Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Juni 2026 | 02.45 WIB

Orang yang Tidak Banyak Berbagi Informasi Tentang Dirinya, Biasanya Hidup Berdasarkan 8 Aturan Tak Tertulis Ini Menurut Psikologi

seseorang yang tidak banyak berbagi informasi tentang dirinya / foto: Magnific/freepik - Image

seseorang yang tidak banyak berbagi informasi tentang dirinya / foto: Magnific/freepik

JawaPos.com - Di era ketika hampir setiap momen dapat dibagikan dalam hitungan detik, ada sebagian orang yang memilih jalan berbeda. Mereka tidak merasa perlu menceritakan seluruh isi hidupnya kepada orang lain. Bukan karena mereka tertutup, dingin, atau tidak ramah, melainkan karena mereka memiliki batasan yang jelas mengenai apa yang pantas diketahui orang lain dan apa yang sebaiknya disimpan untuk diri sendiri.

Dalam psikologi, kemampuan untuk menjaga privasi sering kali dikaitkan dengan kesadaran diri, kecerdasan emosional, serta kemampuan menetapkan batas yang sehat. Orang-orang seperti ini biasanya tidak mengikuti aturan tertulis, tetapi mereka hidup berdasarkan prinsip-prinsip tertentu yang secara tidak sadar membentuk cara mereka berinteraksi dengan dunia.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (7/6), terdapat delapan aturan tak tertulis yang umumnya dianut oleh orang yang tidak terlalu banyak berbagi informasi tentang dirinya.

1. Tidak Semua Orang Berhak Mengetahui Segalanya

Bagi mereka, kepercayaan adalah sesuatu yang dibangun, bukan diberikan secara otomatis.

Mereka memahami bahwa setiap hubungan memiliki tingkat kedekatan yang berbeda. Karena itu, mereka tidak merasa perlu membuka seluruh kisah hidupnya kepada setiap orang yang ditemui.

Menurut psikologi, individu yang memiliki batasan interpersonal yang sehat cenderung lebih selektif dalam membagikan informasi pribadi. Mereka memahami bahwa kedekatan emosional membutuhkan waktu dan konsistensi.

Bagi mereka, privasi bukanlah bentuk rahasia, melainkan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.

2. Mereka Lebih Suka Mendengarkan daripada Menjadi Pusat Perhatian

Orang yang tidak banyak membicarakan dirinya biasanya memiliki kemampuan mendengarkan yang baik.

Alih-alih mengarahkan percakapan kembali kepada dirinya, mereka lebih tertarik memahami pengalaman dan sudut pandang orang lain. Hal ini membuat mereka sering dianggap tenang, bijaksana, dan nyaman diajak berbicara.

Psikologi menunjukkan bahwa orang yang memiliki empati tinggi sering kali lebih fokus pada orang lain dibandingkan kebutuhan untuk terus menceritakan dirinya sendiri.

Mereka tidak merasa harus selalu menjadi tokoh utama dalam setiap percakapan.

3. Mereka Percaya Bahwa Kedamaian Lebih Penting daripada Validasi

Banyak orang membagikan pencapaian, masalah, atau kehidupan pribadinya demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore