ilustrasi cacar monyet (freepick)
JawaPos.com–Ketua Satgas MPox PB IDI Dr Hanny Nilasari Sp DVE mengatakan, kurangnya kesadaran masyarakat terhadap penyakit cacar monyet adalah salah satu alasan utama diabaikannya Mpox di Asia Tenggara.
Menurut dia, banyak masyarakat yang masih belum mengetahui gejala Mpox dan mungkin tidak tahu cara melindungi diri dari penyakit tersebut. Kurangnya informasi itu menyebabkan keterlambatan dalam mencari pertolongan medis, yang dapat berakibat lebih parah.
”Selain itu, sering terjadi kesalahpahaman mengenai penyakit ini bahwa Mpox bukanlah penyakit serius atau tidak umum terjadi,” papar Hanny Nilasari.
Hal itu menurut dia, dapat mengakibatkan kurangnya kepedulian terhadap penyakit itu dan keengganan mengambil tindakan untuk melindungi diri dari infeksi.
”Terlepas dari tantangan-tantangan ini, penting untuk menyadari peran kesadaran masyarakat dalam mengatasi masalah Mpox di Indonesia dan Asia Tenggara. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gejala-gejala penyakit ini dan mendidik masyarakat tentang cara melindungi diri dari infeksi, kita dapat mengurangi penyebaran penyakit dan meningkatkan hasil bagi mereka yang terinfeksi,” kata Hanny.
Hanny mengingatkan, banyak penderita Mpox memiliki gejala ringan yang mungkin tidak cukup parah sehingga memerlukan perhatian medis. Hal itu, dapat mengakibatkan penyakit tersebut terabaikan. Karena orang berasumsi bahwa gejalanya tidak serius dan akan sembuh dengan sendirinya.
”Namun, kasus Mpox yang ringan sekalipun dapat menular dan menyebabkan penyebaran penyakit, serta berakibat fatal terutama pada pasien dengan imunitas rendah,” terang Hanny Nilasari.
PB IDI juga menilai, perlu dikembangkan penelitian lebih lanjut untuk pengendalian cacar monyet. Banyak pemerintah di kawasan Asia Tenggara yang kurang memperhatikan masalah penelitian. Hal itu menyulitkan organisasi layanan kesehatan menerapkan langkah-langkah pengendalian yang efektif dan melakukan penelitian yang diperlukan mengenai pengobatan dan vaksin.
”Mpox sering kali mendapat prioritas rendah dari berbagai organisasi dan tidak dipandang sebagai isu prioritas dibandingkan penyakit lain, seperti HIV/AIDS, tuberkulosis, atau malaria,” tutur Hanny Nilasari.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan DKI Jakarta per 27 Oktober, terdapat 15 orang dengan kasus positif, dan 1 kasus sembuh (Agustus 2022). Selain itu dari 14 orang kasus positif aktif (positivity rate PCR 44 persen), hampir semua bergejala ringan dan tertular secara kontak seksual.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Monza vs Cagliari di Liga Italia: Tim Tamu Punya Catatan Impresif di Laga Tandang
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Coventry City: Menang Tipis, De Zerbi Akhiri Tren Buruk
Prediksi Skor Trabzonspor Vs Besiktas di Liga Turki: Salah Cs Punya Rekor Kandang Impresif
UU Ketenagakerjaan Batasi PKWT Maksimal 4 Tahun, Said Iqbal: Kalau Ciptaker Sembarangan
Prediksi Skor Getafe vs Rayo Vallecano: Emil Audero Bantu El Rayo Perpanjang Kutukan 10 Laga!
Persebaya Berangkat ke Makassar Besok! Tavares Siap Tantang Mantan Tim PSM
Prediksi Skor Al Fayha vs Al Ahli di Liga Arab Saudi: Ivan Toney Siap Menggila di Al Majma’ah
Prediksi Skor Parma vs Torino: Kans Il Toro Tundukkan Tuan Rumah di Stadio Ennio Tardini!
Prediksi Tottenham vs Coventry: Spurs Belum Menang dalam Enam Laga, Coventry Percaya Diri
Prediksi Skor Monza vs Cagliari: Rossoblù Menang Tipis, Rekor Berusia 61 Tahun Terancam Pecah!

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022