Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Februari 2022 | 17.44 WIB

Rutin Cek Tensi dan Gula Darah Agar Tak Berujung Gagal Ginjal

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Seseorang seringkali tak menyadari bahwa dirinya terkena diabetes atau hipertensi. Hal itu karena mereka jarang atau tidak pernah mengecek gula darah dan juga tekanan darah secara rutin. Padahal kedua penyakit itu jika sudah terlanjur parah bisa berujung komplikasi seperti gagal ginjal.

Sekjen The 16th Annual Scientific meeting of Indonesian Society of Hypertension (InaSH) 2022 dr. Djoko Wibisono, Sp.PD-KGH, mengatakan mencapai target kontrol tekanan darah dalam jangka panjang dilakukan untuk menghindari terjadinya kerusakan organ yang disebabkan oleh hipertensi atau Mediated Organ Damage (HMOD). Misalnya stroke, serangan, jantung dan kerusakan ginjal yang dapat mengakibatan kematian.

Data Penyakit Ginjal Kronik (PGK), berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Riskesdas 2018, sebanyak 3,8 per 1000 penduduk atau 1.017.260 penduduk Indonesia menderita Penyakit Ginjal Kronik (PGK). Dari total seluruh penduduk Indonesia yang menderita PGK, 19,3 persen di antaranya menjalani cuci darah (Hemodialisis), yaitu kurang lebih 196.332 penduduk.

Apa itu gagal ginjal?


Penyakit Ginjal Kronik (PGK) dapat disebabkan karena kelainan struktur atau gangguan fungsi ginjal yang berlangsung lebih dari 3 bulan dan eLFG < 60ml/menit yang berlangsung lebih dari 3 bulan dengan atau tanpa disertai kerusakan ginjal. Ia menegaskan agar pasien diabetes dan hipertensi perlu mengecek kesehatan mereka berkala.

“Penderita diabetes dan hipertensi perlu secara berkala melakukan deteksi fungsi ginjal untuk mengendalikan kerusakan ginjal," jelasnya secara virtual baru-baru ini.

Tatalaksana Pengobatan Gagal Ginjal


Penurunan fungsi ginjal akibat PGK dapat diperlambat dengan terapi medis, perubahan gaya hidup dan melakukan konsultasi dengan dokter. Untuk memastikan kondisi ginjal seseorang terdapat beberapa tes yang bisa dilakukan yaitu tes darah (menilai kinerja ginjal dengan melihat kadar limbah dalam), tes darah (ureum, kreatinin), tes urine (mengetahui kadar protein, rasio albumin dan kreatinin dalam urine), imaging untuk melihat struktur dan ukuran ginjal (USG, MRI, CT Scan), Biopsi ginjal.

"Dilakukan dengan mengambil sampel kecil dari jaringan ginjal, kemudian dianalisis untuk menentukan penyebab kerusakan ginjal,” katanya.

Ia menegaskan PGK dapat diatasi atau diobati dan PGK bukan akhir segalanya. Kualitas hidup pasien PGK dapat menyamai kualitas hidup orang sehat.

Cara Mencegahnya


PGK dapat dicegah dengan 7 golden rules; pola hidup sehat (makan sehat,
olahraga, tidak merokok dan mengkonsumsi alkohol), tidak mengkonsumsi obat-obatan tanpa anjuran dokter. Medical Check Up (mengetahui fungsi ginjal), orang dengan tekanan darah tinggi, atau kadar gula tinggi perlu evaluasi lebih lanjut.

"Kontrol hipertensi dan diabetes adalah faktor kunci pencegahan PGK," tutup dr. Djoko.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore