Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 27 Juli 2026 | 02.32 WIB

7 Alasan Masuk Akal Mengapa Orang-Orang Begitu Bergantung pada Media Sosial Menurut Psikologi

seseorang yang begitu bergantung kepada media sosial / foto: Magnific/user25451090

 

JawaPos.com - Di era digital, media sosial telah menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Bangun tidur, banyak orang langsung membuka Instagram, TikTok, Facebook, atau X (Twitter). Saat makan, bekerja, hingga menjelang tidur, media sosial terus menjadi teman yang selalu hadir di genggaman.

Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan. Dari sudut pandang psikologi, ada berbagai mekanisme dalam otak manusia yang membuat media sosial terasa begitu menarik bahkan sulit ditinggalkan. Bukan berarti semua pengguna mengalami kecanduan, tetapi banyak orang tanpa sadar menjadi sangat bergantung karena berbagai kebutuhan psikologis mereka terpenuhi melalui platform digital tersebut.

Lalu, mengapa hal ini bisa terjadi?

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (26/7), terdapat tujuh alasan yang dijelaskan berdasarkan ilmu psikologi.

1. Otak Menyukai Hadiah yang Tidak Terduga (Dopamine Reward System)

Salah satu alasan utama seseorang terus membuka media sosial adalah adanya sistem penghargaan di dalam otak atau reward system.

Setiap kali seseorang mendapatkan:

Like
Komentar
Followers baru
Notifikasi
Pesan masuk

otak akan melepaskan dopamin, yaitu neurotransmitter yang berhubungan dengan rasa senang dan motivasi.

Yang membuat media sosial sangat menarik adalah hadiah tersebut bersifat tidak dapat diprediksi.

Kadang sebuah unggahan mendapat banyak respons.

Kadang hanya sedikit.

Ketidakpastian inilah yang membuat otak terus penasaran.

Fenomena ini dikenal sebagai variable reward, prinsip psikologis yang juga digunakan pada mesin judi dan permainan kasino.

Karena tidak tahu kapan "hadiah" berikutnya datang, seseorang akan terus membuka aplikasi berulang kali.

2. Manusia Memiliki Kebutuhan Dasar untuk Diterima

Menurut psikologi sosial, manusia adalah makhluk sosial.

Sejak ribuan tahun lalu, bertahan hidup bergantung pada kemampuan seseorang diterima oleh kelompoknya.

Meskipun zaman telah berubah, kebutuhan tersebut tetap melekat.

Media sosial menjadi tempat untuk memperoleh:

pengakuan,
perhatian,
validasi,
penerimaan sosial.

Ketika foto mendapat ribuan like atau komentar positif, seseorang merasa dirinya dihargai.

Sebaliknya, ketika unggahan sepi respons, sebagian orang mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

Karena itulah banyak orang tanpa sadar menghubungkan harga dirinya dengan angka-angka di media sosial.

3. Fear of Missing Out (FOMO)

FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa takut tertinggal dari pengalaman orang lain.

Psikologi menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan membandingkan dirinya dengan lingkungan.

Media sosial memperbesar kecenderungan tersebut.

Setiap hari kita melihat teman:

liburan,
membeli mobil,
menikah,
naik jabatan,
membuka bisnis,
mendapat penghargaan.

Walaupun hanya sebagian kecil dari kehidupan mereka yang ditampilkan, otak menganggap itulah kenyataan.

Akibatnya muncul pikiran seperti:

"Semua orang lebih sukses daripada saya."
"Saya tertinggal."
"Saya harus terus membuka media sosial agar tidak ketinggalan informasi."

Perasaan inilah yang membuat seseorang sulit melepaskan diri dari media sosial.

4. Media Sosial Memberikan Pelarian dari Stres

Dalam psikologi terdapat istilah coping mechanism, yaitu cara seseorang menghadapi tekanan hidup.

Banyak orang menggunakan media sosial sebagai bentuk pelarian.

Misalnya ketika:

bosan,
sedih,
marah,
kesepian,
stres karena pekerjaan.

Alih-alih menyelesaikan masalah, mereka membuka TikTok atau Instagram selama beberapa menit.

Masalahnya, beberapa menit sering berubah menjadi satu hingga dua jam.

Konten yang terus berganti membuat otak merasa sedang "beristirahat", padahal sebenarnya hanya mengalihkan perhatian sementara.

Ketika stres kembali muncul, orang tersebut kembali membuka media sosial.

Siklus ini dapat berlangsung terus-menerus.

5. Perbandingan Sosial Membuat Orang Terus Mengikuti Kehidupan Orang Lain

Psikolog Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain.

Media sosial menyediakan jutaan objek perbandingan setiap hari.

Orang melihat:

tubuh ideal,
rumah mewah,
karier sukses,
pasangan romantis,
kehidupan yang tampak sempurna.

Padahal sebagian besar konten merupakan hasil seleksi terbaik bahkan telah diedit.

Namun otak tetap membandingkan kehidupan nyata kita dengan "versi terbaik" kehidupan orang lain.

Akibatnya seseorang semakin sering membuka media sosial untuk melihat apakah dirinya sudah "cukup baik".

6. Algoritma Dirancang Agar Pengguna Bertahan Selama Mungkin

Ketergantungan terhadap media sosial bukan hanya dipengaruhi psikologi manusia, tetapi juga desain aplikasinya.

Platform modern menggunakan algoritma yang mempelajari:

apa yang kita sukai,
video yang ditonton paling lama,
postingan yang sering diklik,
akun yang sering dikunjungi.

Semakin sering seseorang menggunakan aplikasi, semakin akurat algoritma memahami preferensinya.

Akhirnya halaman media sosial terasa seperti "dibuat khusus" untuk dirinya.

Konten menjadi semakin menarik.

Video berikutnya selalu terasa lebih relevan.

Inilah alasan mengapa seseorang sering berkata:

"Saya cuma buka lima menit."

Namun tanpa sadar satu jam telah berlalu.

7. Media Sosial Memenuhi Kebutuhan Identitas Diri

Menurut teori perkembangan Erik Erikson, manusia memiliki kebutuhan untuk membentuk identitas dirinya.

Media sosial memberikan ruang bagi seseorang untuk menunjukkan:

siapa dirinya,
apa hobinya,
bagaimana gaya hidupnya,
apa yang ia yakini,
bagaimana ia ingin dipandang orang lain.

Melalui foto, video, bio, hingga unggahan harian, seseorang membangun citra dirinya.

Ketika citra tersebut mendapat respons positif, rasa percaya diri meningkat.

Namun jika respons negatif muncul, sebagian orang mengalami kecemasan, bahkan menghapus unggahan mereka.

Artinya, media sosial bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas psikologis seseorang.

Dampak Positif dan Negatif Ketergantungan Media Sosial

Ketergantungan pada media sosial tidak selalu buruk. Dalam kadar yang sehat, media sosial dapat memberikan banyak manfaat.

Dampak positif
Mempermudah komunikasi.
Menambah wawasan.
Membuka peluang bisnis.
Memperluas jaringan profesional.
Menjadi sarana belajar dan hiburan.
Dampak negatif
Menurunkan produktivitas.
Mengganggu kualitas tidur.
Meningkatkan kecemasan.
Menimbulkan perasaan rendah diri.
Memicu kecanduan digital.
Mengurangi interaksi sosial secara langsung.

Kuncinya bukan menghindari media sosial sepenuhnya, melainkan menggunakannya secara sadar dan seimbang.

Cara Mengurangi Ketergantungan pada Media Sosial

Jika merasa terlalu sering membuka media sosial, beberapa langkah berikut dapat membantu:

Tetapkan batas waktu penggunaan setiap hari.
Matikan notifikasi yang tidak penting.
Hindari membuka media sosial saat baru bangun atau sebelum tidur.
Isi waktu luang dengan aktivitas nyata seperti olahraga, membaca, atau bertemu teman.
Lakukan digital detox secara berkala, misalnya satu hari tanpa media sosial setiap minggu.
Sadari bahwa apa yang terlihat di media sosial sering kali hanyalah "highlight" kehidupan orang lain, bukan gambaran utuh.
Kesimpulan

Ketergantungan terhadap media sosial bukan semata-mata karena kurangnya disiplin, tetapi merupakan hasil interaksi antara kebutuhan psikologis manusia dan desain platform yang memang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna. Faktor seperti sistem penghargaan dopamin, kebutuhan akan penerimaan sosial, FOMO, pelarian dari stres, kecenderungan membandingkan diri, algoritma yang sangat personal, hingga pencarian identitas membuat media sosial terasa begitu sulit untuk dilepaskan.

Memahami mekanisme psikologis ini adalah langkah awal untuk menggunakan media sosial secara lebih bijak. Ketika kita menyadari mengapa kita terdorong untuk terus membuka aplikasi, kita memiliki peluang yang lebih besar untuk mengendalikan kebiasaan tersebut, bukan dikendalikan olehnya. Dengan keseimbangan yang tepat, media sosial dapat tetap menjadi alat yang bermanfaat tanpa harus mengorbankan kesehatan mental, produktivitas, maupun kualitas hubungan di dunia nyata.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore