Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 20 September 2023 | 14.37 WIB

Mengenal Mioma, Gejala, Resiko, dan Cara Pengobatannya dengan Teknologi FUA

Teknologi Focused Ultrasound Ablation (FUA) yang baru diinstalasi di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta Pusat

JawaPos.com - Kasus mioma uteri di Indonesia masih mesti menjadi perhatian. Berdasarkan penelitian, tahun 2019 kasus mioma mencapai 226 juta di seluruh dunia, di mana 9,64 juta di antaranya merupakan kasus baru. Sekitar 20-25 persen kasus mioma ditemukan pada perempuan berusia produktif, sementara 30-40 persen ditemukan pada perempuan berusia di atas 40 tahun.

dr. Sigit Pradono Diptoadi, Sp.OG menjelaskan, Mioma atau fibroid rahim merupakan pertumbuhan otot dan jaringan yang terbentuk di dalam atau di dinding rahim. Ini biasanya merupakan tumor jinak yang umum terjadi pada perempuan. 
 
"Mioma dapat menimbulkan berbagai gejala seperti nyeri, keputihan jangka panjang, sering buang air kecil, sembelit, pembesaran perut, hingga pendarahan vaginal yang berat dan tidak teratur," katanya kepada wartawan, Selasa (19/9)
 
"Meskipun demikian, beberapa perempuan juga tidak bergejala sehingga tidak menyadari bahwa dirinya mengidap fibroid,” sambung dr. Sigit.
 
Adapun beberapa faktor resiko mioma, katanya adalah karena usia, menstruasi dini, terlambat menopause, adanya riwayat mioma pada anggota keluarga, obesitas atau berat badan berlebih, hingga tidak memiliki anak. 
 
“Mereka yang memiliki faktor resiko tentu perlu berhati-hati. Dan jika sudah terkena, tentu harus segera diatasi," ungkapnya.
 
Memang, dr. Sigit mengatakan bahwa kebanyakan mioma tidak menyebabkan komplikasi serius. Namun, jika dibiarkan bisa menimbulkan rasa nyeri, pendarahan hebat yang menyebabkan anemia berat, infertilitas dan keguguran (meskipun jarang). Mioma dengan jenis dan derajat tertentu juga berpotensi meningkatkan risiko pada masa kehamilan, seperti placental abruption, hambatan pertumbuhan janin, dan kelahiran prematur. 
 
"Dengan demikian, tanpa disadari, kasus mioma yang tidak ditangani dengan baik juga akan memberikan beban ekonomi (economic burden) karena masa perawatan akan lebih lama dan juga butuh tambahan perawatan lainnya,” ujar dr. Sigit.
 
Dalam penanganannya, biasanya operasi konvensional dilakukan kepada para pengidap mioma. Namun, hal itu membuat berbagai efek samping yang dirasakan oleh pasien. Terbaru, ada penanganan mioma dengan tanpa operasi, yaitu instalasi Focused Ultrasound Ablation (FUA).
 
Ketua Departemen Obstetri dan Ginekologi RS Abdi Waluyo dr. Sigit Pramono, FRANZCOG, Sp.OG, menjelaskan, teknologi FUA yang terbaru ini akan menghantarkan gelombang ultrasound yang menyatu ke titik fokus lesi, serta mengakibatkan kematian pada sel-sel mioma tanpa merusak jaringan sehat lain di sekitarnya. 
 
Focus Ultrasound Ablation memungkinkan pasien yang memiliki mioma untuk menjalani prosedur terapi non invasif tanpa sayatan kulit yang mampu mengurangi rasa sakit, meminimalisir komplikasi, dan menghancurkan sel patologis secara optimal agar dapat sembuh dengan optimal.
 
 
"Hadirnya FUA di RS Abdi Waluyo diharapkan menjadi awal yang penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia," tegasnya.
 
Sementara itu, dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Relly Y. Primariawan, Sp.OG (K), menerangkan bahwa penanganan mioma dapat dilakukan dengan beberapa macam cara, baik dengan obat-obatan, tindakan pembedahan, maupun dengan tindakan non-invasif yaitu FUA. 
 
Focused Ultrasound Ablation/FUA sendiri sebetulnya sudah diaplikasikan sejak tahun 1942, di mana energi ultrasonografi difokuskan untuk memicu nekrosis (kematian jaringan) pada area target tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
 
“Focused Ultrasound Ablation (FUA) adalah teknologi terapeutik noninvasif yang memusatkan pancaran ultrasonografi ke target area yang sakit, mengakibatkan 
peningkatan suhu pada titik target hingga 60℃ hingga 100℃ untuk menimbulkan kematian jaringan di area target (mioma) tanpa merusak organ di sekitarnya," paparnya. 
 
"Focused Ultrasound Ablation FUA ini 
dilakukan dengan pencitraan USG langsung secara real-time untuk memantau proses ablasi yang sedang berjalan. Hal ini memungkinkan dokter mengobati penyakit dengan aman dan terukur, tanpa sayatan, tanpa pendarahan, serta mempertahankan struktur dan fungsi organ," pungkas dr. Relly.
 
Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore