
Ilustrasi operasi pemasangan ring Jantung
JawaPos.com - Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Beragam perawatan medis telah dilakukan untuk meminimalkan risiko kematian akibat penyakit ini, termasuk pemasangan ring jantung.
Selain itu, biaya atau harga pasang ring jantung sangat mahal. Sehingga, sampai saat ini masih ada masyarakat yang tidak berani memasang ring jantung lantaran terkendala biaya.
Peserta JKN-KIS dari segmen Pekerja Penerimah Upah (PPU) TNI Abdul Wahab Adam (44) mengaku, dirinya merasa bersyukur sudah terdaftar menjadi peserta JKN-KIS. Sebab, Ia sangat terbantu dengan adanya Program JKN-KIS.
Sudah beberapa kali dirinya memanfaatkan kepesertaannya untuk berobat dan yang terakhir ketika dirinya terkena serangan jantung dan mengharuskan menjalani operasi pemasangan ring jantung pada Juni 2020. Saat menjalani operasi pemasangan ring jantung kemarin semua biayanya sudah dijamin oleh program ini.
“Bulan Juni lalu saya dirujuk di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto di Jakarta. Kalau tidak ada Program JKN-KIS, saya pasti sudah merogoh kocek ratusan juta rupiah selama dirawat di sana sekitar satu minggu,” ungkapnya mengutip laman BPJS Kesehatan.
Abdul juga mengaku selama dirinya berobat menggunakan kartu JKN-KIS yang dimilikinya, dirinya tidak pernah mendapatkan diskriminasi pelayanan di fasilitas kesehatan. Mulai dari saat dirinya berobat di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sampai dengan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL).
“Petugasnya melayani dengan ramah dan tanggap kepada saya, mulai dari di FKTP sampai dengan di FKRTL untuk memasang ring jantung. Saya selalu mendapatkan pelayanan yang bagus meskipun hanya mengandalkan kartu JKN-KIS untuk menjamin biaya perawatan saya,” tuturnya.
Abdul merasa gaji yang dipotong tidak sebanding dengan manfaat yang diperolehnya dan kalau dihitung total gaji yang sudah dipotong jumlahnya belum cukup dengan biaya selama dirinya menjalani pengobatan sampai saat ini.
“Jumlah gaji yang sudah dipotong tidak sebanding dengan manfaat yang saya dapatkan sampai saat ini. Ditambah lagi sekarang saya sudah menjadi peserta Program Rujuk Balik (PRB) dan harus kontrol setiap 6 bulan sekali,” tutupnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
