
Ilustrasi HIV/AIDS. Ari Bowo Sucipto/Antara
JawaPos.com – Penemuan kasus HIV baru dan konsumsi obat antiretroviral (ARV) tanpa putus masih menjadi pekerjaan rumah saat Hari AIDS Sedunia diperingati hari ini (1/12). Kementerian Kesehatan juga memandang pendidikan seksual harus dilakukan lebih dini.
Sebab, hubungan seksual merupakan salah satu cara penularan HIV.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi menceritakan, ada anak 12 tahun di Jawa Tengah yang terdeteksi HIV. Anak tersebut terinfeksi bukan sejak bayi atau tertular dari ibunya.
”Kita harus melakukan upaya sebaik mungkin untuk anak-anak remaja,” kata Imran dalam konferensi pers di Jakarta kemarin (30/11).
Penanggulangan HIV harus sesuai dengan siklus kehidupan. Mulai baru lahir sampai lansia. Sebab, penemuan kasus baru, terdapat anak usia kurang dari 4 tahun hingga mereka yang lebih dari 50 tahun (lihat grafis).
”Masa remaja perlu dilakukan edukasi sedini mungkin. Karena kasus HIV yang ditemukan semakin muda,” ungkap Imran.
Imran menyampaikan, deteksi HIV bisa dilakukan sejak kehamilan. Pemerintah memberikan fasilitas itu. Sayang, baru 60 persen ibu hamil yang melakukan skrining.
Skrining menjadi kunci awal pengendalian HIV. Pemerintah baru bisa mengidentifikasi 88 persen dari target orang dengan HIV (ODHIV). Yang menjadi gap besar adalah mereka yang mendapatkan obat ARV, yakni hanya 40 persen dari ODHIV yang teridentifikasi.
Selain itu, mereka yang sudah mendapatkan ARV harus termonitor jumlah virus dalam tubuhnya dengan pemeriksaan viral load (VL). Menurut data Kemenkes, baru 74.563 orang yang sudah diperiksa.
Ada 75.800 orang dari 285 ribu ODHIV yang putus obat atau tidak rutin mengonsumsi ARV. ”Upaya yang perlu dilakukan adalah ODHIV mendapatkan pengobatan dan termonitor viral load. Dua hal ini sangat memerlukan kolaborasi dengan komunitas,” ucap Imran.
Pada kesempatan yang sama, Prof dr Zubairi Djoerban SpPD menyatakan, setelah minum obat ARV selama 3–6 bulan, jumlah virus dalam tubuh akan sangat berkurang sehingga tidak berisiko menularkan.
”Menjaga angka tidak putus obat ARV ini sangat penting,” ungkapnya.
Zubairi memberikan catatan ODHA dengan VL belum turun berisiko monkeypox. Terutama yang mengalami kelainan kulit di sekitar organ genital. Dari 58 kasus monkeypox di Indonesia, 39 di antaranya positif HIV.
Bagi yang sudah mendapat ARV dan perawatan dari dokter, kesehatannya bakal terkendali. Zubairi sehari-hari berkecimpung sebagai dokter yang menangani kasus HIV.
”Yang rutin minum obat malah terlihat lebih baik dari teman sebayanya yang bahkan tidak HIV. Sebab, mereka dilarang merokok dan diminta olahraga selain minum obat,” ungkapnya. (lyn/c19/ttg)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
