Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Agustus 2026 | 04.51 WIB

Jika Anda Bingung untuk Lanjut atau Berhenti Setelah Kencan Pertama, Ajukan 7 Pertanyaan Ini

seseorang yang bingung setelah kencan pertama / foto: Magnific/stockking

 

JawaPos.com - Kencan pertama sering kali meninggalkan perasaan yang membingungkan.

Di satu sisi, Anda mungkin pulang dengan pikiran, “Sepertinya dia orang yang menarik. Mungkin aku perlu memberinya kesempatan.” Namun di sisi lain, ada suara kecil dalam diri yang berkata, “Entahlah… rasanya ada sesuatu yang kurang.”

Masalahnya, tidak semua hubungan yang baik langsung terasa seperti cinta pada pandangan pertama. Begitu pula sebaliknya, rasa tertarik yang sangat kuat pada kencan pertama belum tentu menjadi tanda bahwa hubungan tersebut layak diteruskan.

Karena itu, setelah kencan pertama, pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Apakah saya sudah jatuh cinta?”

Pertanyaan yang lebih sehat adalah:

“Apa yang sebenarnya saya rasakan ketika bersama orang ini?”

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (11/8), dalam psikologi hubungan, keputusan mengenai seseorang tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar ketertarikan kita, tetapi juga bagaimana kita merasa aman, dihargai, didengar, dan menjadi diri sendiri ketika berada di dekatnya.

Jika Anda sedang bingung apakah harus melanjutkan ke kencan kedua atau berhenti sampai di sini, cobalah berhenti sejenak dan ajukan tujuh pertanyaan berikut kepada diri sendiri.

1. Apakah saya merasa nyaman menjadi diri sendiri di dekatnya?

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat penting.

Setelah kencan pertama, coba tanyakan kepada diri sendiri:

“Apakah saya merasa menjadi diri saya sendiri, atau sepanjang waktu saya berusaha menjadi versi tertentu agar dia menyukai saya?”

Ada perbedaan besar antara merasa gugup karena baru mengenal seseorang dan merasa harus terus-menerus menyensor diri sendiri.

Kencan pertama memang wajar membuat seseorang sedikit canggung. Anda mungkin memilih kata-kata dengan hati-hati, memikirkan penampilan, atau merasa gugup ketika harus berbicara tentang hal-hal pribadi.

Namun, jika sepanjang pertemuan Anda merasa harus berpura-pura, menahan pendapat, atau terus memikirkan apakah setiap ucapan Anda akan membuatnya kehilangan ketertarikan, itu patut diperhatikan.

Hubungan yang sehat pada akhirnya membutuhkan ruang bagi seseorang untuk menjadi dirinya sendiri.

Anda tidak harus langsung merasa sepenuhnya nyaman pada kencan pertama. Tetapi setidaknya, tanyakan:

“Apakah saya melihat kemungkinan bahwa saya bisa menjadi lebih santai dan lebih autentik ketika mengenalnya lebih jauh?”

Jika jawabannya ya, mungkin masih ada alasan untuk memberi kesempatan pada hubungan tersebut.

Sebaliknya, jika sejak awal Anda merasa harus memainkan peran agar diterima, mungkin masalahnya bukan sekadar rasa gugup.

2. Apakah saya benar-benar tertarik padanya, atau hanya menyukai perhatian yang diberikannya?

Ini adalah pertanyaan yang sering kali sulit dijawab dengan jujur.

Kadang-kadang kita mengira menyukai seseorang, padahal sebenarnya kita hanya menyukai bagaimana orang tersebut memperlakukan kita.

Anda mungkin merasa senang karena dia sering memuji, memberikan perhatian, bertanya tentang kehidupan Anda, atau membuat Anda merasa diinginkan.

Semua itu tentu menyenangkan.

Namun coba bayangkan sesuatu.

Jika dia tidak memberikan perhatian sebanyak itu, apakah Anda masih tertarik mengenalnya?

Jika jawabannya tiba-tiba menjadi tidak jelas, mungkin yang membuat Anda tertarik bukan dirinya secara keseluruhan, melainkan validasi yang Anda dapatkan darinya.

Dalam psikologi, kebutuhan untuk merasa dihargai dan diterima adalah bagian dari kebutuhan manusia yang sangat mendasar. Karena itu, perhatian dari seseorang dapat terasa sangat kuat, terutama ketika kita sedang membutuhkan koneksi emosional.

Tetapi perhatian bukanlah satu-satunya dasar untuk membangun hubungan.

Coba tanyakan:

“Apa yang membuat saya ingin bertemu dengannya lagi?”

Apakah karena kepribadiannya?

Cara berpikirnya?

Nilai-nilai yang dimilikinya?

Cara dia memperlakukan orang lain?

Percakapan yang membuat Anda penasaran?

Atau semata-mata karena Anda merasa senang ketika dia menyukai Anda?

Jawaban Anda bisa memberikan petunjuk yang sangat penting.

3. Setelah bertemu dengannya, apakah saya merasa lebih tenang atau justru lebih cemas?

Perasaan setelah kencan sering kali lebih jujur daripada perasaan ketika sedang berada di dalam kencan itu sendiri.

Ketika sedang bersama seseorang yang kita sukai, tubuh dan pikiran bisa dipenuhi berbagai emosi: antusiasme, gugup, rasa penasaran, bahkan adrenalin.

Namun setelah pulang dan semuanya menjadi tenang, perhatikan kondisi emosional Anda.

Tanyakan:

“Apa yang saya rasakan sekarang?”

Apakah Anda merasa tenang?

Hangat?

Bahagia?

Penasaran untuk mengenalnya lebih jauh?

Atau justru merasa gelisah, terkuras, tidak aman, dan terus memikirkan apakah tadi Anda melakukan sesuatu yang salah?

Tentu saja, kecemasan setelah kencan pertama tidak otomatis berarti orang tersebut buruk untuk Anda. Rasa gugup adalah hal yang normal, terutama jika Anda memang menyukai seseorang.

Namun ada perbedaan antara gugup karena menyukai seseorang dan cemas karena merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Cobalah mendengarkan tubuh dan emosi Anda tanpa buru-buru menghakiminya.

Kadang-kadang pikiran kita membutuhkan waktu untuk memahami sesuatu yang sudah lebih dulu dirasakan oleh tubuh.

Jika setelah bertemu seseorang Anda terus-menerus merasa harus berhati-hati, takut salah bicara, atau merasa tidak aman secara emosional, jangan abaikan perasaan tersebut hanya karena secara logika orang itu terlihat menarik.

4. Apakah saya tertarik mengenal dirinya, bukan hanya membayangkan masa depan bersamanya?

Ini salah satu jebakan yang sering terjadi setelah kencan pertama.

Kita baru mengenal seseorang selama beberapa jam, tetapi pikiran sudah mulai membuat cerita panjang.

“Kalau kami pacaran, mungkin dia akan seperti ini.”

“Mungkin dia bisa menjadi pasangan yang cocok.”

“Kalau hubungan ini berhasil, mungkin saya akhirnya menemukan orang yang tepat.”

Masalahnya, Anda mungkin mulai jatuh cinta kepada potensi seseorang, bukan kepada orang yang benar-benar Anda kenal.

Psikologi menjelaskan bahwa manusia cenderung mengisi informasi yang belum diketahui dengan asumsi dan harapan. Ketika informasi tentang seseorang masih sedikit, pikiran kita bisa membangun gambaran berdasarkan apa yang kita inginkan.

Karena itu, setelah kencan pertama, tanyakan:

“Apa yang benar-benar saya ketahui tentang orang ini?”

Bukan apa yang Anda harapkan.

Bukan apa yang Anda bayangkan.

Bukan apa yang Anda ingin dia menjadi.

Tetapi apa yang benar-benar Anda lihat.

Bagaimana cara dia berbicara?

Bagaimana dia memperlakukan pelayan?

Bagaimana dia merespons ketika pendapat Anda berbeda?

Bagaimana dia berbicara tentang orang-orang dari masa lalunya?

Bagaimana dia mendengarkan ketika Anda berbicara?

Semakin Anda mampu membedakan antara fakta dan fantasi, semakin jernih keputusan Anda.

Anda tidak perlu menentukan apakah dia adalah pasangan hidup setelah satu kali kencan.

Cukup tanyakan:

“Apakah saya cukup penasaran untuk mengenalnya lebih jauh?”

Jika ya, kencan kedua mungkin layak dicoba.

5. Apakah ada nilai atau sikap penting yang terasa tidak cocok bagi saya?

Ketertarikan bisa membuat kita mengabaikan hal-hal yang sebenarnya penting.

Seseorang bisa sangat menarik, lucu, pintar, dan menyenangkan, tetapi tetap tidak cocok dengan kita dalam hal-hal mendasar.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Apakah saya tertarik kepadanya?”

Tanyakan juga:

“Apakah nilai-nilai kami memiliki kemungkinan untuk berjalan bersama?”

Anda tidak harus memiliki kepribadian yang sama.

Perbedaan justru bisa membuat hubungan menarik.

Tetapi beberapa hal mungkin memiliki peran penting dalam menentukan kecocokan jangka panjang: cara memperlakukan orang lain, pandangan tentang komitmen, kejujuran, batasan pribadi, tanggung jawab, komunikasi, dan cara menghadapi konflik.

Perhatikan juga bagaimana dia memperlakukan orang yang tidak memiliki kepentingan untuknya.

Sikap seseorang kepada pelayan restoran, pengemudi, staf, atau orang lain sering kali memberikan gambaran yang lebih nyata daripada bagaimana dia memperlakukan Anda ketika sedang berusaha membuat kesan baik.

Satu hal penting: jangan mencari pasangan yang sempurna.

Yang perlu dicari adalah apakah perbedaan yang ada masih dapat diterima dan dibicarakan, atau justru menyentuh prinsip yang tidak bisa Anda kompromikan.

6. Jika saya tidak takut kehilangan kesempatan, apakah saya masih ingin bertemu dengannya lagi?

Pertanyaan ini bisa membantu Anda memisahkan keinginan dari rasa takut.

Kadang-kadang kita ingin melanjutkan bukan karena benar-benar tertarik, tetapi karena takut kehilangan kesempatan.

Pikiran seperti ini mungkin muncul:

“Bagaimana kalau saya menolak dan ternyata dia sebenarnya orang yang tepat?”

“Bagaimana kalau tidak ada orang lain yang mendekati saya?”

“Mungkin saya harus memberinya kesempatan karena dia sudah begitu baik.”

“Sayang kalau berhenti sekarang.”

Tetapi hubungan bukanlah sebuah investasi yang harus dipertahankan hanya karena kita sudah menghabiskan waktu di dalamnya.

Cobalah melakukan eksperimen sederhana.

Bayangkan Anda tidak takut kehilangan orang tersebut.

Tidak ada tekanan.

Tidak ada rasa bersalah.

Tidak ada ketakutan bahwa Anda mungkin tidak akan menemukan orang lain.

Kemudian tanyakan:

“Dengan kondisi seperti itu, apakah saya tetap ingin bertemu dengannya sekali lagi?”

Jika jawabannya iya, mungkin ada ketertarikan yang tulus.

Jika jawabannya tidak, mungkin selama ini Anda lebih banyak digerakkan oleh ketakutan daripada keinginan.

Ini juga berlaku sebaliknya.

Jangan berhenti hanya karena Anda tidak merasakan “kembang api” pada kencan pertama.

Ketertarikan emosional kadang tumbuh secara perlahan.

Tidak semua hubungan yang sehat dimulai dengan perasaan yang sangat intens.

Terkadang yang terasa biasa pada awalnya justru menjadi sesuatu yang semakin menarik setelah kita mengenal seseorang lebih dalam.

7. Jika teman dekat saya mengalami kencan seperti ini, apa yang akan saya sarankan kepadanya?

Ini adalah cara sederhana untuk mendapatkan jarak emosional.

Bayangkan sahabat terbaik Anda menceritakan kencan yang sama persis kepada Anda.

Dia mengatakan bahwa orang tersebut baik, menarik, tetapi ada beberapa hal yang membuatnya ragu.

Kemudian dia bertanya:

“Menurutmu, aku harus lanjut atau berhenti?”

Apa yang akan Anda katakan?

Sering kali kita mampu memberikan nasihat yang lebih objektif kepada orang lain daripada kepada diri sendiri.

Hal ini terjadi karena ketika menyangkut diri sendiri, emosi, harapan, rasa takut ditolak, dan keinginan untuk dicintai dapat memengaruhi penilaian kita.

Dengan mengambil sudut pandang orang ketiga, Anda bisa melihat situasi dengan sedikit lebih jernih.

Tanyakan:

“Kalau ini bukan pengalaman saya, tetapi pengalaman sahabat saya, apakah saya akan menyuruhnya memberi kesempatan atau justru berhati-hati?”

Kemudian perhatikan alasan Anda.

Jika Anda menyarankan teman untuk berhenti karena melihat banyak tanda ketidakcocokan, tetapi kepada diri sendiri Anda berkata, “Mungkin aku terlalu banyak berpikir,” mungkin Anda sedang mengabaikan intuisi sendiri.

Sebaliknya, jika Anda menyuruh teman untuk memberikan kesempatan karena tidak ada masalah serius dan orang tersebut terlihat tulus, mungkin Anda juga perlu memberikan ruang yang sama kepada diri sendiri.

Jadi, Haruskah Anda Lanjut ke Kencan Kedua?

Tidak ada aturan psikologis yang mengatakan bahwa Anda harus langsung tahu jawabannya setelah kencan pertama.

Anda tidak harus langsung merasa yakin.

Anda juga tidak harus langsung merasa jatuh cinta.

Bahkan, Anda tidak perlu memutuskan apakah seseorang adalah pasangan yang tepat.

Terkadang satu-satunya keputusan yang perlu dibuat adalah:

“Apakah saya ingin mengenalnya sedikit lebih jauh?”

Jika tidak ada tanda bahaya yang serius, tidak ada pelanggaran batas, dan Anda masih merasa penasaran, kencan kedua bisa menjadi kesempatan untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap.

Kencan kedua bukanlah kontrak untuk menjalin hubungan.

Itu hanya kesempatan untuk melihat apakah koneksi yang ada benar-benar berkembang ketika Anda mulai mengenal seseorang di luar kesan pertama.

Namun, jika setelah merenungkan semuanya Anda menyadari bahwa Anda merasa tidak nyaman, tidak dihargai, tidak aman, atau menemukan perbedaan mendasar yang tidak bisa Anda terima, Anda juga tidak perlu memaksakan diri hanya karena orang tersebut “sebenarnya baik”.

Seseorang bisa menjadi orang yang baik dan tetap bukan orang yang tepat untuk Anda.

Dan Anda tidak membutuhkan alasan yang dramatis untuk mengatakan tidak.

Jangan Terburu-buru Mengubah Kebingungan Menjadi Keputusan

Salah satu kesalahan terbesar setelah kencan pertama adalah merasa harus segera memberikan jawaban.

Padahal, kebingungan juga merupakan informasi.

Jika Anda belum yakin, mungkin Anda belum memiliki cukup informasi.

Berikan diri Anda sedikit waktu.

Tulis apa yang Anda rasakan.

Pisahkan antara fakta dan asumsi.

Perhatikan bagaimana tubuh dan emosi Anda bereaksi ketika membayangkan bertemu dengannya lagi.

Kemudian tanyakan kembali tujuh pertanyaan tadi.

Yang paling penting, jangan membuat keputusan hanya berdasarkan rasa takut.

Jangan melanjutkan hanya karena takut kesepian.

Jangan berhenti hanya karena takut disakiti.

Jangan melanjutkan hanya karena orang tersebut memberikan perhatian.

Dan jangan berhenti hanya karena Anda belum merasakan cinta yang besar pada pertemuan pertama.

Hubungan yang sehat biasanya tidak dibangun dari satu momen dramatis.

Ia tumbuh dari serangkaian interaksi kecil yang menunjukkan apakah dua orang bisa saling menghargai, berkomunikasi, merasa aman, dan tetap menjadi diri sendiri.

Jadi, setelah kencan pertama, mungkin Anda tidak perlu bertanya:

“Apakah dia orang yang tepat?”

Cukup tanyakan:

“Apakah saya merasa cukup nyaman, cukup tertarik, dan cukup aman untuk mengenalnya sedikit lebih jauh?”

Kadang-kadang, jawaban sederhana itulah yang Anda butuhkan untuk menentukan langkah berikutnya.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore