Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 1 Desember 2023 | 18.12 WIB

Usia Orang Terkonfirmasi Kasus HIV Ditemukan Semakin Muda

Ilustrasi HIV/AIDS. Ari Bowo Sucipto/Antara - Image

Ilustrasi HIV/AIDS. Ari Bowo Sucipto/Antara

JawaPos.com – Penemuan kasus HIV baru dan konsumsi obat antiretroviral (ARV) tanpa putus masih menjadi pekerjaan rumah saat Hari AIDS Sedunia diperingati hari ini (1/12). Kementerian Kesehatan juga memandang pendidikan seksual harus dilakukan lebih dini.

Sebab, hubungan seksual merupakan salah satu cara penularan HIV.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes Imran Pambudi menceritakan, ada anak 12 tahun di Jawa Tengah yang terdeteksi HIV. Anak tersebut terinfeksi bukan sejak bayi atau tertular dari ibunya.

”Kita harus melakukan upaya sebaik mungkin untuk anak-anak remaja,” kata Imran dalam konferensi pers di Jakarta kemarin (30/11).

Penanggulangan HIV harus sesuai dengan siklus kehidupan. Mulai baru lahir sampai lansia. Sebab, penemuan kasus baru, terdapat anak usia kurang dari 4 tahun hingga mereka yang lebih dari 50 tahun (lihat grafis).

”Masa remaja perlu dilakukan edukasi sedini mungkin. Karena kasus HIV yang ditemukan semakin muda,” ungkap Imran.

Imran menyampaikan, deteksi HIV bisa dilakukan sejak kehamilan. Pemerintah memberikan fasilitas itu. Sayang, baru 60 persen ibu hamil yang melakukan skrining.

Skrining menjadi kunci awal pengendalian HIV. Pemerintah baru bisa mengidentifikasi 88 persen dari target orang dengan HIV (ODHIV). Yang menjadi gap besar adalah mereka yang mendapatkan obat ARV, yakni hanya 40 persen dari ODHIV yang teridentifikasi.

Selain itu, mereka yang sudah mendapatkan ARV harus termonitor jumlah virus dalam tubuhnya dengan pemeriksaan viral load (VL). Menurut data Kemenkes, baru 74.563 orang yang sudah diperiksa.

Ada 75.800 orang dari 285 ribu ODHIV yang putus obat atau tidak rutin mengonsumsi ARV. ”Upaya yang perlu dilakukan adalah ODHIV mendapatkan pengobatan dan termonitor viral load. Dua hal ini sangat memerlukan kolaborasi dengan komunitas,” ucap Imran.

Pada kesempatan yang sama, Prof dr Zubairi Djoerban SpPD menyatakan, setelah minum obat ARV selama 3–6 bulan, jumlah virus dalam tubuh akan sangat berkurang sehingga tidak berisiko menularkan.

”Menjaga angka tidak putus obat ARV ini sangat penting,” ungkapnya.

Zubairi memberikan catatan ODHA dengan VL belum turun berisiko monkeypox. Terutama yang mengalami kelainan kulit di sekitar organ genital. Dari 58 kasus monkeypox di Indonesia, 39 di antaranya positif HIV.

Bagi yang sudah mendapat ARV dan perawatan dari dokter, kesehatannya bakal terkendali. Zubairi sehari-hari berkecimpung sebagai dokter yang menangani kasus HIV.

”Yang rutin minum obat malah terlihat lebih baik dari teman sebayanya yang bahkan tidak HIV. Sebab, mereka dilarang merokok dan diminta olahraga selain minum obat,” ungkapnya. (lyn/c19/ttg)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore