Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Juni 2026 | 02.38 WIB

7 Ungkapan yang Hanya Digunakan oleh Pria yang Sangat Tidak Percaya Diri Menurut Psikologi

seseorang yang merasa tidak percaya diri / psikologi - Image

seseorang yang merasa tidak percaya diri / psikologi

JawaPos.com - Tidak semua pria yang tampak keras atau dominan sebenarnya memiliki rasa percaya diri yang kuat. Dalam psikologi, seseorang yang merasa identitas atau harga dirinya terancam sering kali menunjukkan respons defensif.

Hal ini juga berlaku pada sebagian pria yang memiliki konsep maskulinitas yang rapuh (fragile masculinity), yaitu ketika mereka merasa harus terus membuktikan bahwa dirinya “cukup jantan” di mata orang lain.

Alih-alih menunjukkan kepercayaan diri yang sehat, mereka justru menggunakan kata-kata tertentu untuk melindungi ego mereka. Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (7/6), terdapat tujuh ungkapan yang sering muncul ketika seorang pria sangat tidak percaya diri dan merasa maskulinitasnya sedang terancam.

1. "Pria sejati tidak melakukan hal seperti itu"

Ungkapan ini biasanya muncul ketika seseorang melihat pria lain melakukan sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan standar maskulinitas tradisional, seperti memasak, menunjukkan emosi, atau menikmati hobi tertentu.

Menurut psikologi, orang yang memiliki identitas diri yang kuat tidak merasa perlu menentukan siapa yang "cukup pria" dan siapa yang tidak. Sebaliknya, mereka yang tidak aman dengan identitasnya cenderung membuat batasan yang kaku agar merasa lebih unggul.

Pernyataan seperti ini sebenarnya lebih mencerminkan ketakutan pribadi daripada definisi tentang kejantanan itu sendiri.

2. "Aku hanya bercanda, jangan terlalu sensitif"

Ketika komentar yang merendahkan atau seksis dipermasalahkan, sebagian pria akan menggunakan kalimat ini sebagai tameng.

Psikolog menyebutnya sebagai bentuk mekanisme pertahanan. Dengan mengklaim bahwa semuanya hanyalah candaan, mereka menghindari tanggung jawab atas perkataan mereka dan berusaha membuat orang lain terlihat berlebihan.

Orang yang percaya diri umumnya mampu menerima kritik dan mengakui kesalahan tanpa merasa harga dirinya runtuh.

3. "Aku tidak butuh bantuan siapa pun"

Kemandirian memang merupakan kualitas positif. Namun, ketika seseorang menolak semua bentuk bantuan hanya demi terlihat kuat, hal itu bisa menjadi tanda rasa tidak aman.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa pria yang menganggap meminta bantuan sebagai kelemahan lebih rentan mengalami stres dan kesulitan mengelola emosi.

Kepercayaan diri sejati justru memungkinkan seseorang untuk mengakui bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

4. "Perempuan memang tidak mengerti"

Generalisasi seperti ini sering kali muncul ketika seorang pria merasa pendapat atau posisinya sedang dipertanyakan oleh perempuan.

Daripada melihat perbedaan pendapat sebagai sesuatu yang normal, ia memilih meremehkan lawan bicara berdasarkan gender. Dalam psikologi, respons semacam ini dapat muncul dari rasa terancam terhadap status atau otoritas yang selama ini dianggap sebagai bagian dari identitas maskulin.

Pria yang memiliki rasa percaya diri sehat tidak perlu merendahkan orang lain untuk mempertahankan harga dirinya.

5. "Aku harus selalu jadi yang paling kuat"

Bagi sebagian pria, menunjukkan kerentanan dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. Mereka merasa harus selalu terlihat tangguh, tidak boleh sedih, dan tidak boleh gagal.

Padahal, psikologi modern menekankan bahwa kemampuan mengakui kelemahan dan mengekspresikan emosi merupakan tanda kematangan emosional, bukan kelemahan.

Ketika seseorang terus memaksakan citra "tak terkalahkan", sering kali ada rasa takut mendalam bahwa dirinya akan dianggap tidak cukup baik.

6. "Pria lain itu terlalu lembek"

Menghina pria lain karena dianggap terlalu emosional, terlalu lembut, atau tidak sesuai dengan standar tertentu juga dapat menjadi tanda maskulinitas yang rapuh.

Fenomena ini sering disebut sebagai "maskulinitas defensif", yaitu kebutuhan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain agar merasa lebih superior.

Ironisnya, pria yang benar-benar percaya diri tidak merasa terancam oleh cara hidup orang lain yang berbeda dari dirinya.

7. "Aku harus membuktikan bahwa aku lebih hebat"

Dorongan untuk berkembang dan berprestasi adalah hal yang positif. Namun, ketika kebutuhan untuk selalu membuktikan diri berasal dari rasa takut dianggap lemah, motivasi tersebut bisa berubah menjadi beban.

Pria yang merasa maskulinitasnya terancam sering kali terobsesi dengan status, pengakuan, atau dominasi atas orang lain. Mereka mengukur nilai dirinya berdasarkan perbandingan eksternal, bukan dari penerimaan terhadap diri sendiri.

Akibatnya, mereka sulit merasa puas dan terus hidup dalam tekanan untuk mempertahankan citra tertentu.

Maskulinitas yang Sehat Tidak Perlu Dibuktikan Terus-Menerus

Psikologi menunjukkan bahwa kepercayaan diri yang sehat tidak ditandai oleh kebutuhan untuk mendominasi, meremehkan orang lain, atau selalu terlihat kuat. Sebaliknya, pria yang benar-benar nyaman dengan dirinya mampu menerima kritik, menunjukkan emosi, meminta bantuan ketika diperlukan, dan menghargai perbedaan tanpa merasa terancam.

Pada akhirnya, maskulinitas yang kuat bukanlah tentang siapa yang paling keras, paling dominan, atau paling sering membuktikan diri. Maskulinitas yang matang justru tercermin dari kemampuan seseorang untuk merasa aman dengan identitasnya sendiri—tanpa harus menjatuhkan orang lain demi merasa lebih berharga.***
Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore