seseorang yang terlihat kurang percaya diri / foto: Magnific/yaroslav-astakhov-
JawaPos.com - Percaya diri bukan hanya tentang bagaimana kita memandang diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana orang lain menangkap sinyal-sinyal yang kita tampilkan.
Menariknya, banyak orang sebenarnya memiliki kemampuan yang baik, pengetahuan yang cukup, bahkan prestasi yang membanggakan, namun tetap dianggap kurang percaya diri karena kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan tanpa disadari.
Dalam psikologi, bahasa tubuh, pola komunikasi, dan kebiasaan sehari-hari berperan besar dalam membentuk kesan pertama. Otak manusia mampu membaca berbagai isyarat nonverbal hanya dalam hitungan detik. Itulah sebabnya seseorang bisa terlihat ragu meski sebenarnya sangat kompeten.
Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dikenali dan dilatih agar berubah.
Dilansir dari Sabtu (25/7), terdapat tujuh kebiasaan bawah sadar yang sering membuat seseorang terlihat kurang percaya diri menurut berbagai temuan psikologi.
1. Terlalu Sering Meminta Maaf
Mengucapkan "maaf" memang menunjukkan sopan santun. Namun ketika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini justru memberi kesan bahwa seseorang merasa dirinya selalu bersalah atau menjadi beban bagi orang lain.
Contohnya:
"Maaf mengganggu..."
"Maaf kalau pertanyaan saya bodoh..."
"Maaf ya, mungkin saya salah..."
Padahal dalam banyak situasi, permintaan maaf tersebut sebenarnya tidak diperlukan.
Menurut psikologi komunikasi, penggunaan kata "maaf" secara berlebihan dapat mengurangi persepsi terhadap kompetensi seseorang. Orang lain bisa menganggap bahwa pembicara tidak yakin terhadap apa yang ia katakan.
Cara memperbaikinya:
Gantilah kata "maaf" dengan ungkapan yang lebih positif, misalnya:
"Terima kasih sudah menunggu."
"Boleh saya bertanya?"
"Saya ingin mengklarifikasi satu hal."
Perubahan kecil ini dapat membuat komunikasi terasa lebih tegas sekaligus tetap sopan.
2. Menghindari Kontak Mata
Kontak mata merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang paling kuat.
Orang yang terus-menerus melihat ke bawah, menunduk, atau mengalihkan pandangan sering kali dianggap kurang percaya diri, meskipun sebenarnya mereka hanya merasa gugup atau pemalu.
Dalam psikologi sosial, kontak mata menunjukkan keterbukaan, kepercayaan diri, dan perhatian terhadap lawan bicara.
Sebaliknya, menghindari kontak mata dapat menimbulkan kesan bahwa seseorang:
tidak yakin,
menyembunyikan sesuatu,
atau tidak nyaman dengan dirinya sendiri.
Cara memperbaikinya:
Tidak perlu menatap terus-menerus. Cukup pertahankan kontak mata selama sekitar 50–70% percakapan agar interaksi terasa alami.
3. Sering Meremehkan Diri Sendiri
Kalimat seperti:
"Ah, saya cuma beruntung."
"Saya sebenarnya tidak terlalu pintar."
"Hasilnya biasa saja."
sering diucapkan untuk terdengar rendah hati.
Namun jika dilakukan terus-menerus, orang lain bisa benar-benar mempercayainya.
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai bentuk self-deprecating habit, yaitu kebiasaan mengecilkan kemampuan diri sendiri demi menghindari penilaian negatif.
Padahal, terlalu sering merendahkan diri justru dapat menurunkan citra profesional maupun sosial.
Cara memperbaikinya:
Belajarlah menerima pujian dengan sederhana.
Misalnya cukup mengatakan:
"Terima kasih, saya senang usaha saya bisa memberikan hasil yang baik."
Respons seperti ini tetap rendah hati tanpa merendahkan diri.
4. Postur Tubuh yang Tertutup
Tubuh sering kali berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Beberapa contoh postur yang memberi kesan kurang percaya diri antara lain:
bahu membungkuk,
kepala menunduk,
tangan terus disilangkan,
duduk terlalu mengecil,
sering menyembunyikan tangan.
Psikologi bahasa tubuh menunjukkan bahwa postur terbuka membuat seseorang terlihat lebih percaya diri sekaligus lebih mudah didekati.
Sebaliknya, postur tertutup sering dibaca sebagai tanda kecemasan atau rasa tidak aman.
Cara memperbaikinya:
Biasakan berdiri dengan:
bahu rileks,
punggung tegak,
dagu sejajar,
kedua tangan dalam posisi alami.
Perubahan sederhana ini dapat langsung mengubah kesan yang ditangkap orang lain.
5. Berbicara Terlalu Cepat atau Terlalu Pelan
Saat gugup, banyak orang berbicara sangat cepat sehingga lawan bicara kesulitan mengikuti.
Sebaliknya, ada pula yang berbicara terlalu pelan hingga terdengar ragu-ragu.
Kedua kebiasaan ini sama-sama dapat menurunkan persepsi kepercayaan diri.
Psikologi komunikasi menjelaskan bahwa tempo bicara yang stabil memberikan kesan tenang, matang, dan menguasai situasi.
Cara memperbaikinya:
Tarik napas sebelum menjawab.
Berikan jeda singkat setelah menyampaikan poin penting.
Fokus pada kejelasan, bukan kecepatan.
Berbicara lebih lambat justru sering membuat seseorang terdengar lebih meyakinkan.
6. Terlalu Sering Mencari Persetujuan Orang Lain
Contohnya:
"Menurutmu benar, kan?"
"Kamu setuju, kan?"
"Aku tidak salah, kan?"
Sesekali meminta pendapat adalah hal yang wajar.
Namun jika setiap keputusan selalu membutuhkan validasi orang lain, hal itu dapat memberi kesan bahwa seseorang tidak percaya pada penilaiannya sendiri.
Dalam psikologi, perilaku ini berkaitan dengan kebutuhan akan external validation, yaitu kecenderungan menggantungkan rasa aman pada persetujuan dari luar.
Cara memperbaikinya:
Mulailah menyampaikan pendapat secara lebih tegas.
Misalnya:
"Menurut saya, pilihan ini paling efektif karena..."
Kemudian bukalah ruang diskusi tanpa bergantung pada persetujuan sebagai syarat utama.
7. Terlalu Banyak Gerakan Gelisah (Fidgeting)
Kebiasaan seperti:
memainkan pulpen,
menggoyangkan kaki,
mengusap wajah berulang kali,
mengetuk meja,
memainkan rambut,
atau terus-menerus memegang ponsel,
sering muncul tanpa disadari saat seseorang merasa cemas.
Dalam psikologi, perilaku ini merupakan bentuk pelepasan ketegangan (displacement behavior).
Meskipun wajar, gerakan yang berlebihan membuat orang lain menangkap sinyal bahwa kita sedang gugup atau tidak yakin.
Cara memperbaikinya:
Sadari kebiasaan tersebut dan alihkan energi ke gerakan yang lebih terkontrol.
Misalnya:
letakkan kedua tangan di pangkuan,
pegang gelas dengan santai,
atau lakukan pernapasan perlahan sebelum berbicara.
Semakin tenang gerakan tubuh, semakin besar kesan percaya diri yang ditampilkan.
Kepercayaan Diri Berasal dari Kebiasaan Kecil
Percaya diri bukanlah sifat bawaan yang hanya dimiliki sebagian orang. Dalam banyak kasus, rasa percaya diri dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Mengurangi permintaan maaf yang tidak perlu, memperbaiki postur tubuh, menjaga kontak mata, berbicara dengan tempo yang tenang, serta berhenti meremehkan diri sendiri dapat memberikan perubahan besar pada cara orang lain memandang kita.
Yang terpenting, kepercayaan diri sejati bukan berarti selalu merasa sempurna. Justru, orang yang benar-benar percaya diri mampu menerima bahwa dirinya memiliki kekurangan, tetapi tetap berani bertindak dan menyampaikan pendapat tanpa rasa takut berlebihan.
Mulailah memperhatikan kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut dalam aktivitas sehari-hari. Semakin sering dilatih, semakin alami pula kesan percaya diri yang terpancar dari diri Anda.***