Ilustrasi duck syndrome.
JawaPos.com - Duck syndrome adalah istilah yang pertama kali muncul di Stanford University, Amerika Serikat, dan digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana seseorang tampak tenang di luar, namun sebenarnya mengalami gangguan kecemasan yang signifikan.
Dilansir dari laman Ruangguru, istilah ini diambil dari analogi bebek yang berenang di air. Tampak tenang di permukaan, tetapi mengayuh kakinya dengan cepat di bawah air untuk tetap bertahan.
Apa Itu Duck Syndrome?
Duck syndrome tidak diakui sebagai penyakit mental resmi, melainkan sebagai fenomena yang menggambarkan tekanan yang dirasakan oleh individu, terutama siswa dan mahasiswa. Mereka yang mengalami duck syndrome seringkali tampak baik-baik saja di luar, padahal menyembunyikan tekanan dan kepanikan di balik penampilan tersebut. Tekanan ini bisa berasal dari tuntutan akademik yang tinggi, harapan untuk mencapai kesuksesan, dan berbagai ekspektasi hidup lainnya.
Penyebab Duck Syndrome
Fenomena ini sering kali menimpa individu yang masih muda, seperti siswa, mahasiswa, atau mereka yang baru saja memasuki dunia kerja. Rentannya kelompok ini disebabkan oleh pengalaman hidup baru yang mereka hadapi, seperti hidup mandiri jauh dari orang tua, tuntutan akademis yang lebih berat, dan persaingan yang ketat. Selain itu, lingkungan keluarga yang sangat protektif atau menekankan prestasi juga dapat berkontribusi pada perkembangan duck syndrome.
Meskipun duck syndrome bukan gangguan psikologis resmi, individu yang mengalaminya tetap berisiko mengalami masalah psikologis seperti depresi atau gangguan kecemasan. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan menangani fenomena ini dengan serius.
Ciri-Ciri Duck Syndrome
Tanda-tanda duck syndrome mirip dengan gejala gangguan psikologis seperti depresi atau kecemasan. Beberapa gejala umum termasuk:
1. Terus-menerus berusaha untuk terlihat baik-baik saja dan bahagia meskipun merasa panik di dalam diri.
2. Merasa gagal memenuhi tuntutan yang tinggi dan berlebihan.
3. Membandingkan diri dengan orang lain dan merasa bahwa orang lain lebih berhasil.
4. Merasa selalu diawasi atau diperhatikan oleh orang lain.
5. Mengalami kesulitan tidur, pusing, dan kesulitan berkonsentrasi.
Cara Mengatasi Duck Syndrome
Mengatasi duck syndrome memerlukan diagnosis yang akurat. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter, psikolog, atau psikiater untuk mendapatkan evaluasi kesehatan mental yang menyeluruh. Penanganan yang tepat mungkin melibatkan kombinasi psikoterapi dan obat-obatan untuk mengatasi depresi atau kecemasan.
Selain itu, perubahan gaya hidup dan perilaku juga bisa membantu. Ini termasuk latihan untuk menerima diri sendiri dan membangun keseimbangan antara tuntutan hidup dan kesehatan mental. Mengembangkan dukungan sosial yang kuat dan berbicara tentang perasaan secara terbuka dapat membantu mengurangi dampak duck syndrome.
Duck syndrome menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, terutama bagi mereka yang berada di bawah tekanan tinggi untuk tampil sempurna. Mengidentifikasi dan menangani fenomena ini dengan serius dapat membantu mencegah dampak negatif yang lebih berat di kemudian hari.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
