Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 29 Juni 2026 | 06.56 WIB

Bukan Karena Bosan, Ini Alasan Otak Kita Suka Nonton Ulang Acara Lawas

Ilustrasi otak manusia. (Dok. pngtree) - Image

Ilustrasi otak manusia. (Dok. pngtree)

JawaPos.com - Pilihan tontonan di layar kaca saat ini melimpah ruah berkat kehadiran berbagai platform digital yang menyediakan jutaan konten dari seluruh penjuru dunia. Namun, di tengah banjirnya serial baru yang segar dan menarik, jutaan orang justru memilih untuk memutar kembali tayangan lama yang sama secara berulang-ulang.

Para pakar psikologi mengungkapkan bahwa fenomena unik ini sama sekali bukan tanda kemunduran selera, melainkan respons alami otak manusia yang mencari kenyamanan emosional. Menonton ulang serial favorit seperti Friends, The Office, atau Breaking Bad ternyata menjadi mekanisme adaptasi bawah sadar untuk meredakan ketegangan di era modern yang penuh tekanan.

Dibalik kebiasaan yang terlihat sederhana ini, terdapat dinamika kognitif yang memengaruhi cara kerja otak kita. Dikutip dari Your Tango, berikut adalah empat alasan ilmiah mengapa platform streaming secanggih apa pun belum bisa mengalahkan daya tarik magis dari tontonan masa lalu Anda.

1. Pengaruh Kuat 'Efek Paparan Semata' pada Otak

Dunia psikologi mengenal sebuah konsep yang disebut mere exposure effect atau efek paparan semata, di mana manusia cenderung menyukai sesuatu hanya karena sudah familier dengannya. Konsep ini menjelaskan mengapa sebuah karya seni atau lagu yang awalnya biasa saja, perlahan berubah menjadi hal yang sangat kita cintai setelah dinikmati berulang kali.

Sebuah penelitian dari Universitas Chicago menemukan bahwa hal yang persis sama terjadi pada kebiasaan menonton televisi. Saat Anda menyaksikan kembali episode lama, otak Anda akan mulai menangkap nuansa visual atau lelucon baru yang sebelumnya terlewatkan.

Proses kognitif ini secara otomatis meningkatkan kepuasan dan rasa suka Anda terhadap serial tersebut. Menonton ulang akhirnya berubah menjadi sebuah refleks instan yang menenangkan, karena otak sudah tahu persis tingkat kepuasan yang akan didapatkan tanpa perlu menebak-nebak jalan cerita baru.

2. Sifat Terapi dari Bernostalgia

Nostalgia bukan sekadar emosi rindu masa lalu atau kesenangan sesaat yang tidak bermakna. Dalam dunia medis, ingatan masa lalu yang hangat memiliki fungsi terapeutik yang kuat untuk membantu menyembuhkan luka batin dan mengatasi kecemasan.

Bahkan, saat ini terdapat metode pengobatan klinis berbasis masa lalu yang disebut terapi reminisensi (reminiscence therapy). Metode ini terbukti efektif meningkatkan kesejahteraan emosional dan membantu proses perawatan pasien demensia.

Saat memutar kembali serial dari masa sekolah atau kuliah, Anda secara tidak sadar memicu mesin waktu di dalam kepala. Memori tentang masa-masa yang lebih aman dan terprediksi tersebut memberikan kehangatan instan yang sangat dibutuhkan di tengah situasi dunia saat ini yang sering kali memicu stres.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore