
Gejala panas dapat menyebabkan penyakit leptospirosis saat musim pancaroba. / Sumber: Bermix Studio/Unsplash.com
JawaPos.com - Musim pancaroba membawa risiko kesehatan yang perlu diwaspadai bagi beberapa orang.
Perubahan cuaca dan kondisi lingkungan selama musim ini dapat meningkatkan potensi penularan berbagai penyakit yang harus jadi perhatian masyarakat.
Guru Besar Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) Prof Dr Tjandra Yoga Aditama mengingatkan bahwa penyakit leptospirosis, yang disebabkan oleh bakteri Leptospira, perlu diwaspadai selama musim pancaroba.
Melalui pesan elektronik yang disampaikan ANTARA pada Sabtu (4/11), Prof Dr Tjandra Yoga Aditama menjelaskan proses penularan leptospirosis bisa melalui kotoran dan air kencing tikus.
Dia menekankan bahwa ketika banjir terjadi, tikus-tikus akan mencari tempat berlindung dan berkeliaran di sekitar manusia, sehingga kotoran dan air kencing mereka dapat bercampur dengan air banjir.
"Seseorang yang memiliki luka, kemudian bermain atau terendam air banjir yang sudah tercampur dengan kotoran dan kencing tikus yang mengandung bakteri leptospira, berpotensi terinfeksi dan akan jatuh sakit," tulis dia.
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu kemudian memberikan beberapa langkah untuk mengantisipasi penyakit leptospirosis, di antaranya menjaga kebersihan untuk mencegah keberadaan tikus, hindari bermain air saat banjir apabila memiliki luka.
Langkah lainnya yakni memakai pelindung kaki atau sepatu jika harus berada di daerah banjir, dan segera berobat apabila muncul gejala seperti panas tiba-tiba, sakit kepala dan menggigil.
Menurut Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, selain leptospirosis, ada beberapa penyakit lain yang perlu masyarakat waspadai selama musim pancaroba, salah satunya adalah diare. Kondisi ini sangat terkait dengan kebersihan individu atau personal hygiene.
Selain itu, musim panas yang panjang dapat mengakibatkan berkurangnya pasokan air bersih, sehingga personal hygiene juga dapat terpengaruh.
Hal ini, lanjut Tjandra, dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit diare.
Untuk melindungi diri dari risiko penyakit diare, masyarakat diimbau untuk membiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan atau minum, dan setelah buang air.
Selain itu, penting juga untuk membiasakan merebus air minum hingga mendidih setiap hari.
Selain diare, masyarakat juga perlu waspada terhadap demam dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti.
Prof Dr Tjandra Yoga Aditama juga mengingatkan bahwa pada musim kemarau, pasokan air dapat sangat terbatas, dan masyarakat mungkin akan berhemat dalam penggunaan air, termasuk kebiasaan menguras bak-bak air yang bisa menjadi kurang umum.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
