Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 9 Agustus 2026 | 03.57 WIB

Jika Anda Ingin Menetapkan Batasan yang Sehat untuk Keluarga, Lakukan Proses 6 Langkah Ini

seseorang yang menetapkan batasan yang sehat untuk keluarga / foto: Magnific/timeimage

 

JawaPos.com - Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa keluarga harus selalu menjadi tempat untuk saling membantu, saling memahami, dan selalu ada satu sama lain.

Keyakinan itu tidak salah.

Namun, ada perbedaan besar antara menjadi keluarga yang saling mendukung dan merasa harus selalu tersedia untuk memenuhi semua keinginan keluarga.

Di sinilah batasan atau boundaries menjadi penting.

Batasan yang sehat bukan berarti Anda menjadi anak yang durhaka, saudara yang egois, pasangan yang tidak peduli, atau anggota keluarga yang menjauh. Dalam perspektif psikologi, batasan lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memahami apa yang menjadi tanggung jawab dirinya, apa yang menjadi tanggung jawab orang lain, serta bagaimana ia berkomunikasi ketika kebutuhan dan kepentingan mulai berbenturan.

Masalahnya, menetapkan batasan kepada keluarga sering kali jauh lebih sulit dibandingkan menetapkan batasan kepada orang lain.

Kita mungkin berani mengatakan "tidak" kepada teman atau rekan kerja, tetapi merasa sangat bersalah ketika harus mengatakan hal yang sama kepada orang tua, saudara, atau anggota keluarga lainnya.

Kita takut dianggap berubah.

Takut mengecewakan.

Takut disebut tidak tahu berterima kasih.

Bahkan, terkadang kita takut hubungan keluarga menjadi renggang hanya karena kita mulai mengatakan apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Padahal, batasan yang sehat justru dapat membantu hubungan menjadi lebih jujur dan lebih stabil.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (8/8), jika Anda sedang belajar menetapkan batasan dengan keluarga, Anda tidak harus mengubah semuanya dalam satu hari. Anda dapat memulainya melalui enam langkah berikut.

1. Kenali Terlebih Dahulu Batas yang Selama Ini Sering Dilanggar

Sebelum mengatakan kepada keluarga, "Saya ingin punya batasan," Anda perlu mengetahui terlebih dahulu batasan seperti apa yang sebenarnya Anda butuhkan.

Ini terdengar sederhana, tetapi sering kali tidak mudah.

Sebab, banyak orang baru menyadari bahwa batasannya telah dilanggar setelah mereka merasa marah, lelah, kecewa, atau sangat tertekan.

Misalnya:

Anda selalu diminta menjawab telepon keluarga kapan pun mereka menelepon.

Anda merasa harus menceritakan semua masalah pribadi kepada orang tua.

Saudara sering meminjam uang dan Anda sulit menolaknya.

Keluarga sering datang tanpa memberi kabar.

Pendapat Anda mengenai pekerjaan, pasangan, cara mengasuh anak, atau kehidupan pribadi selalu dikomentari.

Anda selalu menjadi orang yang diminta menyelesaikan konflik keluarga.

Atau keluarga menganggap bahwa karena Anda masih bagian dari keluarga, mereka berhak mengetahui semua keputusan hidup Anda.

Perhatikan pola-pola tersebut.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

"Situasi apa dalam keluarga yang paling sering membuat saya merasa tidak nyaman?"

Kemudian tanyakan lagi:

"Apa yang sebenarnya saya inginkan terjadi dalam situasi tersebut?"

Misalnya, Anda menyadari bahwa setiap kali keluarga menelepon ketika Anda sedang bekerja, Anda merasa tertekan karena merasa harus langsung mengangkat.

Batasan yang Anda butuhkan mungkin bukan:

"Saya tidak mau keluarga menghubungi saya."

Melainkan:

"Saya tidak selalu bisa menjawab telepon selama jam kerja. Jika penting, kirim pesan dan saya akan menghubungi kembali ketika sudah tersedia."

Perbedaannya sangat penting.

Batasan bukan tentang menolak seseorang.

Batasan adalah tentang mengatur bagaimana Anda bersedia berinteraksi.

2. Bedakan Antara Rasa Bersalah dan Tanggung Jawab

Ini adalah salah satu bagian tersulit dalam menetapkan batasan kepada keluarga.

Anda mungkin sudah mengatakan "tidak", tetapi setelahnya muncul perasaan:

"Apakah saya terlalu egois?"

"Bagaimana kalau mereka kecewa?"

"Bukankah saya seharusnya membantu keluarga?"

"Saya merasa seperti anak yang buruk."

Perasaan bersalah sering membuat seseorang kembali membatalkan batasannya.

Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami:

Merasa bersalah tidak selalu berarti Anda melakukan sesuatu yang salah.

Rasa bersalah adalah emosi. Ia memberi informasi mengenai apa yang sedang Anda rasakan, tetapi emosi tersebut tidak otomatis menjadi bukti bahwa keputusan Anda keliru.

Dalam keluarga yang terbiasa dengan seseorang yang selalu mengalah, perubahan kecil dapat terasa tidak nyaman bagi semua pihak.

Misalnya, selama bertahun-tahun Anda selalu membantu saudara ketika ia membutuhkan uang.

Kemudian suatu hari Anda mengatakan:

"Maaf, kali ini saya tidak bisa membantu secara finansial."

Anda mungkin merasa sangat bersalah.

Namun, rasa bersalah itu bisa muncul karena Anda sedang melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaan lama, bukan karena Anda melakukan sesuatu yang salah.

Cobalah membedakan dua pertanyaan:

"Apakah saya merasa bersalah?"

dan

"Apakah saya benar-benar bertanggung jawab atas masalah ini?"

Keduanya tidak selalu memiliki jawaban yang sama.

Anda boleh mencintai keluarga tanpa menyelesaikan semua masalah mereka.

Anda boleh membantu tanpa harus selalu tersedia.

Anda boleh menghormati orang tua tanpa menyerahkan seluruh keputusan hidup Anda kepada mereka.

Dan Anda boleh mengatakan tidak tanpa harus berhenti mencintai seseorang.

3. Tentukan Batasan Secara Spesifik, Bukan Secara Samar

Batasan yang terlalu umum sering sulit diterapkan.

Misalnya:

"Saya ingin keluarga lebih menghargai privasi saya."

Itu adalah keinginan yang valid, tetapi masih terlalu luas.

Apa yang dimaksud dengan privasi?

Apakah keluarga tidak boleh bertanya?

Apakah mereka tidak boleh masuk kamar?

Apakah mereka tidak boleh membaca pesan?

Apakah mereka tidak boleh membicarakan kehidupan pribadi Anda dengan anggota keluarga lain?

Akan lebih efektif jika batasan diterjemahkan menjadi perilaku yang konkret.

Contohnya:

"Saya tidak nyaman jika masalah hubungan saya dibicarakan dengan anggota keluarga lain. Kalau ada yang ingin ditanyakan, saya lebih nyaman membicarakannya secara langsung."

Atau:

"Saya tidak bisa menerima tamu secara mendadak. Tolong beri tahu saya terlebih dahulu sebelum datang."

Atau:

"Saya tidak ingin keputusan mengenai pekerjaan saya dibahas terus-menerus. Saya akan mempertimbangkannya sendiri dan memberi tahu jika membutuhkan pendapat."

Perhatikan bahwa batasan tersebut tidak perlu menyerang karakter orang lain.

Anda tidak perlu mengatakan:

"Kalian semua terlalu ikut campur."

Anda bisa mengatakan:

"Saya ingin punya ruang untuk mengambil keputusan ini sendiri."

Itulah salah satu prinsip komunikasi yang penting dalam hubungan:

Fokuskan pembicaraan pada perilaku dan kebutuhan, bukan menyerang kepribadian.

4. Sampaikan Batasan dengan Tegas, Tenang, dan Jelas

Setelah mengetahui batasan Anda, langkah berikutnya adalah mengomunikasikannya.

Di sinilah banyak orang melakukan kesalahan.

Mereka menunggu sampai emosi sudah menumpuk.

Selama berbulan-bulan mereka diam.

Mereka terus mengalah.

Kemudian suatu hari mereka meledak:

"Saya sudah muak dengan semuanya! Kalian selalu mengatur hidup saya!"

Perasaan tersebut mungkin valid, tetapi cara penyampaiannya dapat membuat orang lain langsung defensif.

Jika memungkinkan, komunikasikan batasan sebelum frustrasi mencapai puncaknya.

Anda tidak harus menggunakan bahasa yang keras.

Tegas tidak sama dengan kasar.

Misalnya, dibandingkan:

"Jangan pernah lagi meminta saya melakukan itu!"

Anda dapat mengatakan:

"Saya memahami bahwa kamu membutuhkan bantuan, tetapi kali ini saya tidak bisa melakukannya."

Atau:

"Saya menghargai perhatianmu, tetapi saya ingin mengambil keputusan ini sendiri."

Atau:

"Saya bersedia membicarakan masalah ini, tetapi saya tidak ingin pembicaraan dilakukan dengan nada seperti itu."

Kalimat seperti ini menunjukkan dua hal sekaligus:

Anda memahami posisi orang lain, tetapi Anda juga tidak meninggalkan kebutuhan Anda sendiri.

Jika keluarga terbiasa Anda selalu mengalah, mungkin mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Dan itu normal.

Batasan yang baru tidak selalu langsung diterima.

5. Bersiap Menghadapi Reaksi yang Tidak Nyaman

Ini bagian yang sering tidak dibicarakan ketika orang belajar mengenai boundaries.

Menetapkan batasan tidak menjamin orang lain akan menyukainya.

Bahkan, orang yang selama ini mendapatkan banyak keuntungan dari tidak adanya batasan mungkin akan merasa tidak nyaman ketika Anda mulai berubah.

Mereka mungkin mengatakan:

"Sekarang kamu berubah."

"Dulu kamu tidak seperti ini."

"Kamu terlalu memikirkan diri sendiri."

"Masa sama keluarga sendiri tidak mau membantu?"

"Kamu sekarang jadi jauh."

Jika Anda mendengar kalimat seperti itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa batasan Anda salah.

Tanyakan:

"Apakah saya memang melakukan sesuatu yang tidak adil, atau mereka hanya tidak terbiasa dengan batasan baru saya?"

Tentu, ini bukan berarti setiap kritik dari keluarga harus diabaikan.

Anda tetap perlu mengevaluasi diri.

Mungkin cara Anda menyampaikan batasan memang terlalu kasar.

Mungkin Anda terlalu ekstrem.

Mungkin ada kompromi yang sebenarnya bisa dilakukan.

Tetapi jika setelah mengevaluasi semuanya Anda menemukan bahwa batasan tersebut masuk akal, Anda tidak harus membatalkannya hanya karena orang lain tidak menyukainya.

Salah satu kemampuan penting dalam hubungan yang sehat adalah mampu menoleransi ketidaknyamanan tanpa langsung mengorbankan diri sendiri.

Anda mungkin merasa cemas ketika mengatakan "tidak".

Biarkan kecemasan itu ada.

Anda mungkin merasa bersalah.

Biarkan perasaan itu muncul tanpa langsung membuat keputusan berdasarkan perasaan tersebut.

Seiring waktu, Anda dapat belajar bahwa ketidaknyamanan tidak selalu berarti bahaya.

6. Konsisten dan Tunjukkan Konsekuensi yang Sehat

Batasan bukan hanya sesuatu yang diucapkan.

Batasan juga perlu diterapkan secara konsisten.

Misalnya Anda mengatakan:

"Saya tidak mau membicarakan masalah pribadi ketika kita sedang bertengkar."

Namun ketika keluarga terus memaksa, Anda tetap melanjutkan percakapan selama satu jam.

Lama-kelamaan, orang lain akan belajar bahwa batasan Anda sebenarnya dapat diabaikan.

Karena itu, batasan yang sehat biasanya membutuhkan tindakan yang konsisten.

Misalnya:

"Kalau pembicaraan mulai menggunakan penghinaan, saya akan menghentikan percakapan dan kita bisa membicarakannya lagi ketika sudah tenang."

Jika penghinaan terus terjadi, Anda benar-benar menghentikan percakapan.

Atau:

"Saya tidak bisa meminjamkan uang."

Jika permintaan terus datang, Anda tidak perlu memberikan penjelasan baru setiap kali.

Anda cukup mengulang:

"Seperti yang sudah saya sampaikan, saya memang tidak bisa membantu secara finansial."

Ini dikenal sebagai pendekatan yang sering disebut broken record dalam komunikasi asertif: mengulang pesan utama dengan tenang tanpa terseret ke dalam perdebatan panjang.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa konsekuensi bukanlah hukuman.

Batasan yang sehat bukan:

"Kalau kamu melakukan itu, saya akan membuat kamu menyesal."

Melainkan:

"Kalau percakapan menjadi tidak sehat, saya akan mengambil jarak dari percakapan tersebut."

Perbedaannya adalah pada siapa yang dikendalikan.

Anda tidak bisa mengendalikan perilaku orang lain. Anda hanya bisa menentukan apa yang akan Anda lakukan ketika perilaku tersebut terjadi.

Mengapa Menetapkan Batasan kepada Keluarga Terasa Sangat Sulit?

Ada alasan psikologis mengapa batasan dengan keluarga sering terasa lebih berat.

Keluarga merupakan salah satu lingkungan pertama tempat seseorang belajar mengenai hubungan, penerimaan, konflik, dan kebutuhan emosional.

Jika sejak kecil seseorang terbiasa mendapatkan penerimaan ketika ia patuh, mengalah, atau memenuhi kebutuhan orang lain, ia mungkin belajar bahwa berkata "tidak" dapat mengancam hubungan.

Akibatnya, ketika dewasa, ia bisa mengalami pola seperti:

orang lain meminta sesuatu → ia sulit menolak → ia mengiyakan → ia merasa terbebani → ia marah → ia merasa bersalah karena marah → akhirnya ia kembali mengalah.

Pola tersebut dapat berlangsung bertahun-tahun.

Karena itu, belajar menetapkan batasan bukan sekadar belajar mengatakan "tidak".

Anda juga sedang belajar sesuatu yang lebih dalam:

bahwa hubungan tidak harus dipertahankan dengan terus-menerus mengorbankan diri sendiri.

Batasan yang Sehat Bukan Berarti Menjauh dari Keluarga

Ada kesalahpahaman bahwa orang yang memiliki batasan kuat berarti orang yang dingin atau tidak dekat dengan keluarga.

Padahal, batasan justru dapat membuat hubungan lebih sehat.

Bayangkan dua orang.

Orang pertama selalu berkata "iya", tetapi diam-diam menyimpan kemarahan, merasa dimanfaatkan, dan akhirnya meledak.

Orang kedua mampu mengatakan:

"Saya tidak bisa melakukan itu, tetapi saya bisa membantu dengan cara lain."

Siapa yang lebih mungkin mempertahankan hubungan dalam jangka panjang?

Kedekatan yang sehat bukan berarti tidak memiliki batas.

Justru dalam banyak hubungan yang sehat, terdapat ruang untuk mengatakan:

"Saya mencintaimu, tetapi saya tidak setuju."

"Saya peduli kepada kamu, tetapi saya tidak bisa melakukan itu."

"Saya menghargai pendapatmu, tetapi keputusan akhirnya ada pada saya."

"Saya bersedia membantu, tetapi saya punya keterbatasan."

Kalimat-kalimat tersebut mungkin terasa aneh jika Anda selama ini terbiasa mengorbankan diri demi menjaga kedamaian.

Tetapi kedamaian yang dibangun dari satu orang yang terus-menerus menekan kebutuhannya sendiri bukanlah kedamaian yang sehat.

Contoh Batasan Sehat dalam Berbagai Situasi Keluarga

Berikut beberapa contoh yang dapat disesuaikan dengan keadaan Anda.

Ketika keluarga terlalu banyak bertanya tentang kehidupan pribadi

"Saya tahu kamu peduli, dan saya menghargainya. Tetapi untuk hal ini saya belum ingin membicarakannya."

Ketika orang tua terlalu mengatur keputusan hidup

"Saya menghargai nasihat dari Ayah dan Ibu. Saya akan mempertimbangkannya, tetapi keputusan akhirnya perlu saya ambil sendiri."

Ketika saudara terus meminta bantuan finansial

"Saya memahami kamu sedang membutuhkan bantuan, tetapi saya tidak bisa memberikan uang. Saya harap kamu bisa memahami keputusan saya."

Ketika keluarga menghubungi di waktu yang tidak tepat

"Kalau saya sedang bekerja, saya mungkin tidak bisa langsung merespons. Saya akan membalas setelah selesai."

Ketika keluarga datang tanpa pemberitahuan

"Saya senang bertemu dengan kalian, tetapi saya membutuhkan pemberitahuan sebelumnya supaya bisa mempersiapkan diri."

Ketika percakapan berubah menjadi pertengkaran

"Saya ingin menyelesaikan masalah ini, tetapi saya tidak ingin melakukannya sambil saling membentak. Kita bisa melanjutkannya ketika sudah lebih tenang."

Perhatikan bahwa semua kalimat tersebut memiliki satu kesamaan:

jelas, spesifik, tidak menghina, dan berfokus pada apa yang bisa Anda kendalikan.

Jangan Menjelaskan Batasan Secara Berlebihan

Ada satu kebiasaan yang sering muncul ketika seseorang merasa bersalah karena mengatakan "tidak": ia memberikan terlalu banyak penjelasan.

Misalnya:

"Sebenarnya saya ingin membantu, tetapi minggu ini pekerjaan saya sedang banyak, kemudian saya juga punya beberapa kebutuhan, dan bulan depan mungkin ada pengeluaran lain, jadi sebenarnya bukan berarti saya tidak mau membantu..."

Semakin panjang penjelasan, semakin banyak celah untuk diperdebatkan.

Orang lain mungkin mulai menjawab:

"Tapi bukankah kamu masih punya uang?"

"Bukankah pekerjaanmu bisa ditunda?"

"Kenapa tidak cari cara lain?"

Karena itu, Anda tidak selalu membutuhkan alasan yang panjang.

Terkadang:

"Maaf, saya tidak bisa."

sudah cukup.

Anda boleh memberikan penjelasan jika memang ingin.

Tetapi Anda tidak wajib membuat orang lain sepenuhnya setuju dengan batasan Anda sebelum batasan tersebut menjadi sah.

Ingat: Batasan Bukan Upaya Mengendalikan Orang Lain

Ini adalah prinsip yang sangat penting.

Batasan bukan:

"Kamu tidak boleh melakukan X."

Batasan yang lebih sehat adalah:

"Jika X terjadi, saya akan melakukan Y."

Contohnya:

Kontrol:

"Kamu tidak boleh berbicara kasar kepada saya."

Batasan:

"Kalau kamu mulai berbicara kasar, saya akan menghentikan percakapan."

Kontrol:

"Jangan datang ke rumah tanpa izin."

Batasan:

"Kalau tidak ada pemberitahuan sebelumnya, saya mungkin tidak bisa menerima kunjungan."

Kontrol:

"Jangan bertanya tentang hubungan saya."

Batasan:

"Saya tidak akan membicarakan kehidupan hubungan saya jika saya merasa tidak nyaman."

Perbedaan kecil ini memiliki dampak besar.

Anda tidak berusaha mengontrol manusia lain.

Anda sedang menentukan bagaimana Anda akan menjaga diri sendiri.

Jika Anda Baru Mulai, Mulailah dari Batasan yang Kecil

Anda tidak harus tiba-tiba mengubah seluruh dinamika keluarga.

Mulailah dari satu situasi.

Misalnya, selama ini Anda selalu menjawab telepon keluarga kapan pun.

Cobalah mulai dengan:

"Kalau saya sedang bekerja, saya akan menghubungi kembali setelah selesai."

Atau selama ini Anda selalu memberikan penjelasan panjang ketika menolak sesuatu.

Mulailah dengan jawaban yang lebih sederhana.

Atau jika Anda selalu membicarakan masalah pribadi karena merasa tidak enak menolak pertanyaan, cobalah mengatakan:

"Saya belum ingin membicarakan hal itu."

Kemudian perhatikan apa yang terjadi.

Anda mungkin merasa tidak nyaman.

Itu tidak berarti Anda gagal.

Kemampuan menetapkan batasan adalah keterampilan yang berkembang melalui latihan.

Semakin sering Anda mempraktikkannya dengan cara yang sehat, semakin mudah bagi Anda untuk mengenali kebutuhan sendiri dan mengomunikasikannya.

Pada Akhirnya, Batasan adalah Bentuk Penghormatan kepada Diri Sendiri dan Hubungan

Menetapkan batasan dengan keluarga bukan tentang memilih antara keluarga atau diri sendiri.

Hubungan yang sehat seharusnya memberi ruang bagi keduanya.

Anda dapat mencintai keluarga dan tetap memiliki privasi.

Anda dapat menghormati orang tua dan tetap memiliki keputusan sendiri.

Anda dapat menyayangi saudara dan tetap mengatakan tidak.

Anda dapat membantu keluarga tanpa mengambil alih seluruh masalah mereka.

Dan Anda dapat menjadi orang yang baik tanpa harus selalu tersedia bagi semua orang.

Jika selama ini Anda terbiasa mengalah, perubahan mungkin terasa menakutkan.

Mungkin akan ada rasa bersalah.

Mungkin ada orang yang mengatakan bahwa Anda berubah.

Mungkin ada hubungan yang membutuhkan penyesuaian.

Namun, jangan langsung menganggap ketidaknyamanan sebagai tanda bahwa Anda melakukan sesuatu yang salah.

Terkadang, ketidaknyamanan hanyalah tanda bahwa Anda sedang belajar melakukan sesuatu yang baru.

Jadi, jika Anda ingin mulai menetapkan batasan yang lebih sehat dengan keluarga, ingat kembali enam langkah sederhana ini:

1. Kenali batas yang selama ini sering dilanggar.

2. Bedakan rasa bersalah dari tanggung jawab.

3. Tentukan batasan secara spesifik.

4. Sampaikan dengan tegas, tenang, dan jelas.

5. Bersiap menghadapi reaksi yang tidak nyaman.

6. Terapkan batasan secara konsisten dan gunakan konsekuensi yang sehat.

Pada akhirnya, batasan bukan tembok untuk menjauhkan orang yang Anda cintai.

Batasan adalah garis yang membantu Anda mengatakan:

"Saya peduli kepada Anda, tetapi saya juga perlu menghargai diri saya sendiri."

Dan dalam banyak kasus, hubungan yang mampu bertahan setelah kedua pihak belajar menghormati batas masing-masing justru menjadi hubungan yang lebih dewasa, lebih jujur, dan lebih sehat.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore