Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 5 September 2026 | 21.47 WIB

7 Alasan Mengapa Sebagian Besar Orang Memiliki Perasaan Positif Saat Berada di Dekat Anjing

seseorang yang memperoleh perasaan positif saat berada di dekat anjing / foto: Magnific/prostooleh

 

JawaPos.com - Bagi banyak orang, berada di dekat anjing dapat menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Hanya dengan melihat ekornya yang bergoyang, mendengar suara langkah kakinya, atau merasakan tubuhnya bersandar di dekat kita, suasana hati bisa terasa lebih ringan.

Anjing juga sering dianggap sebagai hewan yang mampu memberikan rasa nyaman, menemani seseorang ketika sedang sendirian, bahkan membuat interaksi sosial terasa lebih mudah. Tidak mengherankan jika anjing telah menjadi salah satu hewan yang paling dekat dengan kehidupan manusia selama ribuan tahun.

Namun, mengapa keberadaan anjing sering kali menimbulkan respons emosional yang positif?

Menurut psikologi, ada sejumlah mekanisme yang dapat membantu menjelaskan fenomena tersebut. Respons ini bukan semata-mata karena "anjing memang lucu", tetapi berkaitan dengan sentuhan, interaksi sosial, persepsi keamanan, perhatian, pengalaman masa lalu, dan hubungan antara manusia dengan hewan.

Tentu saja, tidak semua orang merasa nyaman berada di dekat anjing. Ada orang yang takut, tidak menyukai anjing, memiliki pengalaman buruk sebelumnya, atau merasa tidak nyaman dengan perilaku tertentu dari hewan tersebut. Karena itu, pembahasan mengenai "sebagian besar orang" harus dipahami sebagai kecenderungan umum, bukan aturan yang berlaku untuk setiap individu.

Dilansir dari Psychology Today pada SAbtu (5/9), terdapat tujuh alasan yang dapat menjelaskan mengapa banyak orang merasakan emosi positif ketika berada di dekat anjing.

1. Anjing Memberikan Bentuk Interaksi Sosial yang Terasa Aman

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Kita membutuhkan hubungan, perhatian, dan rasa terhubung dengan makhluk lain.

Menariknya, interaksi sosial tidak selalu harus terjadi dengan manusia lain.

Bagi sebagian orang, berinteraksi dengan anjing dapat memberikan pengalaman sosial yang relatif sederhana. Anjing tidak menuntut seseorang untuk menjelaskan dirinya secara verbal, mempertahankan percakapan, atau memenuhi norma sosial yang kompleks.

Ketika seseorang pulang ke rumah dan anjing menyambutnya dengan antusias, pengalaman tersebut dapat memberikan sensasi bahwa dirinya "ditunggu" dan "diterima".

Hal ini menjadi penting karena salah satu kebutuhan psikologis manusia adalah merasa memiliki hubungan atau keterikatan dengan sesuatu di luar dirinya.

Anjing juga memberikan respons yang mudah dikenali. Ketika seekor anjing mendekat, mengibaskan ekor, menjilat tangan, atau mencari perhatian, manusia dapat menafsirkan perilaku tersebut sebagai bentuk afeksi.

Interaksi sederhana semacam ini dapat memberikan pengalaman emosional yang positif.

Bagi seseorang yang sedang merasa kesepian, kehadiran hewan peliharaan bahkan dapat memberikan rutinitas sosial yang kecil tetapi konsisten: memberi makan, mengajak berjalan, berbicara, bermain, atau sekadar duduk bersama.

Dengan kata lain, anjing dapat menjadi bagian dari lingkungan sosial seseorang tanpa kompleksitas yang biasanya muncul dalam hubungan antarmanusia.

2. Sentuhan dengan Anjing Dapat Membantu Menciptakan Rasa Nyaman

Salah satu alasan paling sederhana mengapa banyak orang menikmati keberadaan anjing adalah sentuhan.

Membelai bulu anjing, mengusap kepala, memeluknya, atau merasakan tubuhnya berada di dekat kita merupakan bentuk stimulasi sensorik yang dapat terasa menenangkan.

Sentuhan memiliki hubungan yang erat dengan regulasi emosi manusia.

Sejak masa bayi, sentuhan menjadi salah satu cara penting manusia memperoleh rasa aman dan kenyamanan. Walaupun hubungan antara sentuhan manusia dan sentuhan dengan hewan tentu tidak sepenuhnya sama, kontak fisik dengan hewan peliharaan dapat menjadi pengalaman sensorik yang menyenangkan bagi banyak orang.

Gerakan membelai juga biasanya dilakukan secara berulang dan relatif lambat. Aktivitas seperti ini dapat mengalihkan perhatian seseorang dari pikiran yang terus berputar.

Misalnya, seseorang yang sedang stres mungkin terus memikirkan pekerjaan, masalah keluarga, atau berbagai kemungkinan buruk. Ketika ia mulai membelai anjing, sebagian perhatiannya berpindah kepada sensasi yang sedang terjadi saat itu.

Ia merasakan tekstur bulu, suhu tubuh hewan, gerakannya, dan respons anjing terhadap sentuhan.

Proses tersebut dapat membantu seseorang menjadi lebih hadir pada saat ini.

Inilah salah satu alasan mengapa aktivitas sederhana seperti duduk sambil membelai anjing bisa terasa jauh lebih menenangkan daripada yang terlihat dari luar.

3. Anjing Memiliki Ciri-Ciri yang Mudah Memunculkan Respons Kasih Sayang

Pernahkah Anda melihat anak anjing dan secara spontan merasa ingin mendekat atau menyentuhnya?

Respons tersebut berkaitan dengan bagaimana otak manusia memproses ciri-ciri tertentu yang dianggap menggemaskan atau membutuhkan perlindungan.

Dalam psikologi dan ilmu perilaku, terdapat konsep yang dikenal sebagai baby schema atau kindchenschema. Konsep ini merujuk pada sekumpulan ciri fisik seperti mata yang relatif besar, wajah membulat, kepala yang tampak besar dibandingkan tubuh, dan bentuk tubuh tertentu yang dapat memicu respons perhatian serta pengasuhan.

Anak anjing memiliki sejumlah karakteristik yang dapat menyerupai pola tersebut.

Mata yang besar, wajah yang ekspresif, tubuh yang kecil, gerakan yang belum terkoordinasi sempurna, serta perilaku bermain dapat membuat manusia menganggapnya menarik dan menggemaskan.

Respons "gemas" sebenarnya bukan sekadar persoalan estetika.

Ketika sesuatu dianggap lucu atau membutuhkan perlindungan, manusia dapat terdorong untuk memperhatikannya, mendekat, merawatnya, dan memberikan respons positif.

Hal ini membantu menjelaskan mengapa melihat anak anjing berlari-lari atau bermain sering kali membuat orang tersenyum secara spontan.

Menariknya, respons tersebut tidak hanya muncul pada anak anjing. Anjing dewasa juga memiliki wajah yang ekspresif dan perilaku sosial yang dapat menarik perhatian manusia.

Dengan demikian, karakteristik visual dan perilaku anjing dapat menjadi salah satu pintu masuk munculnya emosi positif.

4. Interaksi dengan Anjing Dapat Mengalihkan Perhatian dari Stres

Ketika seseorang mengalami stres, pikirannya sering dipenuhi oleh masalah.

Ia mungkin terus mengulang percakapan yang baru terjadi, memikirkan pekerjaan yang belum selesai, atau membayangkan berbagai skenario negatif mengenai masa depan.

Dalam kondisi seperti itu, perhatian seseorang cenderung terjebak dalam pikirannya sendiri.

Berinteraksi dengan anjing dapat menjadi bentuk pengalihan perhatian yang sederhana.

Seekor anjing membutuhkan respons terhadap lingkungan. Ia mungkin mengajak bermain, meminta dielus, membawa mainan, berjalan ke arah seseorang, atau menunjukkan perilaku tertentu yang menarik perhatian.

Manusia kemudian harus merespons apa yang sedang terjadi di depannya.

Perhatian yang sebelumnya tertuju pada kekhawatiran dapat bergeser kepada pengalaman konkret.

Misalnya, seseorang sedang mengalami hari yang buruk. Ketika sampai di rumah, anjingnya datang menyambut. Ia kemudian bermain selama beberapa menit, memberikan makanan, atau mengajaknya berjalan.

Masalah yang sedang dihadapi belum tentu langsung selesai.

Namun, selama beberapa saat, fokus mentalnya berpindah.

Inilah bagian pentingnya.

Aktivitas positif tidak selalu menghilangkan sumber stres, tetapi dapat memberikan jeda psikologis. Jeda semacam itu dapat membantu seseorang mendapatkan kembali energi mental sebelum kembali menghadapi persoalan.

Karena itu, keberadaan anjing dapat menjadi salah satu sumber pengalaman positif dalam kehidupan sehari-hari.

