Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Desember 2021 | 15.33 WIB

Mengenal Spinal Cord Injury Penyebab Lumpuh yang Dialami Laura Anna

Laura Anna (INSTAGRAM EDELENYI LAURA) - Image

Laura Anna (INSTAGRAM EDELENYI LAURA)

JawaPos.com - Selebgram Laura Anna meninggal dunia setelah berjuang akibat penyakit Spinal Cord Injury pasca kecelakaan. Apa sebetulnya Spinal Cord Injury?

Konsultan Bedah Saraf Tulang Belakang RSU Bunda Jakarta yang juga Ketua Umum PERSPEBSI Cabang Jakarta Dr dr Wawan Mulyawan, SpBS(K) mengatakan, Spinal Cord Injury merupakan cedera pada tulang belakang baik langsung (kecelakaan ataupun jatuh) maupun tidak langsung (infeksi bakteri atau virus) yang dapat menyebabkan kecacatan menetap atau kematian (definisi dari Perhimpunan PERDOSSI, 2006). Penelitian Price pada 2003, menyatakan bahwa cedera tulang belakang dapat mengakibatkan terjadinya paralisis, paraplegia, depresi refleks neurologis, edema dan hipoksia jaringan.

"Namun definisi spinal cord injury yang saya pakai adalah cedera pada saraf tulang belakang terutama sumsum tulang belakang akibat kecelakaan lalu lintas, benturan, tusukan atau tembakan yang mengenai saraf tulang belakang," kata dr. Wawan kepada JawaPos.com, Kamis (16/12).

Penyebab Spinal Cord Injury

Penyebab kondisi ini bisa bermacam-macam. Di antaranya kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, jatuh karena terpeleset di lantai licin atau kamar mandi pada usia lanjut terutama perempuan menopause, luka tusuk, luka tembak.

Menurut dr. Wawan, seseorang dengan kondisi ini memang akan mengalami kelumpuhan permanen atau cacat. Namun jika cedera tidak permanen, masih ada harapan.

"Ya, jika yang terjadi adalah cedera sumsum tulang belakang yang komplit (complete) atau lengkap, cacat atau kelumpuhannya akan permanen. Namun jika cedera tidak permanen, dalam arti hanya sebagian saraf sensorik, motorik atau otonom yang rusak alias tidak lengkap, masih memungkinkan beberapa perbaikan fungsional dari waktu ke waktu," katanya.

Biasanya tindakan operasi atau obat kortikosteroid yang terlambat dalam hitungan jam atau hari dapat menyebabkan cedera yang incomplete atau tidak lengkap menjadi permanen. "Karena itu dalam penanganan cedera saraf tulang belakang ada istilah time is essential," tegasnya.

Tatalaksana dan Pengobatan

Menurut dr. Wawan, kebanyakan orang dengan cedera tulang belakang memerlukan beberapa bentuk rehabilitasi fisik, atau terapi, baik dengan rawat inap (selama dirawat di rumah sakit) atau rawat jalan (setelah dirawat di rumah sakit).

Alat prostesis (pengganti tangan atau kaki buatan) cukup andal untuk membantu aktifitas pasien mengatasi cedera saraf tulang belakang. Sebuah prostesis saraf dapat menggantikan fungsi yang hilang seperti prostesis lengan atau kaki.

Cara Mencegahnya

Risiko terkena cedera saraf tulang belakang dapat dikurangi dengan :

Mengemudi mengenakan sabuk pengaman.

Menghindari bahaya jatuh seperti tangga atau lantai kamar mandi yang licin

Mengenakan alat pelindung selama olahraga, jika dibutuhkan

Tidak melakukan aktifitas fisik atau olahraga ekstrim seperti mendaki tebing, bersepeda gunung dan lain-lain pada orang usia lanjut, terutama wanita menopause.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore