Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Juli 2026 | 22.18 WIB

4 Ungkapan Sederhana yang Dapat Menghancurkan Kepercayaan dalam Sebuah Hubungan Menurut Psikologi

seseorang yang kehilangan kepercayaan dalam sebuah hubungan / foto: Magnific/prostock-studio

 

JawaPos.com - Kepercayaan merupakan fondasi utama dalam setiap hubungan, baik hubungan romantis, persahabatan, maupun keluarga. Tanpa kepercayaan, hubungan akan dipenuhi rasa curiga, ketidakpastian, dan konflik yang sulit diselesaikan. Menariknya, kerusakan kepercayaan tidak selalu disebabkan oleh perselingkuhan atau kebohongan besar. Dalam psikologi, justru kata-kata sederhana yang diucapkan berulang kali dapat mengikis rasa aman dan kedekatan emosional.
 
Banyak orang menganggap sebuah ungkapan hanyalah "sekadar kata-kata". Padahal, menurut berbagai penelitian psikologi komunikasi, bahasa memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang memandang dirinya sendiri dan kualitas hubungan yang dijalani. Ucapan yang terdengar sepele dapat meninggalkan luka emosional yang bertahan lama jika diulang terus-menerus.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (23/7), terdapat empat ungkapan sederhana yang tanpa disadari dapat menghancurkan kepercayaan dalam sebuah hubungan menurut perspektif psikologi.

1. "Kamu Terlalu Sensitif"

Kalimat ini sering muncul ketika salah satu pasangan atau anggota keluarga mengungkapkan perasaannya. Sekilas terdengar seperti komentar biasa, tetapi sebenarnya kalimat tersebut termasuk bentuk invalidasi emosional.

Saat seseorang berkata, "Kamu terlalu sensitif," pesan yang diterima lawan bicara adalah bahwa perasaannya tidak penting atau bahkan salah. Akibatnya, ia mulai ragu untuk mengungkapkan emosi di kemudian hari.

Mengapa berbahaya?

Psikologi menjelaskan bahwa setiap individu membutuhkan validasi emosional, yaitu pengakuan bahwa apa yang dirasakan adalah sesuatu yang wajar. Ketika perasaan terus-menerus dianggap berlebihan, seseorang dapat mengalami:

Menurunnya rasa percaya kepada pasangan.
Kesulitan terbuka mengenai masalah yang sebenarnya.
Meningkatnya kecemasan dalam hubungan.
Perasaan kesepian meskipun berada dalam sebuah hubungan.

Dalam jangka panjang, hubungan kehilangan rasa aman karena salah satu pihak merasa tidak didengarkan.

Kalimat yang lebih sehat

Daripada mengatakan "Kamu terlalu sensitif," cobalah mengatakan:

"Aku mungkin belum memahami sudut pandangmu. Ceritakan apa yang kamu rasakan."

Kalimat sederhana ini menunjukkan empati tanpa harus langsung menyetujui semua pendapat pasangan.

2. "Aku Bercanda Kok"

Humor memang dapat mempererat hubungan. Namun, menggunakan candaan untuk menyampaikan kritik atau hinaan justru bisa menjadi racun dalam komunikasi.

Sering kali seseorang melontarkan komentar yang menyakitkan, lalu ketika lawan bicara tersinggung, ia berkata, "Aku bercanda kok."

Dampaknya menurut psikologi

Ungkapan ini membuat seseorang merasa bahwa emosinya tidak valid. Selain itu, pasangan akan kesulitan membedakan kapan lawan bicaranya benar-benar serius dan kapan hanya bercanda.

Akibatnya muncul beberapa kondisi seperti:

Berkurangnya rasa aman saat berkomunikasi.
Muncul rasa takut menjadi bahan ejekan.
Menurunnya kepercayaan terhadap niat baik pasangan.
Konflik yang terus berulang.

Hubungan yang sehat membutuhkan humor yang membuat kedua belah pihak tertawa, bukan hanya satu pihak.

Cara yang lebih baik

Jika candaan ternyata menyakiti orang lain, lebih baik katakan:

"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu. Terima kasih sudah memberitahuku."

Permintaan maaf yang tulus jauh lebih membangun dibandingkan membela diri dengan alasan bercanda.

3. "Terserah"

Kata "terserah" mungkin menjadi salah satu ungkapan paling sering diucapkan dalam hubungan. Namun, maknanya sering kali jauh lebih kompleks daripada sekadar memberikan kebebasan memilih.

Dalam banyak kasus, "terserah" sebenarnya merupakan bentuk komunikasi pasif-agresif.

Mengapa dapat merusak kepercayaan?

Saat seseorang berulang kali menjawab dengan "terserah", pasangan akan merasa:

Pendapatnya tidak dihargai.
Lawan bicara tidak mau berusaha mencari solusi.
Ada emosi yang disembunyikan.
Komunikasi menjadi tidak jujur.

Kepercayaan tumbuh dari keterbukaan. Sebaliknya, jawaban yang ambigu membuat pasangan terus menebak-nebak isi hati kita.

Alternatif yang lebih positif

Daripada hanya berkata "terserah", cobalah mengungkapkan keinginan secara jelas.

Misalnya:

"Aku sebenarnya lebih suka makan di restoran A, tapi kalau kamu ingin restoran B juga tidak masalah."

Kalimat seperti ini menunjukkan kejujuran sekaligus kompromi.

4. "Kamu Selalu..." atau "Kamu Tidak Pernah..."

Dalam psikologi komunikasi, penggunaan kata-kata absolut seperti selalu dan tidak pernah sering memperburuk konflik.

Contohnya:

"Kamu selalu mengecewakanku."
"Kamu tidak pernah mendengarkan aku."
"Kamu selalu egois."

Kalimat-kalimat tersebut membuat lawan bicara merasa diserang sebagai pribadi, bukan diajak membahas perilaku tertentu.

Efek psikologis

Ketika seseorang terus menerima tuduhan yang bersifat menyeluruh, respons alami yang muncul biasanya adalah:

Membela diri.
Menolak kritik.
Menyerang balik.
Menarik diri dari percakapan.

Alih-alih menyelesaikan masalah, konflik justru semakin membesar.

Cara menyampaikan kritik yang lebih efektif

Fokuslah pada perilaku spesifik, bukan karakter seseorang.

Misalnya:

"Aku merasa sedih ketika pesan dariku tidak dibalas selama seharian."

Kalimat tersebut lebih mudah diterima karena menjelaskan situasi konkret tanpa memberi label negatif kepada pasangan.

Mengapa Kata-Kata Sangat Berpengaruh terhadap Kepercayaan?

Psikologi menjelaskan bahwa otak manusia membangun rasa aman melalui pengalaman yang konsisten. Jika seseorang terus-menerus menerima komunikasi yang meremehkan, menyalahkan, atau membingungkan, otak mulai menganggap hubungan tersebut sebagai lingkungan yang tidak aman.

Akibatnya, pasangan menjadi lebih sulit untuk:

Terbuka mengenai perasaan.
Mengakui kesalahan.
Meminta bantuan.
Percaya pada niat baik pasangannya.

Sebaliknya, komunikasi yang penuh empati akan memperkuat ikatan emosional dan meningkatkan rasa saling percaya.

Cara Menjaga Kepercayaan dalam Hubungan

Kepercayaan tidak dibangun melalui hadiah mahal atau kata-kata romantis semata, melainkan melalui komunikasi sehari-hari yang konsisten. Beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu antara lain:

Dengarkan tanpa langsung menghakimi.
Validasi perasaan pasangan meskipun memiliki pendapat berbeda.
Minta maaf ketika melakukan kesalahan.
Hindari menyindir atau meremehkan.
Jujur mengenai apa yang dirasakan.
Tepati janji, sekecil apa pun.

Langkah-langkah kecil tersebut akan menciptakan rasa aman yang menjadi dasar hubungan yang sehat.

Kesimpulan

Hubungan yang kuat tidak hanya dibangun oleh cinta, tetapi juga oleh komunikasi yang sehat. Ungkapan sederhana seperti "Kamu terlalu sensitif," "Aku bercanda kok," "Terserah," atau "Kamu selalu..." mungkin terdengar biasa, tetapi jika diucapkan berulang kali dapat mengikis kepercayaan dan kedekatan emosional.

Menurut psikologi, menjaga hubungan bukan berarti menghindari konflik sama sekali, melainkan memilih kata-kata yang menghargai perasaan, membuka ruang dialog, dan menunjukkan empati. Dengan komunikasi yang lebih sadar, kepercayaan akan tumbuh lebih kuat, sehingga hubungan menjadi lebih harmonis dan bertahan dalam jangka panjang.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore