Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 19 Desember 2023 | 01.00 WIB

Membongkar Penyebab Lambatnya Penurunan Stunting di Indonesia

Ilustrasi stunting. Dimas Pradipta/JawaPos.com - Image

Ilustrasi stunting. Dimas Pradipta/JawaPos.com

JawaPos.com - Stunting adalah ujung dari persoalan rendahnya literasi gizi masyarakat. Literasi gizi atau pemahaman dan kesadaran gizi masyarakat mempengaruhi pola asuh dan pola konsumsi keluarga.

Keluarga tanpa pemahaman gizi yang baik cenderung tidak memerhatikan asupan gizi anak, sehingga anak terbiasa mengkonsumsi makanan yang mereka suka. Misalnya, makanan dan minuman dengan kandungan gula garam lemak yang tinggi seperti kental manis.

Pembahasan ini mengemuka dalam urun rembuk yang dilakukan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama PP Aisyiyah, PP Muslimat NU dan para mitra di Jakarta, belum lama ini.

Ketua bidang advokasi YAICI, Yuli Supriati dalam keterangan tertulisnya menyoroti kampanye penanganan stunting yang selama ini digaungkan tidak berdasar pada persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

“Selama ini narasi mengatasi stunting adalah dengan ASI ekslusif. Ibu itu bukannya tidak mau memberikan ASI ekslusif untuk anaknya, tapi karena tidak mampu, karena bekerja, karena kondisi kesehatan dan ibu meninggal. Anak-anak yang tidak mendapat ASI ekslusif ini larinya ke kental manis,” jelas Yuli.

Sementara itu, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta Prof. dr. Tria Astika Endah Permatasari S.KM., M.K.M. memaparkan hasil penelitiannya mengenai kebiasaan konsumsi kental manis oleh balita. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, sebanyak 11,4% balita di Banten; 8,4% di DKI Jakarta dan 5,3% di DI Jogjakarta mengonsumsi kental manis.

Tidak hanya itu, 78,3% responden di Banten; 88,1% di DKI dan 95,2% di DI Jogjakarta memberikan kental manis kepada balitanya lebih dari 1 sachet perhari.

Adapun faktor utama pemberian kental manis pada anak ini disebabkan oleh persepsi masyarakat di tiga wilayah ini yang masih menganggap kental manis adalah susu.

“Pola makan yang terbentuk sejak balita akan terbawa terus hingga dewasa, sehingga kebiasaan memberikan kental manis untuk anak dan balita ini harus dicegah sedini mungkin supaya tidak berlanjut," ujar Tria.

"Penelitian sebelumnya juga menunjukkan balita secara alamiah sangat suka makanan manis, terlebih lagi ketika ada paparan gula tambahan di dalam makanan,” katanya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore