Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 September 2022 | 15.01 WIB

Mengenal Bahaya Penyakit Glaukoma, Berujung Kebutaan, Tak Bisa Sembuh

Ilustrasi pemeriksaan mata (Shutterstock) - Image

Ilustrasi pemeriksaan mata (Shutterstock)

JawaPos.com - Salah satu penyakit yang mengancam mata adalah glaukoma. Glaukoma merupakan salah satu penyebab kebutaan terbanyak di dunia. Beberapa penyakit dikaitkan dengan risiko glaukoma seperti diabetes dan kardiovaskular.

Memahami situasi ini, Dokter Spesialis Mata dari JEC Eye Hospital and Clinics, Dr. dr. Emma Rusmayani, Sp.M(K) mengatakan pasien membutuhkan penanganan yang berkesinambungan untuk mencegah progresivitas penyakit. Deteksi dini menjadi hal yang sangat krusial terutama pada individu dengan faktor risiko.

"Bila tidak terdeteksi dini, glaukoma berpotensi mengakibatkan berkurangnya luas penglihatan dan berakhir pada kebutaan yang bersifat permanen," jelasnya dalam keterangan resmi baru-baru ini.

Menurut data yang dikutip dari WHO menyatakan bahwa glaukoma merupakan penyebab utama kebutaan yang tidak dapat disembuhkan (irreversible). Jumlah penyandangnya diprediksi mencapai 76 juta di seluruh dunia. Individu dengan glaukoma harus memeriksakan matanya secara teratur.

Awalnya Tanpa Gejala

Glaukoma mayoritas bersifat asimptomatik atau tanpa gejala sehingga sangat mungkin pasien tidak menyadari terjadinya penurunan fungsi penglihatan mereka. Deteksi dini sangat berperan penting dalam mencegah progresivitas penyakit.

"Perlu diingat, kerusakan saraf mata karena glaukoma tidak dapat disembuhkan dan kebutaan akibat penyakit ini berlangsung permanen," katanya.

Tatalaksana dan Diagnosis

Diagnosis Glaukoma ditegakkan melalui pemeriksaan tekanan bola mata (intraokular) dengan pemeriksaan luas penglihatan (Humphrey visual field) dan ketebalan retina nerve fiber layer (RNFL) atau biasa disebut lapisan serat saraf retina, melalui optical coherence tomography (OCT). Saat ini deteksi dini glaukoma utamanya dilakukan melalui penipisan RNFL pada pemeriksaan OCT.

Pemeriksaan ini perlu dilakukan secara serial dan tidak hanya sekali untuk mengetahui kerusakan RNFL yang terjadi. Ia memberikan alternatif deteksi dini glaukoma melalui penanda biologis Ischemia Modified Albumin (IMA).

Pemeriksaan ini merupakan uji penanda biologis iskemia (kurangnya aliran darah ke dalam organ tubuh tertentu) yang sudah umum dilakukan pada diagnosis penyakit kardiovaskular atau penyakit sistemik lainnya. Patogenesis (proses perkembangan penyakit) yang terjadi pada glaukoma, salah satunya adalah proses iskemia kronik.

Pemeriksaan kadar IMA humor akuos bertujuan untuk menggambarkan kerusakan yang terjadi akibat proses iskemia tersebut. Pemeriksaan ini diharapkan dapat menjadi alternatif deteksi yang lebih dini pada glaukoma dibanding metode pemeriksaan yang sudah ada.

Penelitian ini tertuang dalam disertasi 'Tinjauan Kadar Ischemia-Modified Albumin, Tumor Necrosis Alpha, dan Malondialdehyde pada Humor Akuos dan Serum Darah sebagai Penanda Iskemia Lokal dan Sistemik pada Glaukoma Primer'. Penelitian ini berlangsung April 2021- Juni 2021 dan melibatkan 74 subjek.

“Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi bagi individu penderita glaukoma maupun orang dengan faktor risiko untuk dapat mendeteksi lebih dini penyakitnya," tutupnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore