Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 24 Agustus 2024 | 17.00 WIB

Waspadai Impaksi Gigi, Bisa Diantisipasi Sejak Dini

Ilustrasi penanganan pasien perawatan gigi. (Pixabay) - Image

Ilustrasi penanganan pasien perawatan gigi. (Pixabay)

JawaPos.com - Tumbuhnya gigi geraham ketiga atau yang secara medis dikenal sebagai molar 3 seringkali jadi momok bagi sebagian orang dewasa. Nyeri dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Gigi bungsu umumnya tumbuh di usia pubertas akhir atau 17 - 25 tahun. Tapi tak sedikit pula yang mengalami pertumbuhan gigi bungsu di atas usia itu.

Tumbuhnya gigi terakhir seringkali dibarengi dengan ruang yang sempit atau tidak cukup lagi. Kondisi itu menyebabkan impaksi gigi, yakni kondisi gigi yang tidak tumbuh secara sempurna. Seperti menyamping, tumbuh sedikit, bahkan tumbuh ke dalam. Meski sering terjadi pada gigi bungsu, namun impaksi gigi juga bisa terjadi pada pertumbuhan gigi seri dan taring.

Selain ruang yang tidak cukup, impaksi gigi juga bisa terjadi karena terbentuknya kista, tumor, atau susunan gigi yang tidak teratur. Faktor keturunan, bentuk rahang, dan perkawinan campuran (genetik) juga menambah potensi terjadinya impaksi gigi. Waspadai infeksi bakteri yang menyebabkan gusi bengkak, sakit hingga bernanah.

Spesialis bedah mulut RS Premier Surabaya Anindita Zahratur Rasyida, drg., M.Ked.Klin Sp.BM menyarankan untuk memeriksakan gigi geraham ketiga saat memasuki usia 17 tahun, baik tumbuh maupun tidak. Evaluasi posisi gigi dengan melakukan rontgen panoramik.

‘’Kalau foto rontgen biasanya benih gigi bungsu sudah terlihat mulai usia 15 tahun. Rontgen panoramik bisa dimanfaatkan untuk melihat apakah nantinya gigi bisa tumbuh ideal atau tidak,” terangnya. Jika ditemukan potensi impaksi gigi maka dokter dan pasien bisa mempertimbangkan tindakan pencegahan odontektomi sebelum atau setelah adanya keluhan.

Spesialis bedah mulut RS Premier Surabaya, Anindita Zahratur Rasyida, drg., M.Ked.Klin Sp.BM. (Istimewa).

Odontektomi merupakan prosedur pembedahan gigi impaksi. Dilakukan oleh dokter spesialis bedah mulut & maksilofasial untuk menghilangkan sumber keluhan. Terutama jika gigi sudah berlubang, terdapat nyeri, dan bengkak berulang. ‘’Prinsipnya sama dengan pencabutan gigi tapi dibuatkan dulu aksesnya agar gigi impaksi bisa diambil,’’ terang drg Anindita.

Langkah lain adalah melakukan germinektomi, yakni prosedur pembedahan untuk mengangkat benih gigi sebelum akar gigi terbentuk sepenuhnya. Sehingga dapat mencegah masalah impaksi gigi di masa depan. Drg Anindita lebih jauh menjelaskan, impaksi gigi bisa pula terjadi tanpa adanya keluhan karena pembersihan yang baik. ‘’Kalau kasusnya seperti itu biasanya ketahuan saat mau melakukan perawatan ortodontik,” tuturnya.

Lakukan pemeriksaan gigi dan mulut 6-12 bulan sekali untuk menghindari masalah kesehatan di masa depan. Kasus gigi impaksi dapat diskrining sejak dini, dilihat potensinya, dan segera diantisipasi. 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore