
Teh lengkuas. Lengkuas bisa dijadikan minuman yang bermanfaat untuk tubuh.
JawaPos.com - Bahan-bahan herbal seperti jahe, kunyit, dan segala akar-akaran dalam minuman jamu menjadi warisan pengobatan dari nenek moyang sejak dulu. Kini, dengan perkembangan teknologi yang modern, membuat bahan-bahan herbal sudah diolah sebagai fitofarmaka atau obat dari tanaman herbal berbasis riset sesuai konsep farmasi hijau.
Dirjen Farmalkes Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalusia mengatakan obat herbal sebagai bagian dari pengobatan tradisional dan komplementer merupakan sumber daya kesehatan yang penting dan sering diremehkan. Padahal obat herbal memiliki manfaat dalam pencegahan dan pengelolaan gaya hidup terhadap penyakit kronis.
"Obat herbal kini menjadi fokus para peneliti dan industri di dunia termasuk negara-negara G20," kata Rizka kepada wartawan dalam webinar dialog G20 Green Pharmacy Dexa Group baru-baru ini.
Ia mencontohkan farmasi hijau misalnya jamu. Saat ini semakin banyak negara yang mengakui peran jamu dalam sistem kesehatan nasional mereka.
Di Tiongkok, penggunaan obat herbal sudah mapan untuk tujuan kesehatan bernama Traditional Chinese Medicine (TCM). Di Jepang, 50-70 persen jamu telah diresepkan. Sementara itu, Kantor Regional WHO untuk Amerika (AMOR/PAHO) melaporkan bahwa 71 persen penduduk Cile dan 40 persen penduduk Kolombia menggunakan obat tradisional.
Bahkan di antara yang maju negara, obat herbal sangat populer. Penggunaan jamu oleh penduduk di Prancis mencapai 49 persen, Kanada 70 persen, Inggris 40 persen, dan Amerika Serikat 42 persen.
"Inilah kondisi pasar ekspor jamu ke depan. Namun, ada juga tantangan, seperti kurangnya penelitian karena kesulitan, dukungan keuangan untuk penelitian tentang TCM dan pengobatan herbal. Kurangnya kemauan politik dan kapasitas untuk memantau keamanan produk TCM, sistem informasi dan analisis serta integrasi TCM ke dalam sistem kesehatan," kata Rizka.
Menurutnya Indonesia dengan sekitar 143 ha hutan tropis, dengan 28.000 spesies tumbuhan, 32 ribu bahan telah dimanfaatkan. Indonesia dengan 217 juta penduduk tetap menjadi pemain utama baru untuk farmasi hijau dengan produk jamu.
Potensi Farmasi Hijau di Indonesia
Director of Research & Business Development Dexa Group Raymond Tjandrawinata, mengatakan obat-obatan kimia sangat berharga bagi kita seperti memperpanjang hidup, menurunkan angka kematian, meningkatkan kelangsungan hidup pasien. Sekarang, perlu diingat bahwa ada juga beberapa dampak dari obat-obatan kimia. Misalnya mulai dari R&D Manufaktur, distribusi, konsumsi, bahkan hingga pengelolaan limbah. Obat-obatan memiliki beberapa dampak terhadap lingkungan dalam hal limbah.
Ia mencontohkan Indonesia juga memiliki parasetamol, obat yang sempat mencemari air di Teluk Jakarta. Ia menegaskan, ekologi adalah sesuatu yang perlu dijaga di masa depan.
"Kita harus memastikan bahwa limbah farmasi kita tidak mencemari lingkungan. Untuk itu, kita perlu banyak memberikan perhatian dan edukasi kepada masyarakat yang tujuannya adalah kelestarian lingkungan," jelasnya.
Raymond melanjutkan, Farmasi Hijau atau Green Pharmacy adalah alternatif yang berasal dari bumi. Tidak hanya meningkatkan kesehatan dan gaya hidup masyarakat, tetapi juga meningkatkan keramahan lingkungan.
"Kita hidup harmonis dengan tanaman. Tumbuhan adalah organisme yang sangat bersahabat. Tanaman berguna untuk obat-obatan dan manusia," jelasnya.
Ia menjelaskan, Green Pharmacy perlu mengikuti proses modern dari penemuan obat, melalui pengujian pada hewan dan manusia. Jika tidak, Green Pharmacy tidak akan digunakan oleh dokter dan ditambahkan ke pedoman praktik klinis.
Manfaat Jamu
Jika Tiongkok memiliki TCM dan India memiliki ayuverda, maka Indonesia memiliki jamu. Jamu sudah dikenal berkhasiat sejak dulu.
"Indonesia seperti halnya India dengan ayuverda, kita memiliki jamu tradisional yang baik untuk pencegahan penyakit dan sebagainya dan telah digunakan oleh masyarakat," jelas Raymond.
Namun menurutnta masih terdapat mitos tentang obat tradisional, seperti sedikit khasiat, tidak adanya bukti, sedikit pengetahuan tentang farmakologi herbal, takut salah diagnosis dan dosis yang tidak tepat dan sebagainya.
Di masa depan, kata dia, Green Pharmacy harus menjadi obat integratif untuk pengobatan konvensional, pengobatan gaya hidup, dan terapi komplementer yang terinformasi.
"Jadi kehidupan manusia akan lebih baik, kualitas hidup menjadi jauh lebih tinggi.
Fitofarmaka tidak hanya bermanfaat bagi pasien, tetapi juga para petani yang menyediakan bahan baku untuk produk Green Pharmacy," tutupnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