5. Anjing Dapat Membantu Manusia Merasakan Rutinitas dan Tujuan

Memiliki anjing berarti memiliki tanggung jawab.

Anjing perlu diberi makan, diajak beraktivitas, dirawat, dan diperhatikan. Bagi sebagian orang, rutinitas tersebut justru memiliki manfaat psikologis.

Ketika seseorang memiliki tanggung jawab terhadap makhluk lain, kehidupannya dapat memiliki struktur yang lebih jelas.

Ada waktu untuk memberi makan.

Ada waktu untuk berjalan.

Ada waktu untuk bermain.

Ada waktu untuk membersihkan dan merawat.

Rutinitas semacam ini mungkin terlihat sederhana, tetapi struktur kehidupan dapat membantu seseorang merasa bahwa harinya memiliki pola.

Selain itu, merawat anjing dapat memberikan pengalaman bahwa dirinya dibutuhkan.

Perasaan "ada makhluk lain yang bergantung kepada saya" dapat memberikan rasa tanggung jawab dan tujuan.

Hal ini terutama relevan bagi orang yang kehidupannya kurang memiliki rutinitas sosial atau aktivitas yang terstruktur.

Tentu saja, memiliki hewan peliharaan bukan solusi otomatis terhadap kesepian atau masalah psikologis. Merawat hewan juga membutuhkan waktu, biaya, komitmen, dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hewan tersebut.

Namun, bagi orang yang memang siap memelihara anjing, hubungan tersebut dapat menjadi bagian bermakna dari kehidupan sehari-hari.

6. Hubungan dengan Anjing Dapat Menghasilkan Pengalaman Kelekatan

Salah satu konsep penting dalam psikologi adalah attachment atau kelekatan.

Kelekatan menggambarkan ikatan emosional yang membuat seseorang merasa dekat dengan individu atau makhluk tertentu dan terdorong untuk mempertahankan kedekatan tersebut.

Hubungan manusia dengan anjing dapat berkembang menjadi bentuk ikatan yang sangat kuat.

Seiring waktu, anjing bukan lagi sekadar "hewan peliharaan".

Ia dapat menjadi bagian dari keluarga.

Manusia mengenali kebiasaannya, mengetahui suara gonggongannya, memahami ekspresinya, dan mengetahui apa yang biasanya dilakukan ketika anjing merasa lapar, takut, senang, atau ingin bermain.

Sebaliknya, anjing juga belajar mengenali manusia yang merawatnya.

Ia dapat mengenali suara, aroma, rutinitas, dan pola perilaku pemiliknya.

Interaksi yang terjadi berulang kali kemudian menciptakan sejarah bersama.

Inilah yang membuat hubungan tersebut terasa semakin emosional.

Seseorang tidak hanya menyukai anjing secara umum. Ia mungkin memiliki keterikatan khusus terhadap "anjing saya".

Ketika hubungan semacam ini berkembang, keberadaan anjing dapat menjadi sumber kenyamanan emosional.

Tidak mengherankan jika kehilangan hewan peliharaan dapat terasa sangat menyakitkan. Yang hilang bukan hanya seekor hewan, tetapi juga rutinitas, kedekatan, kenangan, dan hubungan emosional yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.

7. Anjing Sering Membuat Manusia Lebih Aktif dan Lebih Terhubung dengan Lingkungan

Ada satu manfaat psikologis lain yang sering luput diperhatikan: anjing dapat mendorong manusia untuk bergerak.

Anjing perlu berjalan, bermain, dan mengeksplorasi lingkungan. Pemiliknya sering kali harus ikut keluar rumah.

Aktivitas fisik sendiri memiliki hubungan dengan kesehatan psikologis.

Berjalan kaki dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk keluar dari lingkungan yang sama, mendapatkan paparan lingkungan luar, dan mengubah aktivitas sehari-hari.

Lebih dari itu, berjalan dengan anjing juga dapat meningkatkan peluang terjadinya interaksi sosial.

Seseorang yang berjalan sendirian mungkin hanya melewati orang lain tanpa berbicara. Namun, ketika membawa anjing, orang lain lebih mudah memulai percakapan.

Pertanyaan sederhana seperti "Namanya siapa?" atau "Umurnya berapa?" dapat menjadi awal interaksi sosial.

Anjing dengan demikian dapat berfungsi sebagai semacam "jembatan sosial".

Ia menciptakan alasan alami bagi manusia untuk berinteraksi.

Bagi orang yang cenderung sulit memulai percakapan, keberadaan anjing dapat membuat interaksi terasa lebih mudah dan tidak terlalu formal.

Dalam konteks tertentu, hal tersebut dapat membantu seseorang merasa lebih terhubung dengan komunitas di sekitarnya.

Mengapa Efeknya Tidak Sama pada Semua Orang?

Meskipun banyak orang merasa nyaman dengan anjing, bukan berarti semua orang akan merasakan hal yang sama.

Respons manusia terhadap anjing sangat dipengaruhi oleh pengalaman pribadi.

Seseorang yang sejak kecil memiliki pengalaman menyenangkan dengan anjing mungkin mengembangkan asosiasi positif. Melihat anjing kemudian secara otomatis mengingatkan pada pengalaman bermain, rasa aman, atau hubungan dengan keluarga.

Sebaliknya, seseorang yang pernah dikejar atau digigit anjing dapat memiliki asosiasi yang sangat berbeda.

Bagi orang tersebut, anjing yang mendekat mungkin justru memicu kewaspadaan atau ketakutan.

Faktor budaya, lingkungan tempat seseorang dibesarkan, kepribadian, preferensi individu, serta pengalaman sebelumnya juga dapat memengaruhi respons.

Karena itu, kita perlu berhati-hati dengan pernyataan bahwa anjing "pasti" membuat seseorang bahagia.

Psikologi hampir selalu berbicara tentang kecenderungan, bukan kepastian mutlak.

Perasaan Positif terhadap Anjing Bukan Sekadar Karena Mereka "Lucu"

Jika diperhatikan lebih jauh, hubungan manusia dan anjing merupakan kombinasi dari berbagai faktor psikologis.

Ada aspek visual ketika kita melihat wajah anjing.

Ada aspek sensorik ketika kita menyentuhnya.

Ada aspek sosial ketika anjing menyambut atau mencari perhatian.

Ada aspek emosional ketika hubungan tersebut berkembang menjadi kelekatan.

Ada pula aspek perilaku ketika seseorang menjadi lebih aktif karena harus mengajak anjing berjalan dan bermain.

Semua pengalaman tersebut dapat saling memperkuat.

Seseorang yang memiliki anjing mungkin setiap hari mendapatkan puluhan pengalaman kecil yang menyenangkan. Tidak semuanya terasa penting secara sadar.

Senyuman ketika anjing menyambut.

Tawa ketika anjing melakukan sesuatu yang lucu.

Rasa nyaman ketika membelai bulunya.

Perasaan dibutuhkan ketika merawatnya.

Kesempatan berjalan keluar rumah.

Percakapan singkat dengan orang lain.

Kenangan yang terbentuk dari waktu ke waktu.

Jika dikumpulkan, pengalaman kecil tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap kualitas pengalaman emosional sehari-hari.

Kesimpulan

Perasaan positif yang dirasakan banyak orang ketika berada di dekat anjing dapat dijelaskan melalui berbagai mekanisme psikologis.

Pertama, anjing dapat memberikan bentuk interaksi sosial yang terasa sederhana dan aman.

Kedua, sentuhan dan aktivitas membelai dapat memberikan pengalaman sensorik yang menenangkan.

Ketiga, karakteristik fisik dan perilaku anjing dapat memicu respons perhatian serta kasih sayang.

Keempat, berinteraksi dengan anjing dapat mengalihkan perhatian seseorang dari pikiran yang penuh tekanan.

Kelima, tanggung jawab merawat anjing dapat memberikan struktur, rutinitas, dan rasa memiliki tujuan.

Keenam, hubungan yang berlangsung lama dapat berkembang menjadi ikatan emosional atau kelekatan yang kuat.

Ketujuh, anjing dapat mendorong aktivitas fisik sekaligus membuka kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Pada akhirnya, mungkin inilah alasan mengapa hubungan manusia dan anjing terasa begitu istimewa.

Anjing tidak hanya hadir sebagai hewan yang tinggal di rumah. Bagi banyak orang, mereka menjadi bagian dari rutinitas, sumber interaksi, teman bermain, dan bahkan bagian dari keluarga.

Namun, penting untuk diingat bahwa respons setiap manusia berbeda. Tidak menyukai atau merasa takut terhadap anjing juga merupakan respons yang valid, terutama jika seseorang memiliki pengalaman negatif sebelumnya.

Psikologi tidak mengatakan bahwa semua orang harus menyukai anjing.

Psikologi justru membantu kita memahami mengapa bagi banyak orang, kehadiran seekor anjing dapat memberikan pengalaman emosional yang begitu positif dan bermakna.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore