Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 19 Februari 2025 | 06.55 WIB

Suami Istri Harus Hati-Hati, Vaginismus Ternyata Bisa Bikin Sulit Punya Anak, Kenali Gejalanya, Lalu Segera Temui Profesional

Ilustrasi Wanita yang  mengalami vaginismus. (ANTARA/Shutterstock/mi_viri) - Image

Ilustrasi Wanita yang mengalami vaginismus. (ANTARA/Shutterstock/mi_viri)

JawaPos.com – Vaginismus adalah kondisi medis di mana otot-otot di sekitar vagina mengalami kontraksi atau ketegangan tanpa sadar, sehingga menyebabkan rasa sakit atau kesulitan saat melakukan penetrasi.

Gangguan ini tidak hanya berdampak pada kehidupan seksual. Tetapi juga dapat menghambat pemeriksaan medis seperti pap smear dan penggunaan tampon.

Dokter Spesialis Obstetri-Ginekologi Konsultan di RSUD Dr Soetomo Eighty Mardiyan Kurniawati menjelaskan, vaginismus termasuk dalam kategori Gangguan Nyeri dan Penetrasi dalam fungsi seksual.

"Vaginismus bisa terjadi karena berbagai faktor, baik organik atau biologis, psikologis, maupun sosiokultural," ujar Eighty kepada JawaPos.com, Selasa (18/2). 

Secara medis, vaginismus terbagi menjadi dua jenis, yakni primer dan sekunder. Vaginismus primer terjadi sejak awal, di mana penderita sama sekali tidak bisa melakukan penetrasi hubungan seksual.

Sedangkan vaginismus sekunder dialami oleh wanita yang sebelumnya tidak mengalami masalah, tetapi kemudian mengalami kesulitan. Misalnya setelah proses persalinan yang menyebabkan jaringan parut atau trauma pada area perineum.

"Vaginismus bisa dialami oleh wanita dari berbagai usia. Bahkan, ada kasus pernikahan yang sudah berlangsung belasan tahun tetapi belum memiliki keturunan karena gangguan ini," tambah staf Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) itu. 

Beberapa tanda yang menunjukkan seseorang mengalami vaginismus antara lain:

  1. Rasa sakit atau ketidaknyamanan saat penetrasi, yang bisa berupa sensasi terbakar atau nyeri tajam saat berhubungan seksual, memasukkan tampon, atau menjalani pemeriksaan medis.
  2. Kesulitan dalam penetrasi, karena otot-otot vagina yang menegang dan terkunci.
  3. Ketegangan atau kejang pada otot vagina, yang tidak dapat dikendalikan saat upaya penetrasi.
  4. Kecemasan dan ketakutan terhadap hubungan seksual, yang semakin memperburuk kondisi ini.
  5. Penurunan hasrat seksual, akibat rasa sakit atau trauma yang dialami sebelumnya.
  6. Refleks menghindar, seperti mengangkat pantat, menjauhkan tubuh, atau mendorong pasangan saat penetrasi.
  7. Gejala fisik yang lebih parah, seperti jantung berdebar cepat, sesak napas, atau keringat dingin saat mencoba melakukan hubungan seksual.

Jika mengalami gejala-gejala tersebut, Eighty menyarankan agar penderita segera berkonsultasi dengan tenaga medis yang kompeten, seperti dokter kandungan atau terapis seks.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore