Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Agustus 2026 | 00.40 WIB

Jika Anda Ingin Menjadi Seseorang yang Cepat Belajar, Coba Lakukan 7 Kebiasaan Ini Setiap Hari

seseorang yang cepat belajar / foto: Magnific/yanalya

 

JawaPos.com - Ada orang yang seolah-olah memiliki kemampuan belajar yang luar biasa. Mereka bisa memahami hal baru dengan cepat, mengingat informasi lebih lama, dan tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan sesuatu yang sulit.

Sementara itu, ada pula orang yang sudah belajar berjam-jam tetapi merasa tidak banyak yang masuk ke kepala.

Perbedaan ini sering membuat kita berpikir bahwa kemampuan belajar hanyalah persoalan kecerdasan. Padahal, psikologi menunjukkan bahwa cara seseorang belajar, mengatur perhatian, mengulang informasi, beristirahat, dan menghadapi kesalahan juga memiliki peran yang sangat besar.

Menjadi seseorang yang cepat belajar bukan berarti harus memaksa otak bekerja tanpa henti. Justru, belajar lebih cepat sering kali berarti belajar dengan cara yang lebih tepat.

Anda tidak harus menghabiskan sepanjang hari membaca buku. Anda juga tidak perlu menghafalkan ratusan halaman sekaligus. Yang jauh lebih penting adalah membangun kebiasaan kecil yang membantu otak memahami, menyimpan, dan menggunakan informasi secara efektif.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (13/8), jika dilakukan secara konsisten, tujuh kebiasaan berikut dapat membantu Anda menjadi pembelajar yang lebih efektif.

1. Biasakan Belajar Sedikit, tetapi Setiap Hari

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah menunggu sampai memiliki banyak waktu untuk belajar.

Kita berkata, "Nanti malam saya akan belajar dua jam."

Namun ketika malam tiba, tubuh sudah lelah. Akhirnya belajar ditunda lagi.

Besoknya terjadi hal yang sama.

Kebiasaan belajar seperti ini membuat proses belajar menjadi tidak konsisten. Sebaliknya, belajar dalam waktu yang lebih singkat tetapi dilakukan secara rutin dapat membantu menciptakan ritme belajar yang lebih stabil.

Anda tidak harus langsung belajar selama dua atau tiga jam.

Mulailah dari 20–30 menit setiap hari.

Misalnya, jika ingin mempelajari bahasa asing, Anda dapat menghabiskan 20 menit untuk mempelajari kosakata dan membuat beberapa kalimat sederhana. Jika ingin memahami sebuah bidang baru, Anda bisa membaca beberapa halaman buku dan mencoba menjelaskan kembali apa yang telah dibaca.

Yang penting bukan hanya durasinya, tetapi konsistensinya.

Otak membutuhkan paparan berulang terhadap informasi agar pembelajaran menjadi semakin kuat. Inilah alasan mengapa belajar sedikit setiap hari sering kali lebih masuk akal daripada belajar dalam jumlah besar hanya sesekali.

Cobalah mengubah pola pikir dari:

"Saya harus belajar banyak hari ini."

menjadi:

"Saya hanya perlu membuat kemajuan kecil hari ini."

Kemajuan kecil yang dilakukan setiap hari dapat menghasilkan perubahan besar dalam jangka panjang.

2. Jangan Hanya Membaca, Uji Diri Sendiri

Membaca berulang kali memang terasa nyaman.

Ketika membaca materi yang sama beberapa kali, Anda mungkin merasa sudah menguasainya karena kalimat-kalimat tersebut terasa familiar.

Namun, merasa familiar tidak selalu berarti benar-benar memahami.

Salah satu kebiasaan belajar yang lebih efektif adalah mencoba mengingat kembali informasi tanpa melihat sumbernya.

Setelah membaca satu bagian, tutup bukunya.

Kemudian tanyakan kepada diri sendiri:

Apa inti dari materi tadi?
Apa tiga hal terpenting yang saya ingat?
Mengapa hal tersebut penting?
Bisakah saya menjelaskannya dengan bahasa sendiri?
Apa contoh penerapannya dalam kehidupan nyata?

Jika Anda kesulitan menjawab, jangan langsung menganggap diri Anda tidak pintar.

Justru kesulitan mengingat itulah yang memberi tahu bagian mana yang perlu dipelajari kembali.

Kebiasaan ini dikenal sebagai retrieval practice, yaitu berusaha mengambil kembali informasi dari ingatan.

Misalnya, Anda baru saja membaca tentang cara kerja otak.

Daripada membaca paragraf yang sama lima kali, tutup buku dan coba jelaskan:

"Menurut pemahaman saya, konsep ini bekerja seperti..."

Jika penjelasan Anda masih berantakan, buka kembali sumbernya. Kemudian coba lagi.

Dengan cara tersebut, proses belajar berubah dari sekadar menerima informasi menjadi proses aktif.

Dan pembelajaran aktif biasanya jauh lebih bermanfaat daripada sekadar membaca secara pasif.

3. Biasakan Menjelaskan Apa yang Dipelajari dengan Bahasa Sederhana

Ada sebuah pertanyaan sederhana yang bisa menguji apakah Anda benar-benar memahami sesuatu:

"Bisakah saya menjelaskannya kepada orang lain dengan bahasa yang sederhana?"

Jika jawabannya belum, mungkin Anda belum benar-benar memahami konsep tersebut.

Ketika mencoba menjelaskan sesuatu, otak dipaksa untuk menyusun kembali informasi yang sebelumnya masih berupa potongan-potongan pengetahuan.

Misalnya Anda sedang mempelajari investasi.

Anda mungkin dapat menghafal definisi inflasi, diversifikasi, risiko, dan imbal hasil.

Tetapi memahami konsepnya adalah hal yang berbeda.

Cobalah menjelaskan kepada seorang anak berusia 12 tahun:

"Apa itu inflasi?"

Jika Anda bisa menjelaskannya menggunakan contoh sederhana tanpa bergantung pada istilah rumit, kemungkinan besar pemahaman Anda sudah lebih kuat.

Sebaliknya, jika Anda hanya bisa mengatakan:

"Inflasi adalah peningkatan harga umum secara berkelanjutan akibat berbagai faktor makroekonomi..."

mungkin Anda mengetahui definisinya, tetapi belum tentu memahami konsepnya secara mendalam.

Karena itu, setelah belajar sesuatu, biasakan membuat versi paling sederhana dari materi tersebut.

Gunakan contoh.

Gunakan analogi.

Gunakan bahasa sehari-hari.

Bahkan Anda bisa berbicara kepada diri sendiri seolah-olah sedang mengajari orang lain.

Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menemukan bagian yang sebenarnya belum Anda pahami.

4. Belajar dengan Fokus, Bukan Sambil Melakukan Banyak Hal

Di zaman sekarang, perhatian kita mudah sekali terpecah.

Anda sedang membaca buku, kemudian muncul notifikasi.

Anda membuka ponsel sebentar.

Lalu melihat media sosial.

Setelah itu membuka pesan.

Beberapa menit kemudian kembali membaca.

Masalahnya, perhatian tidak selalu dapat berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain tanpa biaya.

Ketika belajar, otak membutuhkan sumber daya mental untuk memahami informasi. Jika perhatian terus-menerus terganggu, proses tersebut menjadi kurang efisien.

Karena itu, salah satu kebiasaan penting bagi pembelajar cepat adalah menciptakan waktu belajar tanpa gangguan.

Tidak perlu langsung satu jam.

Mulailah dengan 25 menit.

Letakkan ponsel jauh dari jangkauan.

Matikan notifikasi.

Tutup tab yang tidak berhubungan dengan materi.

Kemudian berikan perhatian penuh kepada satu tugas.

Setelah selesai, ambil waktu beberapa menit untuk beristirahat.

Kemampuan untuk berkonsentrasi merupakan keterampilan yang dapat dilatih.

Semakin sering Anda membiasakan diri memberikan perhatian penuh kepada satu aktivitas, semakin mudah bagi Anda untuk memasuki kondisi belajar yang mendalam.

5. Hubungkan Informasi Baru dengan Sesuatu yang Sudah Anda Ketahui

Otak tidak bekerja seperti lemari kosong yang tinggal diisi.

Informasi baru akan lebih mudah dipahami ketika dapat dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada.

Misalnya Anda sedang belajar tentang suatu konsep dalam psikologi.

Daripada hanya menghafalkan definisinya, tanyakan:

"Apakah saya pernah mengalami sesuatu yang mirip?"

"Apakah saya pernah melihat orang lain melakukan hal ini?"

"Bagaimana konsep ini berhubungan dengan hal yang sudah saya pahami?"

"Contohnya dalam kehidupan sehari-hari apa?"

Semakin banyak hubungan yang dapat Anda bangun, semakin kaya pula jaringan pemahaman Anda.

Bayangkan Anda sedang membangun sebuah peta.

Pengetahuan baru adalah titik baru yang perlu dihubungkan dengan titik-titik yang sudah ada.

Jika titik tersebut berdiri sendirian, Anda mungkin mudah melupakannya.

Namun jika terhubung dengan banyak hal lain, informasi tersebut menjadi lebih bermakna.

Contohnya, ketika belajar sejarah, jangan hanya menghafalkan tanggal.

Hubungkan peristiwa tersebut dengan tokoh, kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan peristiwa lain yang terjadi pada masa yang sama.

Dengan begitu, Anda tidak hanya menghafal fakta.

Anda memahami cerita di balik fakta tersebut.

6. Tidur yang Cukup dan Berikan Otak Waktu untuk Beristirahat

Ada anggapan bahwa orang yang rajin belajar adalah orang yang mampu terus belajar tanpa berhenti.

Padahal, istirahat merupakan bagian penting dari proses belajar.

Otak membutuhkan waktu untuk memproses dan mengonsolidasikan informasi yang diperoleh.

Karena itu, begadang semalaman untuk belajar tidak selalu menjadi strategi terbaik.

Anda mungkin berhasil membaca lebih banyak materi, tetapi kondisi tubuh yang kelelahan dapat membuat konsentrasi dan kemampuan berpikir menurun.

Tidur juga bukan sekadar "waktu ketika otak berhenti bekerja".

Tidur berhubungan dengan berbagai proses yang mendukung fungsi kognitif, termasuk perhatian, memori, dan pembelajaran.

Karena itu, jika Anda ingin menjadi pembelajar yang lebih cepat, jangan hanya bertanya:

"Berapa jam saya belajar hari ini?"

Tanyakan juga:

"Apakah saya memberikan otak saya kesempatan untuk pulih?"

Istirahat singkat di antara sesi belajar juga dapat membantu.

Setelah belajar selama beberapa waktu, berdirilah.

Berjalan sebentar.

Minum air.

Tarik napas.

Jauhkan diri sejenak dari layar.

Kemudian kembali belajar.

Belajar bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling lama duduk di depan buku.

Tujuannya adalah membuat setiap sesi belajar menjadi seefektif mungkin.

7. Jangan Takut Salah, Jadikan Kesalahan sebagai Informasi

Kebiasaan terakhir mungkin merupakan salah satu yang paling penting.

Banyak orang ingin belajar dengan cepat tetapi takut terlihat bodoh.

Ketika tidak memahami sesuatu, mereka malu bertanya.

Ketika menjawab salah, mereka merasa gagal.

Ketika mencoba sesuatu dan tidak berhasil, mereka memilih berhenti.

Padahal kesalahan dapat menjadi bagian penting dari proses belajar.

Ketika Anda mendapatkan jawaban yang salah, Anda memperoleh informasi tentang bagian yang belum Anda kuasai.

Misalnya Anda sedang belajar bahasa Inggris dan membuat kesalahan dalam sebuah kalimat.

Daripada hanya merasa malu, tanyakan:

"Bagian mana yang salah?"

"Kenapa saya membuat kesalahan ini?"

"Bagaimana bentuk yang benar?"

"Bisakah saya membuat contoh lain?"

Dengan cara tersebut, kesalahan berubah menjadi umpan balik.

Orang yang cepat belajar bukanlah orang yang tidak pernah salah.

Mereka justru sering kali memiliki kebiasaan lebih cepat mengetahui kesalahannya dan memperbaikinya.

Karena itu, jangan jadikan kesalahan sebagai bukti bahwa Anda tidak mampu.

Jadikan kesalahan sebagai petunjuk menuju bagian yang harus Anda pelajari berikutnya.

Buat Sistem Belajar yang Sederhana

Tujuh kebiasaan di atas sebenarnya tidak harus dilakukan secara sempurna.

Yang lebih penting adalah membuatnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Anda bisa menggunakan pola sederhana seperti ini:

Pagi: belajar sesuatu selama 20–30 menit.

Siang: mencoba mengingat kembali apa yang dipelajari tanpa melihat catatan.

Sore: menghubungkan materi dengan contoh kehidupan nyata.

Malam: menjelaskan kembali konsep tersebut menggunakan bahasa sederhana.

Kemudian, pastikan Anda mendapatkan tidur dan waktu istirahat yang cukup.

Jika dilakukan secara konsisten, rutinitas tersebut dapat membuat proses belajar terasa lebih terarah.

Cepat Belajar Bukan Berarti Terburu-buru

Ada satu hal penting yang perlu diingat.

Menjadi cepat belajar bukan berarti Anda harus memahami segala sesuatu dalam waktu singkat.

Kecepatan belajar yang sehat bukan tentang memaksa diri memasukkan sebanyak mungkin informasi ke dalam kepala.

Ini tentang meningkatkan kualitas cara Anda belajar.

Anda belajar dengan fokus.

Anda menguji pemahaman.

Anda mengulang informasi.

Anda menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya.

Anda memberi otak kesempatan untuk beristirahat.

Dan ketika melakukan kesalahan, Anda menggunakannya sebagai umpan balik.

Pada akhirnya, orang yang terlihat "cepat belajar" mungkin bukan orang yang memiliki otak luar biasa berbeda.

Bisa jadi mereka hanya memiliki kebiasaan yang membuat proses belajar bekerja lebih baik.

Jadi, jika selama ini Anda merasa bukan orang yang cepat belajar, jangan buru-buru memberi label kepada diri sendiri.

Kemampuan belajar bukan sekadar sesuatu yang Anda miliki sejak lahir.

Cara Anda belajar dapat dikembangkan.

Mulailah dari satu kebiasaan.

Tidak perlu mengubah seluruh hidup dalam satu hari.

Hari ini, mungkin Anda hanya perlu mematikan notifikasi selama 25 menit dan belajar dengan fokus.

Besok, cobalah menutup buku dan mengingat kembali apa yang sudah dipelajari.

Lusa, coba jelaskan materi tersebut dengan bahasa sederhana.

Sedikit demi sedikit, Anda sedang membangun cara belajar yang lebih efektif.

Dan mungkin, beberapa bulan dari sekarang, Anda akan menyadari bahwa sesuatu yang dulu terasa sulit kini menjadi jauh lebih mudah dipahami.

Bukan karena Anda tiba-tiba menjadi lebih pintar.

Melainkan karena Anda akhirnya belajar bagaimana cara belajar dengan lebih baik.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore