
Sekilas Tentang Atresia Bilier
JawaPos.com – Setiap bulan ada empat hingga lima pasien atresia bilier baru di RSUD dr Soetomo. Penyakit yang disebabkan saluran empedu tidak terbentuk atau berkembang secara normal itu acap kali berujung dengan kerusakan hati dan sirosis.
Jika sudah demikian, salah satu solusinya adalah transplantasi hati. Sayang, rumah sakit milik provinsi itu belum bisa menyelenggarakan transplantasi lantaran terkendala banyak hal.
Terakhir, rumah sakit pelat merah tersebut melakukan transplantasi pada 2010. Ramdan Aldil Saputra menjadi pasien pertama. Menurut Ketua Tim Transplantasi Hati RSUD dr Soetomo dr Sjamsul Arief SpA(K), selama ini ada tiga kendala untuk menyelenggarakan transplantasi.
Yakni, kendala soal biaya, supervisi, dan fasilitas. ’’Dulu Ramdan saja sampai Rp 1,5 miliar. Biaya transplantasi memang mahal,’’ tuturnya.
Biaya yang mahal tersebut belum tentu ditanggung BPJS Kesehatan sebagai penyelenggara jaminan kesehatan nasional. Yang membuat pembiayaan pasien transplantasi mahal bukan hanya operasi.
Melainkan juga perawatan pascatransplantasi. ’’Sering kali ada penolakan atau terjadi infeksi,’’ jelas Sjamsul.
Jika demikian, tak jarang transplantasi dilakukan dua kali. Itu berarti mencari pendonor yang berbeda.
Infeksi terjadi karena pasien transplantasi hati harus minum imunosupresan. Obat tersebut berfungsi untuk menekan penolakan.
Namun, efek sampingnya adalah imunitas pasien rendah. ’’Itu sebabnya dibutuhkan ruangan khusus yang tidak bercampur dengan penyakit lainnya,’’ beber Sjamsul.
Spesialis anak itu menyarankan pusat transplantasi di RSUD dr Soetomo segera diselesaikan. Dengan demikian, peluang diadakan transplantasi hati semakin terbuka.
’’Fasilitasnya disediakan,’’ ujarnya. Selanjutnya, Sjamsul mengatakan bahwa timnya masih membutuhkan supervisi dari luar negeri yang telah banyak mengerjakan transplantasi hati.
Dalam beberapa kasus, transplantasi hati bisa membuat hati pasien baik. Bahkan, setelah baik, hati transplan itu tidak digunakan lagi.
Lebih lanjut, Sjamsul menjelaskan, donor kepada pasien transplantasi biasanya berasal dari pihak ibu. Sebab, tingkat kecocokannya lebih tinggi daripada lainnya.
’’Kemungkinan di-reject sangat tinggi bila donornya bukan ibu kandung,’’ ungkapnya. Nah, kebanyakan pasien atresia bilier yang datang ke RSUD dr Soetomo sudah berada dalam keadaan gawat.
Artinya, harus dilakukan transplantasi hati. Agar tidak datang dalam kondisi berat, Sjamsul menyarankan orang tua dan tenaga medis mewaspadai tanda-tandanya (lihat grafis, Red).

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
