seseorang yang terlalu banyak memberi nasihat kepada anak / foto: Magnific/peoplecreations
JawaPos.com - Di era media sosial, menjadi orang tua terasa semakin rumit. Setiap hari kita disuguhi berbagai tips parenting dari psikolog, influencer, dokter, hingga sesama orang tua. Ada yang menyarankan agar anak tidak boleh dimarahi, ada yang mengatakan disiplin adalah kunci, sementara yang lain menekankan pentingnya kebebasan berekspresi.
Ironisnya, semakin banyak informasi yang kita konsumsi, semakin banyak pula orang tua yang merasa bingung, cemas, bahkan kehilangan kepercayaan diri.
Psikologi modern menunjukkan bahwa terlalu banyak menerima nasihat justru dapat menurunkan kualitas pengasuhan. Bukan karena nasihat itu buruk, tetapi karena otak manusia memiliki keterbatasan dalam mengolah informasi, terlebih ketika harus mengambil keputusan yang cepat dan emosional.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (26/7), terdapat enam alasan mengapa terlalu banyak nasihat dapat membuat kita menjadi orang tua yang kurang efektif.
1. Terjadi Information Overload (Kelebihan Informasi)
Dalam psikologi kognitif, terdapat konsep information overload, yaitu kondisi ketika jumlah informasi yang diterima melebihi kapasitas otak untuk memprosesnya.
Ketika seorang orang tua membaca puluhan artikel, menonton berbagai video parenting, dan mengikuti banyak akun edukasi, otak harus memilah mana yang benar, mana yang cocok, dan mana yang harus diterapkan.
Akibatnya justru muncul kebingungan.
Misalnya:
Hari ini membaca bahwa anak harus diberi kebebasan memilih.
Besok membaca bahwa orang tua harus lebih tegas.
Lusa mendengar bahwa terlalu tegas bisa menyebabkan trauma.
Semua informasi tersebut mungkin benar dalam konteks tertentu, tetapi tanpa memahami konteksnya, orang tua menjadi ragu terhadap setiap keputusan yang dibuat.
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa ketika seseorang mengalami information overload, kualitas pengambilan keputusan cenderung menurun dan tingkat stres meningkat.
2. Menurunkan Kepercayaan Diri Sebagai Orang Tua
Psikolog Albert Bandura memperkenalkan konsep self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu melakukan suatu tugas dengan baik.
Dalam pengasuhan, self-efficacy sangat penting.
Namun ketika setiap keputusan selalu dibandingkan dengan nasihat orang lain, orang tua mulai berpikir:
"Apakah cara saya salah?"
"Apakah saya kurang sabar?"
"Apakah saya merusak masa depan anak?"
Lama-kelamaan, kepercayaan terhadap intuisi sendiri menghilang.
Padahal penelitian menunjukkan bahwa orang tua yang memiliki self-efficacy tinggi cenderung lebih tenang, konsisten, dan mampu menghadapi tantangan pengasuhan dibanding mereka yang selalu meragukan dirinya sendiri.
3. Memicu Parenting Anxiety
Semakin banyak informasi yang dikonsumsi, semakin besar peluang munculnya kecemasan.
Fenomena ini sering disebut sebagai parenting anxiety.
Orang tua menjadi takut melakukan kesalahan sekecil apa pun karena merasa setiap tindakan akan menentukan masa depan anak.
Contohnya:
Takut anak terlambat bicara.
Takut anak terlalu sering bermain.
Takut anak terlalu banyak menonton televisi.
Takut anak kurang stimulasi.
Takut anak tidak cukup percaya diri.
Padahal sebagian besar perkembangan anak bersifat alami dan memiliki rentang waktu yang berbeda-beda.
Kecemasan yang berlebihan justru membuat orang tua menjadi lebih mudah marah, cepat lelah, dan sulit menikmati proses tumbuh kembang anak.
4. Membuat Orang Tua Tidak Konsisten
Anak belajar melalui pola yang konsisten.
Ketika aturan berubah setiap minggu karena mengikuti nasihat terbaru, anak menjadi bingung.
Misalnya:
Minggu pertama:
"Gadget tidak boleh sama sekali."
Minggu kedua:
"Boleh satu jam."
Minggu ketiga:
"Gadget boleh asal edukatif."
Minggu berikutnya:
"Gadget harus dihentikan lagi."
Perubahan yang terlalu sering membuat anak sulit memahami batasan yang sebenarnya.
Menurut teori social learning dari Bandura, konsistensi perilaku orang tua jauh lebih berpengaruh daripada banyaknya aturan yang dibuat.
Anak membutuhkan kepastian, bukan perubahan aturan yang terus-menerus.
5. Mengurangi Sensitivitas Terhadap Kebutuhan Anak Sendiri
Setiap anak memiliki karakter yang unik.
Ada anak yang mudah diarahkan.
Ada yang sangat aktif.
Ada yang sensitif.
Ada yang mandiri sejak kecil.
Masalahnya, terlalu banyak mengikuti nasihat membuat orang tua lebih fokus pada "aturan umum" dibanding memahami anak yang ada di hadapannya.
Dalam psikologi perkembangan dikenal konsep goodness of fit, yaitu kecocokan antara karakter anak dengan pola pengasuhan orang tua.
Tidak ada satu metode parenting yang cocok untuk semua anak.
Strategi yang berhasil pada satu keluarga belum tentu efektif pada keluarga lain.
Karena itu, kemampuan mengamati kebutuhan anak sendiri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren parenting.
6. Menimbulkan Decision Fatigue
Setiap hari orang tua membuat ratusan keputusan.
Mulai dari:
Apa yang dimakan anak.
Jam tidur.
Cara menenangkan anak saat menangis.
Boleh atau tidak bermain.
Cara mendisiplinkan.
Memilih sekolah.
Jika setiap keputusan harus dipertimbangkan berdasarkan puluhan nasihat yang berbeda, otak menjadi kelelahan.
Fenomena ini disebut decision fatigue.
Ketika mengalami decision fatigue, seseorang cenderung:
Menunda keputusan.
Mengambil keputusan secara impulsif.
Lebih mudah marah.
Kehilangan kesabaran.
Ironisnya, kondisi ini justru berlawanan dengan tujuan awal mempelajari parenting, yaitu agar menjadi orang tua yang lebih baik.
Bagaimana Menyikapi Banyaknya Nasihat Parenting?
Bukan berarti kita harus menutup diri dari ilmu psikologi atau berhenti belajar tentang pengasuhan. Justru pengetahuan yang baik dapat membantu orang tua memahami perkembangan anak dengan lebih tepat.
Yang perlu dilakukan adalah menyaring informasi secara bijaksana.
Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:
Pilih beberapa sumber yang kredibel daripada mengikuti puluhan akun sekaligus.
Terapkan satu pendekatan dalam jangka waktu tertentu sebelum menilai hasilnya.
Perhatikan karakter unik anak, bukan hanya teori umum.
Diskusikan dengan pasangan agar pola pengasuhan tetap konsisten.
Percayai intuisi yang didukung pengetahuan, bukan rasa takut atau tekanan media sosial.
Dengan cara ini, orang tua dapat memperoleh manfaat dari ilmu psikologi tanpa terjebak dalam kebingungan akibat terlalu banyak informasi.
Penutup
Menjadi orang tua bukanlah tentang mengikuti semua nasihat yang ada, melainkan memahami mana yang paling sesuai dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga. Psikologi menunjukkan bahwa kelebihan informasi dapat memicu kebingungan, kecemasan, kelelahan mental, hingga menurunkan kepercayaan diri dalam mengasuh.
Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna dan selalu mengikuti tren parenting terbaru. Yang mereka butuhkan adalah orang tua yang hadir, konsisten, mampu belajar, dan bersedia menyesuaikan diri dengan kebutuhan mereka dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, kualitas hubungan antara orang tua dan anak jauh lebih menentukan dibanding seberapa banyak buku parenting yang telah dibaca atau berapa banyak nasihat yang berhasil diikuti.***