.

Secara turun-temurun penduduk Asia Selatan, India, dan Malaysia mengonsumsi berbagai bagian tanaman kecipir. Orang India makan biji, sedangkan penduduk Thailand, Papua Nugini, Burma, dan Indonesia makan bunga sebagai bahan salad, daun yang dimakan seperti sayur bayam, dan tuber mentah atau yang dimasak.

Biji buah kecipir terkenal di Indonesia dengan nama botor. Bentuknya bulat. Kalau sudah masak, kulitnya keras. Botor ternyata digunakan sebagai salah satu bahan dalam jenis ramuan jamu Jawa tertentu. Misalnya, jamu untuk kesehatan umum. Botor berperan sebagai penyedia protein, vitamin, dan mineral.

Biji yang belum masak bisa digunakan sebagai bahan masakan sup. Biji yang masak bisa dikeringkan dan ditumbuk untuk menghasilkan tepung. Minyak kandungan biji bisa diekstraksi dan menghasilkan minyak goreng.

Ada catatan sejarah pemanfaatan kecipir sebagai tanaman obat yang berlangsung sejak lama di berbagai negara. Buah dan akar dipakai untuk meningkatkan stamina dan mengobati luka di Papua Nugini. Daun digunakan untuk mengobati cacar, tuber untuk mengatasi vertigo di Malaysia sebagai obat luar. Sekarang perhatian peneliti adalah aktivitas antioksidan, antimikroba, antiradang, dan antiproliferative berbagai bagian tanaman.

Budi daya tanaman kecipir dipandang penting, terutama untuk mendapatkan buah dan tuber dengan kandungan protein tinggi. Peneliti dari sebuah fakultas agrikultur Thailand sudah berhasil menemukan dan mengembangkan tipe tanaman kecipir yang memenuhi harapan. Yaitu, mudah tumbuh sehingga menarik perhatian petani dan tinggi protein sehingga mudah untuk mengundang perhatian konsumen. Dengan cara itu, kecipir sudah bukan lagi termasuk kategori underutilized crop. Artinya, tanaman yang kurang dimanfaatkan.

Antioksidan dan Antiproliferative

Biji kecipir adalah sumber antioksidan karena kandungan vitamin C dan senyawa fito, termasuk polifenol dan flavonoid. Tulisan ilmiah peneliti dari perguruan tinggi di Lebanon, Prancis, dan Iran membahas khasiat antioksidan berbagai ekstrak biji kecipir. Bahasan tersebut memang menggambarkan potensi antioksidan kecipir yang kuat. Itu memberikan peluang pemanfaatannya dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

Perpaduan khasiat antioksidan dan kandungan protein, berbagai vitamin, dan mineral itulah yang sesungguhnya menjadikan kecipir sebagai penjaga kesehatan sel tubuh. Protein adalah unsur pembangun sel yang harus tersedia dalam jumlah cukup untuk membangun sel sehat. Antioksidan mengendalikan kerusakan sel. Jadi, mengonsumsi kecipir secara teratur diharapkan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang perlu untuk menjaga dan membangun sel.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore