
Seminar tentang kanker payudara di Sekolah Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta akhir pekan lalu. (Foto : Istimewa)
JawaPos.com - Upaya deteksi dini penyakit kanker payudara di Indonesia masih belum optimal. Sehingga banyak kasus kanker payudara ditemukan sudah dalam stadium lanjut. Sejumlah kalangan mendorong supaya deteksi kanker payudara dilakukan sedini mungkin.
Dorongan untuk deteksi kanker payudara sedini mungkin itu dikupas dalam Seminar Kesehatan yang sangat menginspirasi bertema Kenali, Deteksi, dan Cegah Kanker Payudara Sejak Dini. Acara tersebut diselenggarakan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) menyambut Bulan Kanker Payudara.
Ketua IIDI Jakarta Selatan Lizvy Revina menyampaikan, kanker payudara termasuk kanker yang paling banyak menyerang warga Indonesia. Selain itu, kanker paru, kanker leher rahim, kanker kolorektal, dan kanker liver.
"Tahun 2020 saja, menurut data Global Cancer Statistics (Globocan) yang dirilis oleh WHO, di Indonesia terdapat 396.914 kasus kanker baru dengan 234.511 kematian yang disebabkan oleh kanker," ucap Lizvy dalam keterangannya Senin (18/11).
Menurut Lizvy, kanker payudara bukan hanya sekadar penyakit. Akan tetapi juga sebagai ujian untuk menguji kekuatan fisik dan mental setiap individu. Namun, pada setiap tantangan selalu ada harapan yang menerangi.
"Para penyintas kanker payudara yang hadir hari ini menjadi inspirasi bagi kita semua. Dengan semangat juang dan dukungan yang kuat, kita dapat mengatasi segala rintangan," ujarnya. Karena dia percaya bahwa pengetahuan adalah senjata ampuh dalam melawan kanker payudara. Dengan pemahaman yang tepat, deteksi dini yang baik, serta diagnosis serta tata laksana yang tepat waktu, masyarakat dapat melawannya.
Dari semua kasus kanker payudara di Indonesia, sekitar 70 persen di antaranya sudah pada tahap lanjut ketika dideteksi. Ini karena masih banyak perempuan yang menganggap remeh ataupun takut bila ada tanda-tanda awal kanker. Seperti adanya benjolan di payudara atau perubahan fisik lainnya.
"Akibatnya, ketika sakit terasa semakin parah dan mulai ada gejala-gejala lanjut yang mencemaskan, barulah mereka pergi ke dokter," paparnya.
Melalui seminar itu diharapkan lebih banyak orang mendapatkan informasi yang tepat mengenai kesehatan payudara. Dengan kesadaran yang meningkat, masyarakat melakukan pemeriksaan sendiri dan konsultasi rutin ke dokter. Sehingga dapat menjadi langkah awal dalam melawan kanker payudara.
Dia menegaskan perjuangan melawan kanker payudara adalah perjuangan bersama. Seminar ini diharapkan juga menjadi momentum yang mempersatukan, berbagi pengalaman, dan saling menginspirasi. "Dengan semangat kebersamaan dan dukungan yang kuat, kita yakin dapat meraih kemenangan melawan kanker payudara," tandasnya. (*)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
