seseorang yang merasa setelah mencapai tujuan / foto: Magnific/yanalya
Fenomena ini bukanlah hal yang aneh. Dalam dunia psikologi, kondisi tersebut telah banyak diteliti dan dijelaskan melalui berbagai teori tentang motivasi, kebahagiaan, identitas, hingga cara otak memproses pencapaian. Perasaan hampa setelah sukses bukan berarti seseorang tidak bersyukur atau tidak menghargai usahanya. Sebaliknya, hal itu merupakan respons psikologis yang dapat dialami siapa saja.
Lalu, mengapa seseorang bisa merasa hampa setelah mencapai tujuan?
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (26/7), terdapat enam alasan yang dijelaskan berdasarkan sudut pandang psikologi.
1. Otak Lebih Menikmati Proses Mengejar daripada Memiliki
Salah satu alasan utama munculnya rasa hampa adalah cara kerja sistem penghargaan (reward system) di dalam otak.
Ketika seseorang memiliki target, otak akan melepaskan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berperan dalam motivasi dan antisipasi terhadap hadiah. Menariknya, dopamin lebih banyak dilepaskan ketika kita sedang mengejar sesuatu daripada ketika tujuan tersebut benar-benar sudah tercapai.
Artinya, perjalanan menuju tujuan sering kali terasa lebih menggairahkan dibandingkan momen keberhasilannya sendiri.
Misalnya, seseorang yang selama lima tahun bercita-cita menjadi manajer perusahaan akan dipenuhi semangat selama proses belajar, bekerja keras, dan membangun karier. Namun setelah promosi benar-benar terjadi, rasa bahagia tersebut mungkin hanya bertahan beberapa hari atau minggu sebelum akhirnya kembali terasa biasa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa motivasi manusia lebih banyak digerakkan oleh harapan daripada kepemilikan.
2. Terjadi Hedonic Adaptation atau Adaptasi terhadap Kebahagiaan
Psikologi mengenal konsep hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia untuk kembali ke tingkat kebahagiaan normal setelah mengalami peristiwa yang sangat menyenangkan maupun menyedihkan.
Awalnya, pencapaian besar memang memberikan lonjakan emosi positif. Namun seiring waktu, otak mulai menganggap kondisi baru tersebut sebagai hal yang normal.
Contohnya:
Mendapat kenaikan gaji.
Membeli mobil baru.
Lulus dari universitas ternama.
Menjadi juara kompetisi.
Semua pencapaian tersebut memberikan rasa senang yang luar biasa pada awalnya. Akan tetapi beberapa bulan kemudian, kebahagiaan itu memudar karena manusia mulai terbiasa dengan keadaan baru.
Akibatnya muncul pertanyaan seperti:
"Apakah hanya ini rasanya?"
Perasaan inilah yang sering disalahartikan sebagai kegagalan menikmati pencapaian, padahal sebenarnya merupakan proses adaptasi psikologis yang alami.
3. Tujuan Menjadi Bagian dari Identitas Diri
Banyak orang secara tidak sadar membangun identitasnya berdasarkan tujuan yang sedang dikejar.
Misalnya:
"Saya adalah calon dokter."
"Saya sedang membangun bisnis."
"Saya sedang mempersiapkan lomba."
"Saya sedang mengejar beasiswa."
Selama bertahun-tahun, identitas tersebut menjadi alasan untuk bangun pagi, belajar, bekerja keras, hingga mengorbankan waktu.
Ketika tujuan akhirnya tercapai, identitas lama ikut menghilang.
Akibatnya muncul kekosongan karena seseorang belum memiliki identitas baru.
Dalam psikologi perkembangan, kondisi ini sering disebut sebagai identity transition, yaitu masa transisi ketika seseorang harus mendefinisikan kembali siapa dirinya setelah perubahan besar dalam hidup.
Karena itulah banyak atlet profesional mengalami depresi setelah pensiun, atau mahasiswa merasa kehilangan arah setelah lulus kuliah.
4. Tujuan Eksternal Tidak Selalu Memenuhi Kebutuhan Psikologis
Menurut Self-Determination Theory, manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar:
Autonomy (merasakan kendali atas hidup sendiri)
Competence (merasa mampu)
Relatedness (merasa terhubung dengan orang lain)
Banyak tujuan yang dikejar sebenarnya lebih berorientasi pada penghargaan eksternal, seperti:
Status sosial.
Jabatan.
Kekayaan.
Popularitas.
Pengakuan orang lain.
Ketika tujuan tersebut berhasil dicapai, seseorang mungkin memperoleh pujian dan prestise. Namun jika kebutuhan psikologis yang lebih mendasar tidak terpenuhi, rasa puas tidak akan bertahan lama.
Sebagai contoh, seseorang bisa memiliki jabatan tinggi tetapi tetap merasa kesepian, kehilangan makna hidup, atau tidak memiliki hubungan yang hangat dengan keluarga.
Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan eksternal tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan psikologis.
5. Tidak Memiliki Tujuan Baru Setelah Target Tercapai
Tujuan memberikan arah hidup.
Ketika arah tersebut hilang, manusia cenderung mengalami kebingungan mengenai apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Fenomena ini sering terjadi pada:
Atlet setelah memenangkan kejuaraan besar.
Pengusaha setelah berhasil menjual perusahaannya.
Mahasiswa setelah wisuda.
Pekerja setelah pensiun.
Selama bertahun-tahun mereka memiliki jadwal, tantangan, dan target yang jelas.
Namun setelah semua selesai, muncul ruang kosong yang sebelumnya dipenuhi oleh aktivitas mengejar tujuan.
Psikolog menyebut kondisi ini sebagai goal-disengagement, yaitu fase ketika seseorang telah melepaskan tujuan lama tetapi belum memiliki tujuan baru.
Akibatnya, motivasi menurun dan kehidupan terasa kurang bermakna.
6. Kebahagiaan Tidak Hanya Berasal dari Pencapaian
Psikologi positif membedakan dua bentuk kebahagiaan:
Hedonic well-being
Kebahagiaan yang berasal dari kesenangan, kenyamanan, dan pencapaian.
Eudaimonic well-being
Kebahagiaan yang berasal dari makna hidup, pertumbuhan pribadi, kontribusi kepada orang lain, dan menjalani nilai-nilai yang diyakini.
Seseorang yang hanya berfokus pada pencapaian mungkin akan memperoleh kebahagiaan hedonik. Namun setelah target selesai, rasa bahagia itu cepat menghilang.
Sebaliknya, mereka yang memiliki tujuan hidup yang lebih luas—seperti membantu orang lain, terus belajar, membangun hubungan yang sehat, atau memberi manfaat bagi masyarakat—cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih stabil.
Inilah sebabnya mengapa banyak orang sukses tetap merasa kosong meskipun telah memiliki segala sesuatu yang dahulu mereka impikan.
Bagaimana Mengatasi Perasaan Hampa Setelah Berhasil?
Mengalami kehampaan setelah mencapai tujuan bukan berarti ada yang salah dengan diri Anda. Yang terpenting adalah memahami bahwa pencapaian hanyalah salah satu bagian dari perjalanan hidup.
Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:
Memberikan waktu untuk menikmati hasil perjuangan tanpa terburu-buru mengejar target berikutnya.
Menetapkan tujuan baru yang lebih bermakna, bukan sekadar lebih besar.
Mengembangkan hubungan sosial yang sehat dengan keluarga dan teman.
Fokus pada proses belajar dan pertumbuhan diri, bukan hanya hasil akhir.
Melakukan refleksi mengenai nilai-nilai hidup yang benar-benar penting.
Bersyukur atas pencapaian sambil tetap membuka ruang untuk perkembangan berikutnya.
Dengan cara ini, seseorang dapat membangun kehidupan yang tidak hanya dipenuhi pencapaian, tetapi juga makna.
Penutup
Merasa hampa setelah mencapai tujuan merupakan fenomena psikologis yang cukup umum. Hal ini dapat terjadi karena otak lebih menikmati proses mengejar daripada memiliki, adanya adaptasi terhadap kebahagiaan, perubahan identitas diri, dominasi tujuan eksternal, hilangnya arah setelah target tercapai, hingga kurangnya makna hidup yang lebih dalam.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
