
Peneliti olah sampah dengan metode peyeumisasi dengan menggunakan bakteri/istimewa
JawaPos.com - Sampah masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sudah melebihi kapasitas di sejumlah daerah, bisa menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan. Dua peneliti dari Sekolah Tinggi Teknologi (STT) PLN, Supriadi Legino dan Sony Jatmika Sunda Jaya memanfaatkan bakteri untuk mengolah sampah dengan metode peuyemisasi.
Dalam Webinar Green Campaign Safari TOSS, Selasa (1/9), kedua peneliti sudah membuat konsep pada 2002 kemudian dilakukan berbagai uji coba. Sampah-sampah itu diurai oleh bakteri Bacillus sp, Lactobacillus, Azeto-bacter, dan ragi, ditambah inframerah sinar matahari dengan konsep Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS).
Melalui metoda peuyeumisasi (biodrying), bau tak sedap dari sampah akan hilang dan mengering dalam waktu 3-7 hari (tergantung material sampah). Menurut salah satu peneliti, Supriadi, perubahan paradigma pemilahan sampah tersebut dilakukan di mana seluruh sampah dimasukkan ke dalam box bambu berukuran 2 x 1,25 x 1,25 m3 yang mampu menampung sampah 500 kg hingga 1 ton sampah. Setelah sampah tidak bau dan sudah mengering, maka akan mudah bagi petugas sampah untuk memilah sampah organik, biomassa, plastik (PVC dan Non PVC), serta residu.
Supriadi yang juga aktif di Comestoarra menambahkan bahwa TOSS dengan metoda peuyeumisasi (Biodrying) adalah suatu konsep yang terinspirasi dari alam. Pemilihan material bambu yang identik dengan masyarakat Indonesia, ukuran box peuyeum yang agronomis.
"Mengolah dengan penggunaan bioaktivator yang memanfaatkan bakteri untuk mengolah sampah yang merupakan suatu proses yang terinspirasi dari alam," paparnya.
Dalam acara yang sama, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk Franciscus Welirang mengatakan pihak industri juga tergerak untuk peduli dengan lingkungan termasuk dalam pengelolaan sampah menjadi sumber bahan baku energi. Sehingga sampah bisa memiliki nilai yang secara langsung juga mendorong terbangunnya ekonomi sirkular.
"Sehingga diharapkan akan mampu memberikan dampak positif yang lebih besar dalam upaya mengurangi sampah yang belakangan ini kian menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat secara luas.
Ketua Badan Eksekutif Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) Peni Susanti mengatakan, kapasitas Tempat Pengelolaan Akhir Sampah (TPA) di sejumlah wilayah semakin kritis. Bahkan sejumlah TPA mengalami bencana seperti longsor yang terjadi di TPA Cipeuncang, Tanggerang Selatan pada awal 2020 dan kebarkaran TPA yang terjadi di Putri Cempo, Solo di Akhir 2019.
Peni menambahkan bahwa, keberadaan TPS-3R dan Bank Sampah juga belum optimal karena masyarakat belum mampu melakukan pemilahan sampah di sumber. Bahkan tidak jarang, sampah dibuang ke sungai atau kali sehingga menimbulkan pencemaran terutama di sektor hilir.
“Perlu sosialisasi dan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat agar mampu melakukan pemilahan sampah di sumber," tutup Peni.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
