Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Juli 2026 | 21.45 WIB

Jika Anda Pernah Melakukan 7 Perilaku Ini di Media Sosial, Tanpa Disadari Anda Telah Melakukan Perundungan Menurut Psikologi

seseorang yang tanpa sadar melakukan perundungan di media sosial / foto: Magnific/reezky11

 

JawaPos.com - Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hanya dengan beberapa sentuhan jari, seseorang bisa membagikan pendapat, memberikan komentar, atau bereaksi terhadap unggahan orang lain. Sayangnya, kemudahan ini juga membuat batas antara "sekadar bercanda" dan "perundungan" menjadi semakin kabur.
 
Banyak orang menganggap bahwa perundungan (bullying) hanya terjadi ketika seseorang menghina atau mengancam orang lain secara terang-terangan. Padahal, menurut psikologi, perilaku yang tampak sepele sekalipun dapat memberikan dampak emosional yang besar jika dilakukan berulang kali atau melibatkan banyak orang.

Fenomena ini dikenal sebagai cyberbullying, yaitu tindakan yang bertujuan menyakiti, mempermalukan, mengintimidasi, atau merendahkan seseorang melalui media digital. Menariknya, pelaku cyberbullying sering kali tidak menyadari bahwa perilakunya sudah termasuk bentuk perundungan.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (22/7), terdapat tujuh perilaku di media sosial yang mungkin pernah Anda lakukan, tetapi menurut psikologi dapat dikategorikan sebagai bentuk perundungan.

1. Ikut Menertawakan Seseorang di Kolom Komentar

Pernah melihat seseorang menjadi bahan candaan di media sosial, lalu ikut memberikan emoji tertawa atau komentar lucu?

Banyak orang menganggap tindakan ini tidak berbahaya karena mereka bukan pihak yang memulai ejekan. Namun dalam psikologi sosial, perilaku tersebut disebut sebagai bystander reinforcement, yaitu ketika orang-orang yang hanya menjadi "penonton" justru memperkuat tindakan perundungan.

Bagi korban, puluhan atau bahkan ratusan komentar yang menertawakan dirinya terasa seperti serangan dari banyak orang sekaligus. Hal ini dapat meningkatkan rasa malu, stres, bahkan kecemasan.

Kadang satu emoji tertawa memang terlihat sepele. Namun jika dilakukan oleh ribuan pengguna, dampaknya menjadi sangat besar bagi kondisi psikologis korban.

2. Membagikan Foto atau Video Memalukan Tanpa Izin

Media sosial dipenuhi video orang terpeleset, menangis, melakukan kesalahan saat berbicara, atau mengalami kejadian yang memalukan.

Banyak orang membagikan konten tersebut hanya karena dianggap lucu atau sedang viral. Padahal, dari sudut pandang psikologi, menyebarkan konten yang mempermalukan seseorang tanpa persetujuannya dapat menjadi bentuk eksploitasi sosial.

Korban kehilangan kendali atas citra dirinya karena kesalahan atau momen buruknya terus disebarluaskan.

Semakin banyak orang yang membagikannya, semakin sulit pula korban menghapus jejak digital tersebut. Akibatnya, rasa malu dapat bertahan jauh lebih lama dibandingkan kejadian yang sebenarnya.

3. Meninggalkan Komentar Bernada Sarkastik atau "Bercanda"

Kalimat seperti:

"Santai saja, kan cuma bercanda."
"Baper banget sih."
"Humor doang kok."

Sering digunakan untuk membenarkan komentar yang sebenarnya menyakitkan.

Dalam psikologi komunikasi, humor memang dapat mempererat hubungan. Namun humor yang menjadikan seseorang sebagai objek ejekan disebut sebagai aggressive humor.

Humor semacam ini sering digunakan untuk menyampaikan kritik atau penghinaan secara terselubung sehingga pelaku dapat menghindari tanggung jawab dengan mengatakan bahwa itu hanya candaan.

Jika seseorang merasa dipermalukan oleh candaan tersebut, maka dampaknya tetap nyata meskipun niat pelaku mengaku hanya bercanda.

4. Mengucilkan Seseorang dari Percakapan atau Grup

Perundungan tidak selalu berbentuk hinaan.

Dalam psikologi, tindakan mengabaikan seseorang secara sengaja atau mengeluarkannya dari kelompok tanpa alasan yang jelas termasuk bentuk relational aggression atau agresi relasional.

Contohnya:

Sengaja mengeluarkan seseorang dari grup.
Membuat grup baru tanpa melibatkannya.
Menghindari semua komentarnya.
Mengajak semua orang untuk tidak berinteraksi dengannya.

Pengucilan sosial dapat menimbulkan rasa kesepian, penolakan, hingga menurunkan harga diri.

Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa otak manusia memproses penolakan sosial hampir sama seperti rasa sakit fisik.

5. Menyebarkan Gosip atau Informasi yang Belum Tentu Benar

Di era media sosial, sebuah rumor dapat menyebar ke ribuan orang hanya dalam hitungan menit.

Sayangnya, banyak orang membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya.

Ketika informasi tersebut ternyata salah atau dilebih-lebihkan, reputasi korban bisa rusak meskipun akhirnya klarifikasi telah diberikan.

Psikologi menyebut fenomena ini sebagai character assassination, yaitu penghancuran citra seseorang melalui informasi negatif yang belum tentu benar.

Korban dapat kehilangan kepercayaan dari lingkungan, mengalami tekanan emosional, bahkan menarik diri dari kehidupan sosial.

6. Mengirim Pesan Kasar Secara Anonim

Media sosial memberi kesempatan bagi sebagian orang untuk menggunakan akun anonim.

Perasaan tidak dikenal membuat sebagian pengguna lebih berani mengatakan hal-hal yang tidak akan mereka ucapkan secara langsung.

Fenomena ini dikenal sebagai online disinhibition effect, yaitu kecenderungan seseorang menjadi lebih agresif ketika identitasnya tersembunyi.

Komentar seperti:

"Mending nggak usah hidup."
"Jelek banget."
"Nggak ada yang suka sama kamu."

Mungkin hanya diketik dalam beberapa detik.

Namun bagi penerimanya, kata-kata tersebut dapat terus teringat selama bertahun-tahun.

7. Terus-Menerus Mengkritik atau Menyerang Orang yang Sama

Memberikan kritik bukanlah perundungan.

Namun ketika seseorang terus menjadi sasaran komentar negatif dari orang yang sama atau dari kelompok yang sama, perilaku tersebut mulai berubah menjadi intimidasi.

Dalam psikologi, frekuensi dan pola perilaku merupakan faktor penting dalam menentukan apakah suatu tindakan termasuk bullying.

Misalnya:

Selalu mengomentari penampilan orang tertentu.
Terus mencari kesalahannya.
Menunggu unggahannya hanya untuk memberikan komentar negatif.

Serangan yang berulang membuat korban merasa diawasi, tidak aman, dan kehilangan rasa percaya diri.

Mengapa Banyak Orang Tidak Menyadari Sedang Melakukan Perundungan?

Psikolog menjelaskan bahwa media sosial menciptakan jarak emosional antara pelaku dan korban.

Karena tidak melihat ekspresi wajah, tangisan, atau reaksi langsung korban, pelaku menjadi lebih sulit berempati.

Selain itu, adanya dukungan dari banyak pengguna lain membuat seseorang merasa tindakannya wajar.

Fenomena ini disebut sebagai deindividuasi, yaitu kondisi ketika seseorang merasa identitas pribadinya "melebur" dalam kelompok sehingga lebih mudah melakukan tindakan yang biasanya tidak akan dilakukan saat berinteraksi secara langsung.

Dampak Cyberbullying bagi Korban

Perundungan di media sosial bukan sekadar membuat seseorang sedih sesaat.

Berbagai penelitian psikologi menunjukkan bahwa cyberbullying dapat meningkatkan risiko:

Kecemasan berlebihan.
Stres kronis.
Menurunnya rasa percaya diri.
Gangguan tidur.
Depresi.
Menarik diri dari lingkungan sosial.
Penurunan prestasi belajar maupun produktivitas kerja.

Pada kasus yang berat, korban bahkan dapat mengalami trauma psikologis yang memerlukan penanganan profesional.

Bagaimana Menjadi Pengguna Media Sosial yang Lebih Sehat?

Sebelum menekan tombol Kirim, biasakan bertanya kepada diri sendiri:

Apakah komentar ini akan menyakiti seseorang?
Apakah saya akan mengatakan hal yang sama jika bertemu langsung dengannya?
Apakah informasi yang saya bagikan sudah benar?
Apakah komentar saya membantu atau justru memperburuk situasi?

Empati merupakan salah satu keterampilan sosial terpenting dalam dunia digital. Setiap unggahan di balik layar dibuat oleh manusia yang memiliki perasaan, harga diri, dan kehidupan nyata.

Kesimpulan

Perundungan di media sosial tidak selalu berupa hinaan terang-terangan. Ikut menertawakan seseorang, menyebarkan konten memalukan, melontarkan candaan yang merendahkan, mengucilkan orang lain, menyebarkan gosip, mengirim komentar kasar secara anonim, hingga terus-menerus menyerang individu yang sama dapat menjadi bentuk cyberbullying menurut psikologi.

Memahami hal ini bukan berarti kita harus takut berpendapat, melainkan lebih bijak dalam berinteraksi di dunia digital. Kata-kata yang tampak sederhana bagi kita bisa menjadi beban yang berat bagi orang lain. Dengan mengutamakan empati dan rasa hormat, media sosial dapat menjadi ruang yang lebih sehat, aman, dan positif bagi semua orang.***

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore