
seseorang yang membuat percakapan hanya berpusat pada dirinya sendiri / foto: Magnific/fatir29c
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua sikap arogan muncul dalam bentuk yang terang-terangan. Sebagian orang justru terlihat ramah, mudah berbicara, bahkan tampak antusias ketika berinteraksi. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, hampir setiap percakapan yang terjadi selalu berakhir dengan topik yang kembali kepada dirinya sendiri.
Psikologi menjelaskan bahwa kecenderungan untuk terus menjadikan diri sebagai pusat pembicaraan dapat berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan, keinginan mempertahankan citra diri, hingga rendahnya kemampuan mendengarkan secara empatik. Sikap ini sering dilakukan secara halus sehingga tidak selalu mudah dikenali.
Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (24/6), terdapat delapan cara yang sering dilakukan orang arogan untuk membuat percakapan hanya berpusat pada diri mereka sendiri.
1. Selalu Mengalihkan Topik ke Pengalaman Pribadinya
Pada dasarnya, berbagi pengalaman adalah hal yang wajar dalam sebuah percakapan. Namun, orang yang arogan cenderung menggunakan pengalaman orang lain hanya sebagai jembatan untuk kembali membahas dirinya sendiri.
Misalnya, ketika seseorang bercerita tentang pencapaian di tempat kerja, mereka langsung menyela dengan cerita tentang keberhasilan yang menurut mereka lebih besar. Akibatnya, perhatian yang seharusnya diberikan kepada lawan bicara justru berpindah sepenuhnya kepada mereka.
Dalam psikologi, perilaku ini menunjukkan rendahnya kemampuan untuk memberikan ruang kepada orang lain dan adanya kebutuhan kuat untuk mendapatkan validasi.
2. Mendengarkan Hanya untuk Menunggu Giliran Berbicara
Mereka tampak mendengarkan, mengangguk, bahkan memberikan respons singkat. Namun sebenarnya, fokus utama mereka bukan memahami isi pembicaraan, melainkan menunggu kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau kisah mereka sendiri.
Psikolog menyebut kemampuan mendengarkan yang sehat sebagai active listening, yaitu mendengarkan dengan tujuan memahami. Sebaliknya, orang yang terlalu berpusat pada diri sendiri lebih banyak melakukan waiting to talk, yakni mendengarkan hanya demi mendapatkan giliran berbicara.
Karena itu, percakapan dengan mereka sering terasa melelahkan dan tidak benar-benar memberikan ruang bagi orang lain untuk didengar.
3. Menjadikan Setiap Cerita Sebagai Ajang Kompetisi
Ketika orang lain menceritakan sesuatu, mereka merasa perlu menunjukkan bahwa pengalaman mereka lebih hebat, lebih sulit, atau lebih mengesankan.
Jika seseorang mengatakan bahwa dirinya sedang sibuk bekerja, mereka akan menjawab, "Kalau aku lebih parah lagi, hampir tidak punya waktu istirahat."
Jika ada teman yang bercerita tentang perjalanan liburannya, mereka segera membandingkan dengan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Persela Lamongan vs Deltras: Duel Sengit Dua Tim Teratas Grup B Championship
Prediksi Skor PSS Sleman vs PSM Makassar: Super Elang Jawa Berambisi Raih Kemenangan Pertama
Prediksi Skor Arema FC vs Bhayangkara FC: Berpeluang Imbang di Kanjuruhan
Prediksi Skor Feyenoord vs AZ Alkmaar: Sama-Sama Produktif, Laga Berpotensi Imbang
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Surabaya Panas! Keringat Penjahit, Kipas Angin Laris, dan Tagihan Listrik Bengkak
Prediksi Skor Barcelona vs Getafe di Liga Spanyol: Blaugrana Pesta Gol di Camp Nou
Prediksi Susunan Pemain Como vs AS Roma: Fabregas Siapkan Taktik Subbuteo
Prediksi Skor Racing Santander vs Valencia: Los Che Terdesak, Hasil Imbang Jadi Skenario Realistis
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Athletic Bilbao di Liga Spanyol: Emil Audero Incar Poin di Kandang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022