
Penanganan Pertama Pada Tubuh Terbakar
JawaPos.com – Luka melepuh karena benda panas sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Mulai tersiram air panas hingga tersengat listrik. Jika luka ringan, tidak jarang sebagian orang memilih menggunakan pasta gigi (odol) untuk mengobatinya.
”Tidak boleh itu. Luka bakar hanya boleh diberi salep luka bakar,” tegas dr Iswinarno Doso Saputro SpBP-RE(K). Jika luka sembarangan diberi olesan, justru tim medis akan kesulitan melakukan pembersihan luka.
Beragamnya penyebab luka bakar tersebut tidak membuat penanganannya berbeda. Luka dibersihkan sebelum tindakan lebih lanjut. Namun, pada luka bakar karena sengatan arus listrik, ada penanganan yang sedikit berbeda. ”Kerusakan pada pasien yang tersengat listrik lebih banyak terjadi di pembuluh darah dibanding dengan kulit luar,” beber spesialis bedah plastik dari RSUD dr Soetomo/FK Unair itu.
Bisa jadi, lanjut dia, hari ini hanya telapak tangan yang terluka. Tapi, lima hari kemudian, gangguan mencapai lengan. Evaluasi dilakukan setiap hari untuk melihat saturasi oksigen atau kadar oksigen di dalam darah.
Kulit yang terbakar harus dibersihkan (dikelupas) atau istilah medisnya debridement. Hal itu dilakukan agar saturasi oksigen meningkat. Pelepasan kulit tersebut juga bertujuan membuang jaringan yang sudah mati, meminimalkan sumber infeksi, dan mempercepat penyembuhan luka.
Selain saturasi oksigen, hal penting yang harus diperhatikan pada orang dengan luka bakar adalah cairan. Sebab, pada orang dengan kondisi tersebut, cairan mudah menguap karena kulit tidak lagi dapat menahan penguapan. Jika dibiarkan, riskan kerusakan ginjal. ”Jantung dan paru juga bisa terganggu pada orang yang mengalami luka bakar,” ujar dokter yang menempuh pendidikan spesialis di Universitas Airlangga tersebut.
Ketika terjadi peradangan berat, tubuh akan merespons dengan mengeluarkan myocardial depressant factor (MDF). Kondisi itulah yang mengganggu kerja jantung. Sementara itu, gangguan paru-paru bisa terjadi karena asap yang terhirup saat tubuh terbakar. Faktor lain adalah keluarnya protein di dalam tubuh sehingga terjadi hipoprotein. Hal itu berdampak penumpukan cairan di dalam paru-paru sehingga membengkak.
Anemia pun harus diwaspadai. Saat tubuh terbakar, pembuluh darah ikut memanas. Efek selanjutnya, sel darah mengalami kerusakan. ”Karena itu, luka bakar, meski kecil, sebaiknya tetap diperiksakan ke dokter. Hal ini untuk menghindari terjadinya infeksi dan komplikasi,” tegas dokter lulusan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta tersebut.
Hal itu yang dialami Badrun (bukan nama sebenarnya). Ayah satu anak tersebut datang ke RSUD dr Soetomo pada Selasa (27/6) dalam keadaan luka bakar berat. ”Saya ndak tahu kronologinya bagaimana. Saya hanya melihat seluruh tubuhnya sudah terbakar. Beruntung wajah dan alat kelaminnya tidak ikut terkena,” ujar sang ibu.
Kondisi Badrun belum sadar saat tim Jawa Pos berkunjung Minggu lalu (2/7). Keluarganya hanya bisa melihat keadaan dari balik kaca ruang ICU sambil terus berdoa. ”Dokter bilang sembuhnya lama, sampai tiga bulan. Tapi, kami berharap Badrun lebih cepat sembuh. Ini tadi sudah menjalani operasi ketiga,” lanjutnya.
Hal tersebut dibenarkan Iswinarno. Setiap 1 persen luka bakar membutuhkan perawatan setidaknya satu setengah hari. Jadi, kalau dihitung, luka bakar 69,5 persen yang dialami Badrun membutuhkan waktu paling cepat 90 hari perawatan.
Jika berkenan, luka bakar itu bisa ditutup menggunakan pencangkokan kulit. Bagian tubuh lain yang tidak terbakar akan diambil sedikit jaringan kulitnya untuk ditempelkan pada bagian yang luka. Teknik itu disebut skin graft.
Jika luka bakar yang dialami cukup dalam hingga tulang terlihat, cangkok jaringan kulit dilakukan beserta jaringan lunak di bawahnya. Teknik yang disebut dengan skin flap tersebut paling banyak digunakan untuk memperbaiki daerah wajah.
Pasien umumnya diperbolehkan pulang ketika luka bakar tinggal 10 persen. Selain itu, kondisi umum seperti gangguan ginjal, paru-paru, jantung, serta anemia sudah teratasi. ”Jaringan kulit juga mulai tertutup epitel. Kalau sudah seperti ini, biasanya sudah diperbolehkan pulang,” tutur Iswinarno.
Meski begitu, kontrol tetap wajib dilakukan. Setelah enam bulan, akan dievaluasi kondisi bekas luka bakar. Apakah epitel yang terbentuk berubah menjadi keloid atau tidak. Fisioterapi pun harus rutin dilakukan agar daerah bekas luka tidak menempel. Kalau sampai menempel atau istilah medisnya kontraktur, bagian tersebut tidak bisa digerakkan. Aktivitas harian pasien tentu akan terpengaruh.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
