Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 24 Juni 2026 | 01.16 WIB

Orang yang Merasa Risih dengan Obrolan Ringan Biasanya Memiliki 7 Ciri Ini Menurut Psikologi

seseorang yang risih dengan obrolan ringan / foto: Magnific/utaem2022 - Image

seseorang yang risih dengan obrolan ringan / foto: Magnific/utaem2022

JawaPos.com - Tidak semua orang menikmati percakapan ringan atau small talk. Bagi sebagian orang, membahas cuaca, menanyakan kabar sekadar basa-basi, atau berbicara tentang hal-hal yang dianggap tidak mendalam justru terasa melelahkan. Mereka sering kali dianggap pendiam, terlalu serius, atau sulit diajak bergaul. Padahal, psikologi menunjukkan bahwa ketidaksukaan terhadap obrolan ringan tidak selalu berarti seseorang antisosial.

Sebaliknya, orang-orang yang merasa risih dengan percakapan dangkal sering kali memiliki karakteristik tertentu yang cukup unik. Mereka lebih menghargai kualitas interaksi dibanding kuantitas, dan cenderung mencari hubungan yang lebih bermakna.

Dilansir dari expert Editor pada Senin (22/6), terdapat tujuh ciri langka yang sering dimiliki oleh orang yang tidak terlalu nyaman dengan obrolan ringan menurut sudut pandang psikologi.

1. Mereka Lebih Menyukai Percakapan yang Bermakna

Salah satu ciri paling menonjol adalah ketertarikan mereka pada topik yang lebih mendalam. Alih-alih membicarakan hal-hal yang bersifat permukaan, mereka lebih senang mendiskusikan pengalaman hidup, pemikiran, tujuan, atau bahkan pertanyaan-pertanyaan filosofis.

Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa percakapan yang lebih bermakna dapat meningkatkan rasa bahagia dan kepuasan dalam hubungan. Karena itu, orang seperti ini sering merasa bahwa obrolan ringan hanya menghabiskan energi tanpa memberikan koneksi yang nyata.

Bukan berarti mereka tidak ramah. Mereka hanya lebih menikmati interaksi yang memiliki nilai emosional dan intelektual.

2. Mereka Memiliki Tingkat Introspeksi yang Tinggi

Orang yang kurang nyaman dengan small talk biasanya menghabiskan banyak waktu untuk merenung dan memahami diri sendiri. Mereka terbiasa memikirkan perasaan, nilai hidup, dan berbagai hal yang terjadi di sekitarnya secara mendalam.

Kemampuan introspeksi yang tinggi membuat mereka lebih sadar akan makna dari setiap interaksi. Akibatnya, percakapan yang dianggap terlalu dangkal sering kali terasa kurang menarik bagi mereka.

Mereka cenderung lebih memilih beberapa hubungan dekat yang berkualitas dibanding memiliki banyak kenalan tanpa ikatan emosional yang kuat.

3. Mereka Sangat Peka terhadap Lingkungan dan Emosi Orang Lain

Psikologi mengenal istilah high sensitivity atau sensitivitas tinggi. Orang dengan karakteristik ini cenderung lebih mudah menangkap emosi, ekspresi, dan suasana di sekitarnya.

Karena kepekaan tersebut, percakapan yang penuh basa-basi terkadang terasa tidak tulus atau sekadar formalitas. Mereka lebih menghargai komunikasi yang jujur dan autentik.

Kepekaan ini juga membuat mereka menjadi pendengar yang baik. Mereka lebih suka mendengarkan cerita yang berarti daripada berbicara sekadar untuk mengisi keheningan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore