Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 Juli 2026 | 19.58 WIB

4 Perilaku yang Sebaiknya Dihindari Jika Anda Tidak Ingin Persahabatan Baik Berubah Menjadi Buruk Menurut Psikologi

seseorang yang menjalin persahabatan yang baik / foto: Magnific/halayalex

 

JawaPos.com - Persahabatan merupakan salah satu hubungan sosial yang memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hidup seseorang. Memiliki sahabat yang dapat dipercaya tidak hanya memberikan dukungan emosional, tetapi juga membantu seseorang menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Berbagai penelitian dalam psikologi menunjukkan bahwa persahabatan yang sehat mampu meningkatkan kesejahteraan mental, mengurangi stres, bahkan memperpanjang harapan hidup.

Namun, sekuat apa pun sebuah hubungan, persahabatan tetap membutuhkan perhatian dan komitmen dari kedua belah pihak. Tidak sedikit hubungan yang awalnya sangat akrab justru berakhir renggang karena kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus dilakukan tanpa disadari.

Psikologi menjelaskan bahwa kerusakan hubungan sering kali bukan disebabkan oleh satu kesalahan besar, melainkan akumulasi perilaku negatif yang mengikis rasa percaya, rasa hormat, dan kedekatan emosional. Oleh karena itu, memahami perilaku apa saja yang perlu dihindari menjadi langkah penting agar persahabatan tetap harmonis dan bertahan lama.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (21/7), terdapat empat perilaku yang sebaiknya dihindari jika Anda tidak ingin persahabatan yang baik berubah menjadi buruk.

1. Terlalu Sering Menghakimi dan Mengkritik

Memberikan masukan kepada teman memang merupakan hal yang wajar. Namun, ada perbedaan besar antara memberi kritik yang membangun dengan terus-menerus menghakimi.

Dalam psikologi interpersonal, seseorang akan merasa aman ketika diterima apa adanya. Sebaliknya, jika setiap cerita yang disampaikan selalu dibalas dengan kritik atau penilaian negatif, lama-kelamaan ia akan merasa tidak nyaman untuk terbuka.

Contohnya, ketika teman bercerita tentang keputusan karier, hubungan asmara, atau masalah keluarga, respons seperti "Aku sudah bilang dari dulu," atau "Kamu memang selalu salah memilih," justru dapat melukai harga dirinya.

Kebiasaan ini membuat seseorang merasa tidak didukung, melainkan dihakimi. Akibatnya, ia mulai menjaga jarak dan memilih menyimpan masalahnya sendiri.

Sebaliknya, cobalah mendengarkan terlebih dahulu sebelum memberikan pendapat. Validasi perasaannya dan sampaikan masukan dengan bahasa yang lebih lembut sehingga ia merasa dihargai, bukan disalahkan.

2. Mengabaikan Kepercayaan dan Membocorkan Rahasia

Kepercayaan merupakan fondasi utama dalam setiap hubungan, termasuk persahabatan. Menurut psikologi sosial, rasa percaya terbentuk melalui konsistensi dan kemampuan seseorang menjaga komitmennya.

Ketika seorang teman mempercayakan cerita pribadi kepada Anda, ia sedang menunjukkan bahwa ia merasa aman bersama Anda. Namun, jika cerita tersebut justru disebarkan kepada orang lain tanpa izin, rasa percaya itu bisa hilang dalam sekejap.

Sering kali seseorang menganggap membocorkan rahasia sebagai hal sepele atau sekadar bahan obrolan. Padahal, bagi orang yang bersangkutan, tindakan tersebut dapat menjadi bentuk pengkhianatan.

Sekali kepercayaan rusak, hubungan biasanya akan sulit kembali seperti semula. Bahkan jika persahabatan tetap berlanjut, tingkat keterbukaan dan kenyamanan biasanya tidak lagi sama.

Karena itu, biasakan menghormati privasi teman. Jika memang ada hal yang perlu didiskusikan dengan orang lain, mintalah izin terlebih dahulu atau hilangkan informasi yang dapat mengungkap identitasnya.

3. Hanya Datang Saat Membutuhkan Bantuan

Persahabatan yang sehat dibangun atas dasar saling memberi dan menerima. Hubungan akan menjadi tidak seimbang ketika salah satu pihak hanya muncul saat membutuhkan bantuan, tetapi menghilang ketika temannya sedang membutuhkan dukungan.

Psikologi mengenal konsep reciprocity atau timbal balik dalam hubungan sosial. Manusia cenderung merasa puas ketika hubungan berjalan secara seimbang. Sebaliknya, hubungan yang hanya menguntungkan satu pihak akan memunculkan rasa lelah dan dimanfaatkan.

Misalnya, seseorang selalu menghubungi temannya ketika membutuhkan pinjaman uang, bantuan pekerjaan, atau menemani saat sedang sedih. Namun, ketika temannya mengalami kesulitan, ia sulit dihubungi atau selalu memiliki alasan untuk menghindar.

Lama-kelamaan, perilaku seperti ini membuat persahabatan terasa berat sebelah.

Untuk menjaga hubungan tetap sehat, tunjukkan perhatian meskipun tidak sedang membutuhkan sesuatu. Menanyakan kabar, memberikan dukungan saat teman menghadapi masalah, atau sekadar meluangkan waktu untuk bertemu dapat memperkuat ikatan emosional.

4. Kurang Menghargai Perasaan dan Batasan Teman

Setiap individu memiliki batasan pribadi yang berbeda. Ada yang nyaman berbagi semua hal, ada pula yang membutuhkan ruang pribadi.

Menurut psikologi, hubungan yang sehat selalu menghormati batasan (personal boundaries) masing-masing individu. Mengabaikan batasan tersebut dapat memicu konflik dan menimbulkan rasa tidak dihargai.

Perilaku seperti memaksa teman menceritakan masalahnya, bercanda berlebihan hingga mempermalukannya di depan orang lain, atau terus menghubungi ketika ia sudah mengatakan ingin sendiri merupakan contoh pelanggaran batasan pribadi.

Meskipun dilakukan tanpa niat buruk, tindakan seperti ini dapat membuat teman merasa tidak nyaman.

Menghargai batasan berarti memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan emosional yang berbeda. Berikan ruang ketika ia membutuhkannya dan jangan memaksa jika ia belum siap berbagi cerita.

Sikap saling menghormati akan membuat persahabatan terasa lebih aman dan nyaman bagi kedua belah pihak.

Penutup

Persahabatan yang langgeng tidak tercipta secara instan. Hubungan tersebut membutuhkan komunikasi yang baik, rasa saling percaya, empati, serta penghormatan terhadap perasaan masing-masing.

Menghindari perilaku seperti terlalu sering menghakimi, membocorkan rahasia, hanya datang saat membutuhkan bantuan, dan mengabaikan batasan pribadi dapat membantu menjaga hubungan tetap harmonis dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, psikologi mengajarkan bahwa kualitas persahabatan bukan ditentukan oleh seberapa sering bertemu, melainkan oleh bagaimana kedua pihak saling menghargai, mendukung, dan menjaga kepercayaan. Ketika setiap orang berusaha menjadi teman yang baik, persahabatan pun memiliki peluang lebih besar untuk tetap hangat, sehat, dan bertahan menghadapi berbagai perubahan kehidupan.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore