Logo JawaPos
Author avatar - Image
11 Maret 2026, 19.41 WIB

7 Perilaku Toxic yang Paling Sering Dilakukan oleh Orang Kelas Menengah Atas, Menurut Pandangan Psikologi

Ilustrasi orang kaya tapi toxic. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang kaya tapi toxic. (Freepik)


JawaPos.Com  - Kekayaan seringkali diidentikkan dengan kenyamanan hidup, kebebasan finansial, dan kesempatan menikmati hal-hal yang sulit dijangkau oleh kebanyakan orang.

Namun menurut pandangan psikologi sosial, keberlimpahan materi tidak selalu sejalan dengan sikap rendah hati.

Orang-orang di kelas menengah atas kadang terjebak dalam perilaku toxic yang justru membuat hubungan sosial renggang dan menimbulkan kesan arogan.

Perilaku ini sering muncul tanpa disadari, karena mereka merasa berada di “zona aman” khususnya dari segi finansial.

Dalam jangka panjang, kebiasaan seperti itu bisa menciptakan jarak dengan orang lain, bahkan menghambat kebahagiaan dan menimbulkan kerusakan.

Seperti dikutip dari Geediting, berikut ini adalah tujuh perilaku toxic yang paling sering dilakukan orang kelas menengah atas kepada orang disekitar mereka. 

1. Memperlakukan pekerja layanan seperti furnitur

Perhatikan orang kelas menengah atas ini saat di restoran, hotel, dimanapun ada staf, mereka tidak melakukan kontak mata dengan pelayan.

Orang-orang arogan, akan menyela percakapan untuk menuntut sesuatu tanpa diminta.

Mereka akan menghabiskan dua puluh menit untuk memarahi pekerja ritel atas kebijakan yang tidak dibuat oleh orang tersebut.

Manusia yang melayani mereka menjadi tidak terlihat, hanya fasilitas lain yang sudah termasuk dalam harga tiket masuk.

Dehumanisasi kasual ini bukan tentang kesibukan atau gangguan, melainkan tentang benar-benar tidak menganggap orang-orang tertentu sebagai manusia seutuhnya.

Mereka telah menginternalisasi hierarki di mana beberapa orang hanya ada untuk melayani kebutuhan mereka.

2. Membeli anak-anak mereka dari konsekuensi

Beberapa contoh kasus dari anak remaja orang kaya kelas menengah atas, menabrakkan mobil dalam keadaan mabuk.

Lalu, mereka akan membeli pengacara terbaik yang bisa membereskan masalah dengan uang.

Contoh kasus lain, mahasiswa menyontek saat ujian. namun Tiba-tiba universitas menerima sumbangan yang besar.

Atau anak mereka yang sudah dewasa menyerang seseorang. Dan, itu menjadi "kesalahpahaman" yang hilang dengan penyelesaian yang tepat.

Intinya, setiap kesalahan terhapus dengan uang, mengajarkan anak-anak mereka bahwa konsekuensinya adalah untuk orang lain.

Skandal penerimaan mahasiswa baru hanya mengejutkan karena visibilitasnya, bukan keberadaannya.

Orang tua kaya selalu membeli kesempatan kedua, kesempatan ketiga, kesempatan tak terbatas.

Mereka tidak mengajarkan ketahanan atau akuntabilitas, mereka menciptakan orang dewasa yang tidak pernah menghadapi konsekuensi nyata. Pesannya jelas: aturan hanyalah saran jika Anda mampu mengabaikannya.

3. Menjadikan filantropi sebagai senjata

Mereka berdonasi secara terbuka dan mencolok, nama mereka tertera di gedung-gedung dan acara-acara besar. Tapi lihat apa yang terjadi ketika keinginan mereka tidak terpenuhi.

Tiba-tiba donasi itu menjadi daya ungkit. Museum sebaiknya tidak mengkritik mereka.

Rumah sakit sebaiknya memberi mereka perlakuan khusus. Lembaga amal sebaiknya menutup mata terhadap praktik bisnis mereka.

"Kedermawanan" mereka selalu dibayangi oleh hal-hal yang mencekik. Filantropi transaksional ini bukan tentang membantu—melainkan tentang kendali.

Mereka tidak memberi kembali; mereka membeli kekebalan. Setiap donasi adalah investasi untuk reputasi mereka, perisai terhadap kritik, kartu bebas dari penjara untuk perilaku buruk di masa mendatang. 
 
Dan fakta mencengangkan lainnya yaitu, berbagai organisi  yang sangat membutuhkan dana, ikut bermain dalam sandiwara ini.

4. Menormalkan kecanduan kerja yang ekstrem

Mitos meritokrasi sangat tepat bagi mereka, mitos ini membenarkan posisi mereka sekaligus menyalahkan orang lain karena tidak mencapainya.

Mereka sungguh-sungguh percaya bahwa mereka telah meraih segalanya, dengan mudah melupakan dana perwalian, koneksi keluarga, dan jaring pengaman yang selalu melindungi mereka setiap kali jatuh.

Kisah sukses mereka selalu dimulai dari bab tiga, melewatkan bagian-bagian di mana mereka memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

Budaya kerja yang beracun ini berkedok "semangat" dan "dedikasi", tetapi sebenarnya bertujuan untuk mendapatkan nilai maksimal dari orang-orang yang tidak mampu menolak.

 Mereka bisa cuti setahun kapanpun mereka mau. Karyawan mereka tidak bisa mengambil cuti sakit.

Mereka bukan pekerja keras; mereka hanya punya kemewahan untuk memilih kelelahan mereka sendiri sambil memaksakannya kepada orang lain.

5. Menimbun sumber daya sambil menyebarkan mitos bootstrap

Orang kaya kelas menengah atas, sering kali berpangku tangan pada kekayaan turun-temurun sambil berceramah tentang kerja keras.

Mereka memulai dengan uang keluarga, tetapi mengajak orang lain untuk "berusaha keras".

Mereka diuntungkan oleh sistem yang dibangun orang tua mereka, sementara sistem yang sama juga dibongkar untuk orang lain.

Mereka menarik tangga di belakang mereka dan sekarang bertanya-tanya mengapa orang lain tidak bisa memanjat.

Mitos meritokrasi sangat tepat bagi mereka, mitos ini membenarkan posisi mereka sekaligus menyalahkan orang lain karena tidak mencapainya.

Mereka sungguh-sungguh percaya bahwa mereka telah meraih segalanya, dengan mudah melupakan dana perwalian, koneksi keluarga, dan jaring pengaman yang selalu melindungi mereka setiap kali jatuh.

Kisah sukses mereka selalu dimulai dari bab tiga, melewatkan bagian-bagian di mana mereka memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

6. Menghancurkan komunitas demi keuntungan

Mereka membeli lingkungan, merampas hak milik penduduk, dan menyebutnya "perbaikan".

Orang kaya yang toxic membeli bisnis lokal, membongkarnya, dan menyebutnya "efisiensi".

Selain itu, mereka memperlakukan komunitas seperti peluang investasi, tanpa mempertimbangkan manusia yang tinggal di sana.

Gentrifikasi bukanlah efek samping, melainkan tujuannya.

Penggusuran sistematis ini kemudian dilabeli ulang sebagai "pembangunan" dan "pembaharuan perkotaan".

Padahal, sebenarnya ini tentang mengekstraksi nilai dari komunitas yang tak akan pernah mereka ikuti.

Mereka akan membuka kedai kopi butik di tempat toko kelontong keluarga berdiri selama beberapa generasi, lalu bertanya-tanya mengapa penduduk setempat tampak tidak bersyukur atas "perbaikan" tersebut.

Tak sampai disitu saja, mereka pada kenyataanya tidak membangun komunitas; mereka justru menjajahnya.

7. Sistem permainan yang dimaksudkan untuk membantu semua orang

Orang kaya kelas menengah atas, sering kali memperlakukan tanggung jawab sipil seperti permainan untuk dimenangkan.

Mereka akan menggunakan sumber daya publik tanpa memberikan kontribusi apa pun. Mereka akan mengambil subsidi pemerintah untuk bisnis mereka sambil menentang program sosial.

Selain itu, mereka memprivatisasi keuntungan dan mensosialisasikan kerugian, selalu memastikan pihak lain menanggung risiko mereka.

Penghindaran pajak saja merugikan masyarakat miliaran dolar yang seharusnya bisa digunakan untuk membiayai sekolah, layanan kesehatan, dan infrastruktur.

Namun, mereka telah meyakinkan diri sendiri bahwa menahan uang dari pajak adalah tindakan cerdas, bukan egois.

Mereka diuntungkan oleh pekerja yang terdidik, jalan yang aman, sistem yang stabil, semua hal yang dibayar oleh pajak, sementara memastikan mereka tidak pernah membayar bagian mereka.

Padalah diketahui, tindakan ini bukan tindakan cerdas; melainkan parasit masyarakat kelas bawah.

***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore