Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 10 Juli 2026 | 20.40 WIB

9 Tata Krama yang Dianggap Kuno, tetapi Diam-Diam Membedakan Orang-Orang yang Berperilaku Baik Menurut Psikologi

seseorang yang berperilaku baik / foto: Magnific/freepik

 

JawaPos.com - Di era serba cepat seperti sekarang, banyak aturan sopan santun mulai dianggap usang. Mengucapkan salam sebelum berbicara, meminta izin sebelum memotong pembicaraan, atau mengucapkan terima kasih secara tulus sering kali dipandang sebagai formalitas yang tidak lagi penting. Bahkan, sebagian orang menganggap tata krama hanyalah peninggalan zaman yang tidak relevan dengan kehidupan modern.

Namun, psikologi justru menunjukkan hal yang berbeda.

Berbagai penelitian tentang perilaku sosial mengungkap bahwa kebiasaan-kebiasaan sederhana yang mencerminkan tata krama memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang dipersepsikan. Orang yang menjaga etika dalam interaksi sehari-hari cenderung dianggap lebih dapat dipercaya, memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, serta mampu membangun hubungan yang lebih sehat dan langgeng.

Yang menarik, banyak dari perilaku tersebut tidak membutuhkan biaya, tidak memerlukan status sosial tertentu, bahkan bisa dilakukan siapa saja. Hanya saja, semakin sedikit orang yang melakukannya.

Dilansir dari Hack Spirit pada Jumat (10/7), terdapat sembilan tata krama yang mungkin terlihat kuno, tetapi diam-diam menjadi pembeda antara orang yang sekadar ramah dan mereka yang benar-benar memiliki karakter baik.

1. Mendengarkan Tanpa Terus-Menerus Menyela

Di zaman media sosial, semua orang ingin didengar. Akibatnya, banyak orang lebih sibuk menyiapkan jawaban daripada benar-benar mendengarkan lawan bicara.

Padahal, menurut psikologi komunikasi, mendengarkan secara aktif merupakan salah satu bentuk penghormatan paling mendasar kepada orang lain.

Ketika seseorang berbicara tanpa dipotong, ia merasa dihargai dan diterima. Sebaliknya, kebiasaan menyela membuat lawan bicara merasa pendapatnya kurang penting.

Orang yang berperilaku baik biasanya tidak terburu-buru memberikan solusi atau menceritakan pengalaman pribadinya. Mereka membiarkan orang lain menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu, lalu memberikan respons yang relevan.

Sikap sederhana ini menunjukkan kesabaran, empati, sekaligus kemampuan mengendalikan ego.

2. Mengucapkan "Tolong", "Maaf", dan "Terima Kasih" dengan Tulus

Tiga kata sederhana ini sering dianggap sepele karena terlalu sering digunakan. Namun justru di situlah letak nilainya.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa ungkapan penghargaan mampu memperkuat hubungan interpersonal dan meningkatkan rasa saling percaya.

Mengucapkan "tolong" menunjukkan rasa hormat terhadap waktu dan tenaga orang lain.

Mengatakan "maaf" memperlihatkan kerendahan hati untuk mengakui kesalahan.

Sementara "terima kasih" memberikan pengakuan bahwa bantuan sekecil apa pun layak diapresiasi.

Orang yang memiliki karakter baik tidak menggunakan kata-kata tersebut sebagai formalitas, melainkan sebagai kebiasaan yang muncul secara alami.

3. Tidak Bermain Ponsel Saat Orang Lain Sedang Berbicara

Saat ini, gangguan terbesar dalam komunikasi bukan lagi suara bising, melainkan layar ponsel.

Banyak orang merasa tetap mendengarkan meskipun mata mereka terus melihat notifikasi.

Padahal, penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian yang terbagi membuat kualitas percakapan menurun drastis.

Ketika seseorang meletakkan ponselnya dan memberikan kontak mata penuh, lawan bicara akan merasa dihargai.

Perilaku ini mungkin tampak sederhana, tetapi menunjukkan bahwa seseorang mampu hadir sepenuhnya dalam sebuah interaksi.

Itulah salah satu ciri orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi.

4. Menghormati Semua Orang, Bukan Hanya yang Menguntungkan

Salah satu indikator karakter yang paling mudah diamati adalah bagaimana seseorang memperlakukan orang yang tidak bisa memberinya keuntungan.

Misalnya kepada petugas kebersihan, satpam, pelayan restoran, sopir, atau pegawai layanan pelanggan.

Psikologi kepribadian menunjukkan bahwa konsistensi dalam memperlakukan semua orang dengan hormat mencerminkan integritas.

Orang yang benar-benar sopan tidak memilih-milih kepada siapa mereka bersikap baik.

Mereka memahami bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama, terlepas dari jabatan maupun status sosial.

5. Menepati Janji Sekecil Apa Pun

Banyak orang menganggap keterlambatan beberapa menit atau lupa membalas pesan bukan masalah besar.

Namun dari sudut pandang psikologi, konsistensi adalah fondasi utama kepercayaan.

Ketika seseorang mengatakan akan datang pukul delapan, lalu benar-benar datang sesuai waktu, ia sedang mengirimkan pesan bahwa kata-katanya dapat dipercaya.

Sebaliknya, kebiasaan mengingkari janji kecil lama-kelamaan merusak reputasi.

Orang yang berperilaku baik memahami bahwa kepercayaan dibangun dari tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.

6. Memberikan Kesempatan Orang Lain Berbicara

Percakapan yang sehat bukan kompetisi untuk menjadi yang paling menarik.

Sayangnya, banyak orang tanpa sadar selalu mengembalikan topik kepada dirinya sendiri.

Orang yang memiliki tata krama baik tahu kapan harus berbicara dan kapan memberi ruang.

Mereka mengajukan pertanyaan, mendengarkan jawaban, lalu menunjukkan ketertarikan yang tulus.

Menurut psikologi, perilaku ini meningkatkan kedekatan emosional karena setiap orang pada dasarnya ingin merasa didengar dan dipahami.

7. Menghargai Waktu Orang Lain

Datang tepat waktu merupakan bentuk penghormatan yang sering diremehkan.

Saat seseorang terlambat tanpa alasan yang jelas, sebenarnya ia sedang mengambil waktu milik orang lain.

Psikologi perilaku melihat ketepatan waktu sebagai indikator tanggung jawab dan kemampuan mengelola diri.

Orang yang disiplin terhadap waktu biasanya juga lebih konsisten dalam berbagai aspek kehidupan lainnya.

Karena itu, kebiasaan sederhana seperti memberi kabar jika terlambat atau menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat merupakan bentuk tata krama yang sangat berharga.

8. Tidak Mempermalukan Orang Lain di Depan Umum

Setiap orang pernah melakukan kesalahan.

Namun, orang yang berkarakter baik memahami bahwa mengoreksi seseorang tidak harus dilakukan di depan banyak orang.

Psikologi menunjukkan bahwa rasa malu yang muncul akibat dipermalukan di depan publik dapat meninggalkan dampak emosional yang cukup lama.

Karena itu, kritik yang disampaikan secara pribadi sering kali lebih efektif daripada mempermalukan seseorang di hadapan orang lain.

Tata krama ini menunjukkan empati sekaligus kemampuan menjaga harga diri sesama.

9. Mengakui Kesalahan Tanpa Mencari Alasan

Mengakui kesalahan memang tidak mudah.

Banyak orang memilih mencari pembenaran, menyalahkan keadaan, atau mengalihkan tanggung jawab.

Padahal, psikologi menunjukkan bahwa kemampuan mengakui kesalahan merupakan tanda kedewasaan emosional.

Orang yang berperilaku baik tidak merasa harga dirinya turun ketika meminta maaf.

Sebaliknya, mereka memahami bahwa kejujuran justru memperkuat kepercayaan orang lain.

Kalimat sederhana seperti, "Saya salah, dan saya akan memperbaikinya," sering kali jauh lebih dihargai daripada seribu alasan.

Penutup

Di tengah dunia yang semakin cepat dan serba instan, tata krama sering kali dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Padahal, dari sudut pandang psikologi, kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut justru menjadi penanda kualitas karakter seseorang.

Mendengarkan dengan penuh perhatian, menghargai waktu, memperlakukan semua orang dengan hormat, hingga berani mengakui kesalahan bukan sekadar aturan sopan santun. Semua itu mencerminkan empati, pengendalian diri, integritas, dan kecerdasan emosional—empat kualitas yang menjadi fondasi hubungan sosial yang sehat.

Pada akhirnya, perilaku baik tidak selalu terlihat dari pencapaian besar atau kata-kata yang indah. Justru kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari sering kali menjadi alasan mengapa seseorang dihormati, dipercaya, dan disukai oleh orang-orang di sekitarnya.

Mungkin tata krama ini memang terlihat kuno. Namun, nilainya tidak pernah benar-benar usang. Sebab, dunia selalu membutuhkan lebih banyak orang yang bukan hanya cerdas, tetapi juga tahu bagaimana memperlakukan sesama dengan penuh rasa hormat.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore