Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 28 Juni 2024 | 01.11 WIB

Kenali Penyebab Sindrom Peter Pan, Sifat Kekanak-Kanakan yang Sering Dialami oleh Pria Dewasa

 

Tumbuh menjadi dewasa tampaknya hampir mustahil bagi mereka yang mengidap sindrom Peter Pan.

 
 
JawaPos.com - Semakin bertambahnya usia terkadang mengharuskan seseorang mempunyai sifat kedewasaan serta tanggung jawab besar. Namun, hal ini tidak berlaku bagi para pengidap sindrom Peter Pan yang memiliki sikap kekanak-kanakan.
 
Tumbuh menjadi dewasa tampaknya hampir mustahil bagi mereka yang mengidap sindrom Peter Pan. Pasalnya, mereka enggan bersikap mandiri, tidak punya rasa tanggung jawab, hingga merugikan orang lain.
 
Lantas, apa dan penyebab sindrom Peter Pan yang terjadi pada seseorang? Berikut pembahasannya sebagaimana dikutip dari Halodoc, Kamis (27/6).
 
Apa itu sindrom Peter Pan?
 
Sama seperti tokoh fiksi Peter Pan, sindrom ini membuat seseorang kesulitan untuk tumbuh dewasa sehingga memiliki sikap kekanak-kanakan bahkan cenderung narsistik. Kondisi ini juga dikenal dengan julukan king baby atau little prince syndrome
 
Pengidap sindrom Peter Pan seringkali menunjukkan perilaku sosial, pola pikir dan sifat yang dianggap belum dewasa. Hal ini tentu berdampak pada hubungan sosial dan aktivitas profesional yang mereka jalani.
 
Pasalnya, orang yang mengidap sindrom Peter Pen menolak untuk mengemban tanggung jawab serta memilih untuk menyalahkan orang lain atas masalah yang dihadapi. Mereka kesulitan dalam mengekspesikan emosi yang menyebabkan munculnya masalah pada sebuah hubungan.
 
Meskipun bisa terjadi pada wanita, namun pria paling banyak mengalami sindrom Peter Pan. Beberapa psikolog berpendapat bahwa laki-laki dewasa memang memiliki tanggung jawab yang besar dibanding wanita, seperti menjadi kepala rumah tangga dan mencari nafkah.
 
Penyebab sindrom Peter Pan
 
Tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan sindrom Peter Pan bisa terjadi pada seseorang. Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa pola asuh orang tua yang protektif mungkin berpengaruh untuk terkena kondisi ini.
 
Ketika seorang anak dilindungi secara berlebihan, mereka tidak bisa mengembangkan keterampilan dalam menghadapi tantangan kehidupan dunia luar. Hal ini tentu akan berdampak pada kehidupan dewasa yang akan mereka jalani dan menganggap semuanya sama seperti masa kanak-kanak.
 
Adapun penyebab lain, yaitu munculnya ketidaksiapan untuk memikul tanggung jawab yang besar saat dewasa. Mereka cenderung bersikap layaknya anak kecil untuk melindungi diri dari rasa cemas, takut, tidak mampu, dan tidak percaya diri terhadap suatu masalah.
 
Meski terkait dengan masalah psikologis, sindrom ini bukan termasuk diagnosis resmi gangguan mental, seperti depresi, gangguan bipolar, atau gangguan obsesif kompulsif (OCD).
 
Tanda dan ciri-ciri sindrom Peter Pan
 
Sebab sindrom Peter Pan bukanlah diagnosis resmi, maka tidak kriteria khusus yang menentukan kondisi tersebut. Namun, ada beberapa tanda dan ciri-ciri yang umum terjadi antara lain:
 
- Kesulitan dengan tanggung jawab dan komitmen
- Masalah terkait perkerjaan dan karir
- Ketergantungan pada orang lain
- Susah mengendalikan emosi
- Tidak mau mengakui kesalahan
- Tidak suka dikritik
- Takut kesepian
- Egois
 
Salah satu tanda yang paling sering ditemukan pada penderita sindrom Peter Pan adalah kesulitan menjalani suatu hubungan dalam jangka panjang. Mereka tidak ragu untuk mengakhiri hubungan jika harus komitmen lebih tinggi.

Editor: Dimas Ryandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore