
Ilustrasi seorang ibu sedang menggendong anaknya usai melahirkan. Perubahan mood negatif pada ibu yang baru melahirkan perlu diwaspadi sebagai gejala awal baby blues. (Medical News Today)
JawaPos.com - Perasaan sedih, murung, dan tak percaya diri usai melahirkan umum dirasakan setiap perempuan dalam beberapa hari atau pekan pertama. Namun jangan membiarkan kondisi itu berlarut-larut terlalu lama, sebab bisa jadi itu gejala Baby Blues Syndrome. Tak hanya malas mengurus buah hatinya, ibu yang putus asa juga malas dan tidak bergairah lagi membangun rumah tangga bersama suaminya.
Psikolog Klinis Liza Marielly Djapri menjelaskan dampak dari baby blues yang tak tertangani lebih dari 6 bulan bisa memicu ibu merasa depresi. Alhasil, rumah tangga menjadi tidak harmonis. Kualitas hubungan intim yang kurang, komunikasi yang buruk, bisa memicu konflik dan ketegangan. Hal terburuk yang akan terjadi bisa saja menyebabkan perceraian.
"Tentu bisa, ada dalam beberapa kasus (perceraian) saat perempuan sudah terus menerus merasa tak berguna," kata Liza kepada JawaPos.com, Minggu (28/7).
Selain perceraian, Liza menjelaskan Baby Blues juga bisa merusak hubungan intim suami istri. Baik perempuan melahirkan normal atau caesar pun, baby blues bisa membuat perempuan takut didekati suami atau kehilangan gairah saat berhubungan intim.
"Saat jahitan sudah mulai kering dan ketika suami mulai mendekati, namun semua kegelisahan tak diatasi atau tak dipupuk lagi, enggak pacaran berdua lagi, bisa saja makin rentan membuat keduanya renggang," ujar Liza.
Senada dengan Liza, dilansir dari The Guardian, Minggu (28/7), gangguan keharmonisan itu juga dialami sebagian ibu. Psokoterapis Seks dari Amerika Serikat Pamela Stephenson Connolly menjelaskan ketakutan akan kehamilan adalah kondisi umum ketika perempuan setelah melahirkan. Selama seumur hidup seseorang, akan ada pasang surut alami dan keinginan dalam gairah berhubungan intim.
"Jadi cobalah untuk tidak panik. Ada banyak pilihan yang dapat membantu mengurangi ketakutan agar memberi rasa aman saat berhubungan intim. Di luar itu, ketika sudah mencapai keseimbangan hormon, cobalah mengatur waktu berdua bersama agar lebih santai sehingga gairah bisa muncul lagi," ungkap Pamela.
Mulailah untuk mengambil beberapa langkah bertahap untuk mengurangi kelelahan. Misalnya meminta bantuan orang tua atau mencari bantuan pengasuhan anak hingga pembagian tugas rumah tangga dengan suami.
"Bagi suami, cobalah untuk menjadi mitra sejati dalam mengelola waktu yang penuh tekanan maka akan menciptakan ikatan baru untul hidup bersama," jelas Pamela.
Dipengaruhi Media Sosial
Zaman sekarang para ibu juga sudah dipengaruhi era media sosial di mana semua ibu bebas bicara dan memamerkan kesuksesan dia dan anaknya. Sehingga tak jarang hal itu justru memicu stres dan kegelisahan pribadi. Hal-hal ini memicu rasa baby blues semakin lama dan membuat perempuan tak percaya diri.
Ibu akan melihat bayi orang lain justru lebih sehat, lebih gemuk, dan lebih ceria. Ibu juga menjadi tak percaya diri ketika melihat perempuan lainnya bisa segera langsing dibanding dirinya. Hal itu bisa memicu ketidakpercayaan diri di hadapan suami.
"Zaman dulu sama zaman sekarang tekanan hidup beda. Zaman dulu engak ada media sosial yang membandingkan. Enteng-enteng, happy-happy saja. Ibu sekarang, lihat ibu lain bisa pompa ASI banyak sampai satu freezer saja sudah ciut, rendah diri. Membandingkan kok bayinya susah makan," tukas Liza.
Sebaliknya, zaman dulu para perempuan masih cenderung menerima keadaan (nerimo) karena belum dipengaruhi media sosial. Apalagi dipengaruhi penurunan hormon pasca melahirkan pasti bisa memicu kondisi lebih buruk jika tak segera tertangani.
"Zaman sekarang kan harus begini, kan begitu. Pilihannya sudah banyak. Maka suami diharapkan bisa menjadi partner terbaik bagi istri," tegasnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
